Fenomena Hujan Kapur Viral di Cipatat, DLH KBB Mulai Periksa Perusahaan Penghasil Debu

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)

i

Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)

SEKITARKITA.id – Video permukiman yang tampak memutih bak diselimuti salju di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), viral di media sosial dan memicu perhatian publik.

Menindaklanjuti fenomena tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat memastikan lapisan putih yang menutupi rumah warga merupakan debu hasil aktivitas pengolahan batu kapur.

DLH KBB kini tengah melakukan pemeriksaan terhadap salah satu perusahaan pengolahan batu kapur, PT Batu Wangi Putra Sejahtera, setelah sebelumnya tim Pengawas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) melakukan inspeksi lapangan ke sejumlah industri di Kecamatan Cipatat pada 23 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Adjie, mengatakan pemanggilan perusahaan dilakukan sebagai tindak lanjut atas hasil verifikasi lapangan yang menemukan sejumlah indikasi dugaan pencemaran lingkungan.

Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Adjie (foto: istimewa)
Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Adjie (foto: istimewa)

“Selasa kemarin teman-teman PPLH sudah melakukan verifikasi ke lapangan ke industri pengolahan batu kapur di kawasan Kecamatan Cipatat. Hari ini ada satu perusahaan yang kami panggil untuk dimintai keterangan sebagai tindak lanjut hasil verifikasi lapangan,” ujar Ibrahim, Senin (29/6/2026).

Menurut Ibrahim, tim investigasi telah mengantongi sejumlah bukti di lapangan. Namun, hasil pemeriksaan belum dapat dipublikasikan karena masih menunggu proses administrasi dan hasil uji laboratorium.

Baca Juga:  Remaja Korban Tenggelam di Sungai Citarum Cipatat KBB Belum Ditemukan, TIM SAR Terus Lakukan Pencarian

“Kami sudah mengantongi beberapa bukti hasil verifikasi lapangan, tetapi hasilnya belum bisa disampaikan karena menunggu berkas pemeriksaan rampung, termasuk hasil pemeriksaan hari ini dan hasil uji laboratorium,” katanya.

Related Posts

Meski demikian, DLH memastikan material putih yang menyelimuti atap rumah, pepohonan hingga badan jalan di kawasan Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, merupakan debu batu kapur dari aktivitas industri.

Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)
Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)

“Kalau peninjauan langsung terhadap lokasi yang viral itu, dipastikan warna putih tersebut merupakan debu dari pengolahan batu kapur,” tegasnya.

Hasil pemeriksaan sementara juga mengungkap dugaan lemahnya sistem pengendalian pencemaran di area produksi.

DLH menemukan perusahaan diduga belum memiliki suction system atau alat penyedot debu industri yang berfungsi menahan partikel halus agar tidak menyebar ke lingkungan sekitar.

Baca Juga:  Cegah kecelakaan saat study tour, Polres Karawang gandeng stakeholder gelar FGD

Akibatnya, debu mikroskopis diduga beterbangan hingga ke kawasan permukiman warga dan menyebabkan kualitas udara menurun.

Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)
Video penampakan hujan kapur bak salju di Kecamatan Cipatat KBB viral di medsos (foto: tangkapan layar video viral)

“Perusahaan tidak memiliki alat suction atau penghisap debu industri untuk mengurangi debu kapur di area kerja pabrik, sehingga kawasan sekitar dipenuhi debu mikroskopis yang menyebabkan kualitas udara menurun,” jelas Ibrahim.

DLH KBB juga membuka peluang memberikan sanksi apabila hasil pemeriksaan menyatakan perusahaan terbukti melanggar aturan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Potensi sanksi bisa saja dikenakan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pencemaran atau pelanggaran lingkungan. Namun, kita tunggu dulu hasil pemeriksaan secara menyeluruh,” ujarnya.

Warga Sebut Debu Kapur Sudah Terjadi Bertahun-tahun

Fenomena yang viral di media sosial itu ternyata bukan hal baru bagi warga sekitar.

Hidayat (42), warga Kampung Pamucatan, mengaku debu batu kapur telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun.

Kondisinya bahkan semakin buruk ketika musim kemarau karena penggunaan air dalam proses produksi berkurang, sementara angin membawa debu hingga ke rumah-rumah penduduk.

“Iya, apalagi musim kemarau seperti sekarang. Penggilingan batu kapur memerlukan air cukup banyak. Kalau air berkurang ditambah angin kencang, debunya tertiup keluar kawasan industri,” kata Hidayat.

Baca Juga:  DPP IPHI 1987 Apresiasi Suksesnya Rakor DPD Jabar, Dorong Penguatan Peran Advokat di Masyarakat

Ia juga mengaku khawatir terhadap dampak kesehatan yang diduga berkaitan dengan paparan debu batu kapur.

Menurutnya, kedua anaknya sempat sering mengalami asma sejak kecil meski tidak memiliki riwayat penyakit tersebut dalam keluarga. Setelah keduanya pindah dari kawasan tersebut, gangguan pernapasan yang dialami perlahan berkurang.

“Dulu kedua anak saya sering terkena asma sejak kecil. Padahal di keluarga kami tidak ada riwayat penyakit asma. Setelah pindah ke pesantren, keluhannya berangsur membaik dan sekarang sudah jarang kambuh,” tuturnya.

Meski begitu, Hidayat menegaskan dirinya tidak meminta aktivitas industri batu kapur dihentikan.

Ia berharap pemerintah memperketat pengawasan serta memperbaiki tata kelola pertambangan dan industri agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.

“Harapan saya bukan ingin menutup industrinya, tetapi ada perbaikan tata kelola supaya dampak negatifnya bisa ditekan. Kemudian kegiatan pertambangan juga sebaiknya memiliki zonasi yang jelas,” tandasnya.

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keributan Warnai Karnaval HUT RI ke-81 di Tagog Apu, Panitia Bantah Isu Pembacokan
HUT ke-81 RI, Bupati Jeje: Kemerdekaan Harus Terasa dalam Kehidupan Masyarakat Bandung Barat
Carnival Day 2026 Parongpong Meriah, Tujuh Desa dan 70 Grup RW Semarakkan HUT ke-81 RI
Masa Sewa Habis, Politisi Golkar Dadan Minta Kepastian Lahan Sekolah Rakyat Bandung Barat
Anton Sukartono Kembali Diusung, Demokrat KBB Bidik 7 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
Sekwan DPRD KBB Gelar Donor Darah Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Pidato Kenegaraan, Presiden Prabowo Ungkap 6 Fokus Pemerintah Selama 21 Bulan Memimpin
Golkar Tebar 350 Ribu Benih Ikan, Panggah Susanto Dorong Budidaya untuk Tingkatkan Pendapatan Keluarga

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Keributan Warnai Karnaval HUT RI ke-81 di Tagog Apu, Panitia Bantah Isu Pembacokan

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:04 WIB

HUT ke-81 RI, Bupati Jeje: Kemerdekaan Harus Terasa dalam Kehidupan Masyarakat Bandung Barat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 18:30 WIB

Carnival Day 2026 Parongpong Meriah, Tujuh Desa dan 70 Grup RW Semarakkan HUT ke-81 RI

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Masa Sewa Habis, Politisi Golkar Dadan Minta Kepastian Lahan Sekolah Rakyat Bandung Barat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:52 WIB

Anton Sukartono Kembali Diusung, Demokrat KBB Bidik 7 Kursi DPRD pada Pemilu 2029

Berita Terbaru