SEKITARKITA.id – Warga mengeluhkan tumpukan sampah menggunung yang menimbulkan bau tidak sedap di Kampung Tanjakan Mama Utara, RW01, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Selasa (12/5/2026).
Kondisi sampah yang menumpuk selama hampir satu bulan itu memicu keresahan warga sekitar. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, bau menyengat dari sampah dan belatung juga dinilai mencemari lingkungan sekitar.
Ketua RT02, Rahmat, mengatakan persoalan tumpukan sampah tersebut sudah terjadi sejak April 2026 lalu dan hingga kini belum juga mendapat penanganan maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Udah hampir sebulan kondisi ini terjadi. Warga sudah mengeluh karena tumpukan sampah ini mengganggu aktivitas warga sekitar,” kata Rahmat kepada redaksi Sekitarkita.id.
Menurutnya, sampah tersebut berasal dari warga sekitar yang dikumpulkan setiap hari di lokasi tersebut. Namun, pengangkutan oleh petugas disebut mengalami keterlambatan sehingga sampah terus menggunung.
“Itu sampah warga yang biasanya langsung diangkut oleh petugas. Saya juga tidak tahu alasan sampai terlambat diangkut. Kalau retribusi sampah, warga rutin bayar seminggu sekali,” ujarnya.
Ironisnya, lokasi tumpukan sampah berada tidak jauh dari kantor Desa Sukatani yang mengarah ke kantor Kecamatan Ngamprah. Kondisi tersebut memunculkan sorotan dari masyarakat karena dinilai dibiarkan terlalu lama.
“Padahal dekat kantor Desa Sukatani yang menuju kantor Kecamatan Ngamprah. Perangkat desa maupun kecamatan sering melintas setiap hari, pasti lihat kondisi ini,” jelasnya.
Tak hanya itu, tumpukan sampah juga berada tepat di dekat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Warga menilai kondisi tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan kebersihan lingkungan sekitar dapur.
“Semua terganggu, apalagi dapur MBG persis di sampingnya. Dampaknya makan juga jadi enggak selera karena bau menyengat,” katanya.
Sementara itu, Amir (50) warga sekitar mengatakan, pihaknya kerap mendapati warga lain membuang sampah dilokasi.
“Kalau disini sampah warga RW01 dari tiga RT yakni RT1,2,3, semenjak sampah enggak di angkut hampir sebulan, warga lain atau pengendara motor pada buang sampah disini (ilegal),” ujarnya.
Biasanya, kata dia, petugas UPT Kebersihan KBB rutin menarik sampah seminggu sekali setiap hari Rabu, namun entah mengapa ada keterlambatan hingga satu bulan.
“Biasanya hari Rabu, nah besok ketemu Rabu lagi kalau enggak segera di angkut bakal jadi manjang tumpukannya, saya khawatir karena lokasi ada di atas jembatan tol, kalau pihak jasa marga tau kondisi kotor kayak gini takut ajawabya ditutup,” jelasnya.
“Jadi ini sampah warga RW01 yang di kumpulkan, nah biasanya petugas narik sampah dari atas (Ngamprah) dan ini titik terakhir, kalau retribusi warga lancar saya pribadi setiap bulan bayar Rp50 ribu,” terang Amir.
Keluhan juga datang dari pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Salah seorang pengendara motor asal Padalarang, Salsa (27), mengaku prihatin melihat kondisi sampah yang menumpuk di dekat fasilitas pemerintahan.
“Tadi saya melintas lewat jembatan, baunya menyengat pisan kang. Ganggu pemandangan juga, kurang elok karena dekat kantor desa apalagi kantor kecamatan,” kata Salsa.
Ia berharap dinas terkait segera turun tangan untuk mengatasi persoalan sampah tersebut agar tidak semakin mengganggu masyarakat dan pengguna jalan.
“Harapan saya segera diangkut. Dinas terkait harus cepat respons,” tandasnya.
Terpisah, Kepala UPT Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, Imam Fauzi mengatakan, usai menerima laporan warga, pihaknya langsung mengirimkan petugas kelokasi .
“Rencananya hari ini petugas langsung ke lokasi untuk mengangkut tumpukan sampah,” jelasnya singkat.
Namun demikian, pihaknya belum menjelaskan secara detail terkait kendala lambatnya petugas dalam pengangkut sampah.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








