JAKARTA, AdinJavaPerayaan Hari Guru Nasional diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 25 November. Tujuannya adalah untuk mengenang dan menghargai peran serta jasa para pendidik yang telah berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan bangsa.
Sejarah mencatat bahwa beberapa tokoh nasional yang berpengaruh dalam dunia pendidikan juga turut serta berjuang demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Pengabdian mereka tidak hanya terlihat dalam bidang pengajaran, namun juga dalam perjuangan untuk menegakkan keadilan dan memperluas kesempatan pendidikan bagi seluruh rakyat.
Beberapa dari mereka bahkan memperoleh penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Berdasarkan laman Kemendikbud, berikut ini daftar tokoh guru yang diakui sebagai Pahlawan Nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh yang mengumumkan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Semangatnya sebagai seorang pendidik mendorong dirinya untuk mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922.
Ia berjuang untuk hak pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya suku asli. Pada masa itu, pendidikan hanya ditujukan bagi kalangan bangsawan dan penjajah Belanda.
Tidak hanya memulai pendidikan, Ki Hajar Dewantara secara aktif menentang Undang-undang Sekolah Liar atau Wilde Scholen Ordonnantie pada tahun 1932. Kemampuannya dalam bidang pendidikan membawanya ke berbagai posisi penting dalam pemerintahan.
Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1950. Selain itu, ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1959.
Sebab jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menobatkan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1959.
2. KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan Islam di Nusantara. Ia mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 dengan maksud untuk menyegarkan sistem pendidikan Islam dengan menerapkan metode yang lebih maju.
Melalui organisasi Muhammadiyah, ia mendirikan sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan fashionable sekaligus agama secara seimbang. Selain itu, Ahmad Dahlan aktif dalam mengajar agama di kalangan priyayi sebagai anggota Boedi Oetomo.
Ahmad Dahlan menginspirasi kesadaran masyarakat mengenai nasib mereka sebagai bangsa yang tertindas dan tertinggal dalam berbagai aspek. Mencapai sementara itu, organisasinya tetap berkomitmen untuk berkembang, membangkitkan pemikiran, dan memberikan pencerahan bagi bangsa melalui berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Sebab jasanya, Ahmad Dahlan diberi gelar Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 657.
3. Jenderal Soedirman
Sebelum menjabat sebagai Panglima TNI, Jenderal Soedirman pernah mengikuti pendidikan keguruan. Tetapi, ia berhenti pada tahun 1936 dan mulai bekerja sebagai guru. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai kepala sekolah.
Ia tercatat sebagai guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah dan dikenal dengan pendekatan pengajaran yang berlandaskan nilai ethical. Soedirman tetap menjalankan tugas mengajarnya setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942.
Kemudian pada tahun 1944, Soedirman memperkuat pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang didukung oleh Jepang. Selanjutnya, ia mengikuti Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian ditunjuk sebagai Komandan TNI atau BKR pertama oleh Presiden Soekarno pada tanggal 27 Juni 1947 di Yogyakarta.
Dengan strategi perang gerilya, Soedirman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 Desember 1964.
4. Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika merupakan pelopor pendidikan bagi perempuan pribumi di Indonesia. Pada tanggal 16 Januari 1904, ia mendirikan Sekolah Istri di Bandung.
Sekolah ini menyediakan pendidikan dasar untuk perempuan asli. Sekolah tersebut terus berkembang dan berubah nama menjadi Sekolah Raden Dewi pada tahun 1929.
Mata pelajaran yang diajarkan meliputi dasar-dasar perhitungan, menulis, membaca, memasak, menyetrika, mencuci, membatik, serta merawat pasien. Pada tahun 1908, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduran Agah Suriawinata, seorang guru di Sekolah Karang Pamulang.
Pasangan suami-istri ini berjuang untuk meningkatkan pendidikan bagi perempuan. Upaya mereka dalam meningkatkan pendidikan wanita setempat mengantarkan Dewi Sartika menerima gelar Pahlawan Nasional sesuai dengan SK Presiden RI No. 252 Tahun 1966.
5. Raden Ajeng Kartini
Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan wanita. Meski demikian menghadapi keterbatasan dari budaya yang mengikatnya, Kartini tetap antusias dalam menyebarkan pengetahuan.
Melalui surat-suratnya, Kartini mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi perempuan serta kesetaraan hak. Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan bupati Rembang pada masa itu.
Setelah menikah, Kartini tetap mempertahankan semangatnya sebagai seorang guru. Suaminya memberi dukungan keinginan Kartini dan memberikan kebebasan baginya untuk membuka sekolah perempuan di Rembang. Berkat dedikasinya yang tinggi, Kartini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1964.
6. K.H. Hasyim Asy’ari
Hasyim Asy’ari merupakan tokoh ulama dan pahlawan nasional yang lahir pada tanggal 14 Februari 1871. Ia adalah pendiri salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
Ia sangat memperhatikan pendidikan, khususnya pendidikan bagi umat Islam. Setelah mengakhiri studinya di Makkah pada tahun 1899, ia mendirikan pesantren Tebu Ireng yang menjadi pesantren terbesar dan paling penting di Pulau Jawa pada abad ke-20.
7. Rohana Kudus
Tokoh nasional Rohana Kudus bukan hanya seorang wartawan perempuan yang berkompeten. Rohana Kudus mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada tahun 1911.
Sekolah keahlian khusus ini ditujukan bagi wanita. Mereka diajarkan membaca dan menulis, mengelola keuangan, pendidikan agama, akhlak, serta bahasa Belanda.







