SEKITARKITA.id – Deru alat berat di bantaran Danau Situ Ciburuy, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi suara yang memecah hati.
Satu per satu rumah reyot bakal diratakan dan ada juga sebagian yang sudah diratakan menyisakan debu dan puing-puing yang bercampur dengan air mata para penghuninya.
Pembongkaran rumah demi proyek revitalisasi Situ Ciburuy yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) pada Kamis (18/09/2025) menyisakan duka mendalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka yang terusir bukan sekadar pemilik rumah liar, tetapi manusia yang bertahun-tahun hidup di tepian danau, sebagian besar lansia dan penyandang disabilitas.
Di antara yang paling menderita adalah Nyi Wartisah (93), seorang jompo dengan tubuh ringkih Asiyah (54) yang sehari-harinya bergantung pada belas kasihan tetangga serta pasangan tunanetra, Imat Rohimat (65) dan istrinya Ani Cahyani (55)
Mereka tinggal dirumah permanen dengan ukuran minimalis di kampung Ciburuy, RT01/RW05, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang.
Imat hanya bisa meraba puing bekas rumahnya, sementara Ani menangis di sisinya.
“Kami enggak tahu lagi mau ke mana. Rumah sudah dibongkar, kami cuma minta pemerintah kasih jalan supaya kami bisa hidup tenang, jangan sampai kami tidur di jalan,” lirih Nyi Wartisah dengan suara bergetar saat ditemui sekitarkita.id, Jumat 19 September 2025.
Di tepi danau, lansia lain duduk di atas tumpukan kayu bekas rumah. Mereka hanya bisa menatap kosong ke arah air yang memantulkan bayangan suram. Beberapa sudah tidak sanggup berjalan jauh, bahkan untuk sekadar mencari tempat berteduh.
Asiyah menuturkan, sebelum rumahnya rata dengan tanah, ia harus meminta tetangga menuntun Imat keluar.
“Kami sudah lama di sini. Kami tahu ini tanah negara, tapi kami enggak punya pilihan. Kami cuma ingin diberi waktu dan tempat tinggal sementara,” ujarnya dengan nada parau.
Warga RW05, Abah Kiki, dengan nada getir menilai pemerintah tidak adil.
“Kenapa bongkar sebagian saja? Harusnya semua dibongkar, jangan ada timbang pilih. Dari depan sampai ke belakang itu harus sama, jangan masyarakat kecil yang jadi korban duluan,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi warga miskin, terutama lansia dan tunanetra, yang paling menderita akibat proyek ini.
“Harusnya mereka dipindahkan dulu, dikontrakkan dulu, baru bangunan dibongkar. Jangan didorong begitu saja sampai roboh kena keluarga,” tambahnya.
Mayoritas warga bantaran danau hanyalah pekerja serabutan, pemelihara ikan, atau buruh harian. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan, dan kini benar-benar kehilangan atap untuk berteduh.
Proyek revitalisasi Situ Ciburuy digadang sebagai simbol kemajuan Jawa Barat. Pemprov Jabar berencana menjadikan danau ini sebagai kawasan wisata terpadu dengan jalur pedestrian, taman tematik, dan area kuliner.
Selain itu, revitalisasi juga ditujukan untuk mengembalikan fungsi situ sebagai penampung air guna mencegah banjir.
Namun, keberhasilan sejati hanya akan tercapai jika tidak ada satu pun warga yang ditinggalkan dalam kesusahan. “Kalau ada yang sehat mungkin bisa cari solusi sendiri. Tapi bagaimana nasib Nyi Wartisah, Pak Imat, dan lansia lain?” pungkas Abah Kiki.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jawa Barat, Ninda Agustina Tri Daryani, menjelaskan bahwa tanah di bantaran danau adalah aset negara. Bangunan yang berdiri tanpa izin harus ditertibkan.
“Sebelumnya itu tidak ada izin. Itu yang utama. Fungsi kawasan ini untuk wisata dan penampungan air. Jadi kami kembalikan sesuai fungsinya. Kami tidak bisa menjanjikan ganti rugi, karena itu bukan hak mereka,” tegas Ninda.
Meski begitu, ia menyebut aspirasi warga akan diteruskan kepada Gubernur Jawa Barat. Pemerintah daerah diharapkan bisa memberikan bantuan melalui Dinas Sosial atau Dinas Perumahan Rakyat.
Sementara itu, Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, menegaskan masyarakat sebenarnya tidak menolak pembangunan. Namun ia meminta Pemprov Jabar lebih bijak.
“Warga sadar rumah itu bukan milik mereka. Tapi mereka juga manusia. Ada lansia, ada tunanetra. Jangan hanya teknis yang dipikirkan, pikirkan juga hati dan hidup mereka,” ujarnya.
Kini, pembongkaran rumah di bantaran Situ Ciburuy bukan hanya cerita tentang proyek pembangunan. Ia menjadi potret tentang janji wisata yang meninggalkan luka sosial, terutama bagi mereka yang paling rapuh para lansia dan penyandang disabilitas.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








