Opini: Manggarai Masih Jauh dari Siap Lawan Rabies

- Penulis

Kamis, 4 Desember 2025 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Aldo Corason

Lulusan ITFK Ledalero Maumere, Nusa Tenggara Timur

AdinJavaDalam perjalanan percepatan pembangunan infrastruktur dan semangat pemerintah daerah dalam memperindah tampilan kota Ruteng, satu ancaman diam terus menyebar rasa takut: rabies.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyakit ini tidak hanya menyerang tubuh manusia, namun juga menggores sisi kemanusiaan kita — mengungkap kelemahan sistem kesehatan masyarakat serta ketidaktahuan bersama terhadap ancaman yang melacak di sekitar kita.

Manggarai kini diuji: seberapa jauh nilai-nilai gotong royong dan solidaritas yang sepanjang ini dijagai, mampu diwujudkan dalam tindakan nyata untuk melindungi sesama dari ancaman penyakit mematikan ini.

Peningkatan Kasus yang Tidak Terkendali Lonjakan Kasus yang Tidak Bisa Dikendalikan Pertambahan Kasus yang Tak Terbatas Lonjakan Jumlah Kasus yang Tidak Terkendali Naiknya Angka Kasus yang Tidak Terbendung Peningkatan Kasus yang Tidak Terkendali Lonjakan Kasus yang Tidak Dapat Diatasi Kenaikan Kasus yang Tidak Terkendali Lonjakan Jumlah Kasus yang Tidak Terkendali Peningkatan Kasus yang Tidak Bisa Dihentikan

Information Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menyampaikan fakta yang mengejutkan: pada tahun 2023 terdapat 1.777 laporan kasus gigitan hewan yang bisa menularkan rabies (HPR), di mana tiga orang penderita wafat.

Setahun berikutnya, jumlah kasus naik menjadi 1.891, dengan dua penderita jiwa.

Sampai pertengahan tahun 2025, tercatat lebih dari 1.300 kasus gigitan yang memperlihatkan bahwa rantai penyebaran masih berlangsung aktif dan sulit untuk dikendalikan.

Peningkatan jumlah kasus ini mengindikasikan kegagalan dalam memutus rantai penyebaran penyakit di tingkat masyarakat bawah.

Andai di sebuah desa telah terjadi kasus gigitan anjing rabies, maka penanganan tidak cukup hanya dengan memberikan vaksin kepada penderita.

Diperlukan tindakan cepat berupa isolasi hewan, pemeriksaan anjing liar, serta penyelidikan kasus agar memastikan virus tidak menyebar ke desa lain.

Mencapai sementara waktu, sistem respons cepat semacam itu belum terlihat kuat di Manggarai.

Vaksin Cukup, Tetapi Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menjamin bahwa persediaan vaksin anti-rabies mencukupi, yaitu sebanyak 6.650 vial untuk manusia dan 20.000 dosis untuk hewan peliharaan. Dari segi administrasi, hal ini merupakan kemajuan yang signifikan.

Baca Juga:  Immortalis-G925 baru dari ARM lebih cepat juga lebih efisien, Mali-G725 juga G625 serta diluncurkan

Tetapi, yang menarik, ketersediaan vaksin tidak sejalan dengan efektivitas pencegahan.

Sejumlah besar penduduk tidak mengetahui cara mengatasi gigitan anjing, bahkan masih yakin pada metode tradisional seperti mengoleskan minyak kelapa, abu dapur, atau air panas ke luka akibat gigitan.

Praktik seperti ini meningkatkan risiko dan memperlihatkan bahwa pendidikan masyarakat masih jauh tertinggal dibanding dengan ketersediaan logistik medis.

Kesadaran masyarakat untuk membawa hewan ke tempat vaksinasi sangat rendah.

Sejumlah besar warga yang menganggap vaksinasi hewan sebagai hal yang sia-sia, atau “tidak penting” sebab anjing mereka terlihat ramah.

Meski demikian demikian, information memperlihatkan bahwa anjing yang santai pun bisa menjadi pembawa virus rabies tanpa memperlihatkan gejala awal.

Di sinilah peran penting pendekatan sosial-budaya: pemerintah harus segera bekerja sama dengan tokoh adat, pemimpin agama, dan generasi muda sebagai pelaku perubahan.

Kampanye vaksinasi akan lebih efisien andai dilakukan melalui upacara adat, ceramah gereja, atau rutinitas sekolah, bukan hanya melalui spanduk di tepi jalan.

Selain itu, tersedia fasilitas vaksin, tetapi penyebarannya terus menerus kali tidak merata.

Warga di wilayah pedalaman seperti Rahong Utara atau Satarmese terus menerus melakukan antar-jemput jauh hanya untuk menerima suntikan pertama.

Saat akses sulit, mereka cenderung menunda — dan di sanalah nyawa terancam.

Untuk itu, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan program vaksinasi berkeliling yang sampai daerah terpencil, dengan sistem pengambilan langsung, bukan hanya menunggu masyarakat datang sendiri.

Sosialisasi Tanpa Realisasi

Penyuluhan pencegahan rabies memang dilakukan secara rutin. Tetapi, dalam dengan jumlah besar kasus, rutinitas ini hanya bersifat simbolis: ada spanduk, rapat singkat, foto bersama, lalu selesai. Tak ada penilaian, tak ada tindak lanjut.

Baca Juga:  Serbuk Diduga Bahan Peledak Diamankan dari Rumah FN Usai Ledakan di SMAN 72

Meski demikian, pencegahan rabies memerlukan strategi lintas sektor yang jelas dan terencana, melibatkan Dinas Kesehatan, Peternakan, Pemerintah Desa, mencapai lembaga pendidikan.

Sebagai contoh, program vaksinasi hewan peliharaan bisa dijadikan sebagai syarat administratif desa, seperti dalam pengajuan surat keterangan usaha atau dokumen kependudukan, agar masyarakat mempunyai motivasi nyata untuk memberikan vaksin kepada hewannya.

Selain itu, Manggarai membutuhkan sistem pengaduan berbasis virtual di tingkat desa.

Setiap kali terjadi kasus gigitan, petugas desa bisa langsung memasukkan information ke sistem kabupaten, dengan begitu tindakan cepat bisa dilakukan dalam hitungan jam, bukan hari.

Dalam perjalanan dunia yang berkembang pesat, pengelolaan handbook sudah tidak cukup lagi. Digitalisasi pengawasan HPR harus segera menjadi fokus utama.

Sosialisasi yang berhasil ialah yang menghasilkan perubahan tindakan, bukan hanya kesadaran.

Dan perubahan hanya terjadi apabila masyarakat merasa ancaman rabies mengganggu kehidupan mereka secara langsung, bukan sekadar isu yang disajikan media.

Rabies: Masalah Kemanusiaan, Bukan Hanya Permasalahan Kesehatan Hewan

Penyakit rabies bukan hanya masalah medis, namun juga merupakan ujian bagi tanggung jawab sosial kita: seberapa besar kita memperhatikan keselamatan tetangga dan lingkungan sekitar.

Setiap kematian akibat gigitan anjing rabies pada nyatanya bisa dihindari. Untuk itu, setiap penderita merupakan kegagalan bersama antara pemerintah yang lambat bertindak dan masyarakat yang tidak waspadai.

Di Kabupaten Manggarai, anjing tidak hanya dianggap hal itu sebagai hewan peliharaan. Mereka merupakan bagian dari tradisi dan identifikasi setempat.

Dalam kebiasaan masyarakat, anjing memainkan peran penting sebagai penjaga rumah, pengungkap standing sosial, bahkan menjadi lambang kesetiaan.

Untuk itu, pendekatan penangangan rabies tidak bisa hanya mengandalkan aturan pemerintah. Perlu adanya penyesuaian antara tradisi dan sains, antara nilai tradisional dan kesadaran trendy.

Pemerintah bisa berkolaborasi dengan tokoh adat dalam mengembangkan upacara vaksinasi tradisional, di mana penyuntikan hewan dilengkapi dengan doa adat agar diterima secara sosial dan religious.

Baca Juga:  Samsung Exynos 1580 muncul di Geekbench, akan menyamai flagship 2021

Selain itu, gereja dan komunitas iman di Manggarai mempunyai peran penting. Mimbar gereja dapat menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat.

Bayangkan andai setiap ibadah mingguan diisi dengan lima menit pesan kesehatan mengenai rabies, dampaknya akan lebih besar sekali dibandingkan brosur birokrasi.

Dalam perjalanan tradisi Manggarai yang penuh keyakinan, iman dan pengetahuan perlu berjalan bersama dalam menghadapi penyakit rabies.

Menutup Celah Sebelum Terlambat

Penyakit rabies bisa dicegah sepenuhnya, tetapi juga berpotensi mematikan 100 persen andai tidak ditangani. Untuk itu, Manggarai tidak boleh lagi mengabaikan waktu.

Pemerintah daerah sebaiknya menetapkan standing darurat rabies secara terbatas, bukan untuk membuat masyarakat takut, namun agar semua sumber daya bisa dialokasikan dengan cepat dan tepat.

Tindakan nyata bisa berawal dari hal-hal kecil tetapi penting secara strategis:

• Pengaturan hewan peliharaan yang berkeliaran di jalanan desa.

• Vaksinasi besar-besaran untuk hewan peliharaan.

• Partisipasi sekolah sebagai pusat pembelajaran tentang rabies.

• Program “satu rumah, satu hewan yang divaksin” yang diawasi oleh petugas desa.

Disisi berbeda, masyarakat perlu mulai menciptakan tradisi baru dalam merawat hewan, bukan hanya sekadar mempunyai, namun juga bertanggung jawab.

Anjing dan kucing tidak hanya berperan sebagai penjaga rumah, namun juga merupakan bagian dari sistem sosial yang memerlukan perlindungan dan pengawasan.

Dalam hal apa pun, wabah rabies di Manggarai perlu menjadi momen untuk berpikir bersama: kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya jalan yang mulus atau taman yang indah, namun rasa aman dan sehat bagi setiap penduduk.

Andai virus rabies masih menyebar di sekitar kita, maka pembangunan belum sempurna. Kini saatnya Manggarai bertindak, bukan hanya dengan ucapan, namun dengan tindakan nyata.

Sebab, andai kita menunda hari ini, besok mungkin saja giliran kita yang kalah oleh waktu. (*)

Ikuti terus berita AdinJavadi di Google News



Berita Terkait

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025
Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi
Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?
Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?
Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ban Lebih Lebar: Manfaat dan Risikonya
Jawa Timur Juara Nusantaraya di ICCF 2025, Buktikan Kepemimpinan Ekonomi Kreatif Nasional
Andai Tidak Dapat Lakukan 8 Hal Ini, Anda Mungkin saja Tua Lebih Cepat, Tutur Psikologi

Berita Terkait

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:59 WIB

10 Lodge Terbaik Dekat Danau Toba untuk Liburan Santai 2025

Rabu, 10 Desember 2025 - 23:14 WIB

Orang Tunggu Sendiri Patuh 8 Aturan Kuat Ini, Menurut Psikologi

Rabu, 10 Desember 2025 - 21:44 WIB

Daftar 8 Tim Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia U17 2025, Apakah Timnas Indonesia Dapat Ikut?

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:59 WIB

Mengapa Fairing Motor Sport 150 Kini Menghilang dari Showroom?

Rabu, 10 Desember 2025 - 19:29 WIB

Kucing Dapat Alami Demensia! 8 Tanda yang Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru

Ilustrasi pengamen cosplay pocong (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat

Polisi Bongkar Video Pocong Viral di Bandung Barat, 5 Pemuda Diamankan

Selasa, 26 Mei 2026 - 14:59 WIB