KBB | SEKITARKITA.id – Sebanyak 18 siswa SDN Garuda, Kampung Cibadak RT01/RW01, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi secara bertahap pada Selasa hingga Rabu, 29-30 September 2026. Para siswa diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambudipa 1 yang melayani sekolah tersebut.
Pantauan di lokasi pada Kamis (1/10/2026), aktivitas belajar mengajar di SDN Garuda tetap berlangsung. Namun, para siswa dipulangkan lebih awal sekitar pukul 10.00 WIB, atau dua jam lebih cepat dari jadwal kepulangan biasanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihaknya sekolah SD Garuda memfasilitasi untuk menggelar pertemuan membahas dugaan keracunan tersebut, dengan sejumlah guru, wali murid (terdampak), dan pengelola SPPG Jambudipa 1 yang disaksikan Polsek Cisarua.
“Udah pulang tadi jam 10.00 kurang, biasanya pulang jam 12.00 siang,” ujar salah seorang siswa saat ditemui di lokasi.
Kepala SDN Garuda, Apud Sukirman, membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Menurut Apud, pihak sekolah sengaja memanggil pengelola dapur SPPG untuk memberikan penjelasan kepada para wali murid yang anaknya terdampak.
“Hari ini siswa dipulangkan lebih awal, kita memanggil pihak dapur SPPG untuk menjelaskan kepada wali murid yang terdampak keracunan kemarin, karena ini sudah dua kali SPPG ini mengalami peristiwa dugaan keracunan,” kata Apud saat ditemui di kantor kepala sekolah SDN Garuda, Kamis (1/10/2026).
Apud menjelaskan, dugaan keracunan pertama kali dilaporkan pada Selasa (29/9/2026). Saat itu, terdapat 10 siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
Kemudian, pada Rabu (30/9/2026), terdapat tambahan delapan siswa yang mengalami keluhan serupa. Dengan demikian, total terdapat 18 siswa yang diduga terdampak.
“Hari Selasa 29/9 siswa yang terdampak 10 orang, dan besoknya Rabu 30/9 mengusul 8, jadi total siswa ada 18 orang yang terdampak keracunan,” jelasnya.
Menurut Apud, pihak sekolah langsung mengambil tindakan dengan membawa para siswa yang mengalami keluhan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sekolah terhadap para siswa yang menjadi penerima manfaat program MBG.
“Sebagai penerima manfaat, ini tanggung jawab kita. Tanpa konfirmasi dengan pihak SPPG kami langsung membawa ke Puskesmas sampai jam 08.00 malam, dan sampai jam 10.00 malam alhamdulillah masih ada petugas yang mau berjaga dan bisa mengantisipasi,” ungkapnya.
Dari 18 siswa yang mengalami keluhan, satu siswa sempat mengalami sesak napas sehingga harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
Apud mengatakan, siswa tersebut langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Lembang.
“Ada satu siswa yang mengalami sesak napas kita bawa ke IGD RSUD Lembang. Bahkan kami saat kejadian belum koordinasi sama dapur karena ini nyawa, saya ambil inisiatif larikan ke Puskesmas,” katanya.
Ia memastikan kondisi seluruh siswa saat ini berangsur membaik. Bahkan, siswa yang sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit juga telah diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah enggak sampai satu hari, 18 siswa termasuk yang satu dirawat di RS sudah bisa pulang dan tahap pemulihan. 50 persen sudah bisa sekolah mengikuti KBM,” ujarnya.
Sementara itu, pihak sekolah masih menunggu hasil pembahasan bersama pengelola SPPG terkait dugaan keracunan tersebut, termasuk langkah pertanggungjawaban terhadap siswa dan orang tua yang terdampak.
Apud berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga program MBG tetap berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi para siswa.
“Hari ini kami menunggu hasil keputusan dari SPPG, pertanggungjawabannya kepada orang tua seperti apa. Jangan sampai program bagus dari pemerintah pusat tidak berjalan baik, justru kita harus dukung dan menyukseskan program Pak Presiden Prabowo Subianto,” tandasnya.
Hingga berita ini ditulis, dugaan keracunan tersebut masih dalam pembahasan bersama pihak sekolah, wali murid, Dinkes KBB dan SPPG. Penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan atau penjelasan dari pihak berwenang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







