SEKITARKITA.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti alih fungsi lahan di kaki Gunung Burangrang yang diduga menjadi penyebab utama terjadinya bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bencana longsor tersebut menimbun sedikitnya 30 unit rumah warga serta merusak area perkebunan sayur yang berada di lereng perbukitan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, tercatat sebanyak 113 jiwa dari 34 kepala keluarga (KK) terdampak akibat longsor di Cisarua Bandung Barat tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat meninjau langsung lokasi bencana, Dedi Mulyadi menilai bahwa wilayah tersebut seharusnya merupakan kawasan hutan dengan vegetasi lebat, bukan area pertanian sayuran.
“Bisa dilihat, ini daerah kemiringan yang seharusnya daerah hutan rimbun, sekarang berubah menjadi perkebunan sayuran dan pakai plastik,” ungkap Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat ditemui di lokasi longsor, Sabtu 24 Januari 2026.
Menurutnya, perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan sayur menyebabkan hilangnya daya resap air, sehingga tanah menjadi lebih mudah longsor saat hujan deras.
“Kalau lihat ini saya sudah bisa menebak penyebabnya. Tanahnya subur, jadi mudah lepas,” jelasnya.
Dedi menambahkan, penggunaan plastik mulsa dalam pertanian turut memperparah kondisi karena menutup permukaan tanah dan menghambat penyerapan air.
Dari peristiwa ini, Dedi menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melakukan penataan ulang kawasan rawan bencana, termasuk mengembalikan fungsi lahan kritis sesuai peruntukannya.
“Kita ingin daerah-daerah rawan ini direlokasi saja. Fungsi-fungsi alam harus dikembalikan,” tegasnya.
Ia juga mengakui bahwa banyaknya bencana alam di Jawa Barat tidak terlepas dari kesalahan tata ruang sejak awal, khususnya di wilayah dengan kemiringan tinggi.
“Kita sudah salah dari awal. Daerah seperti ini tidak layak jadi kebun sayur. Seharusnya menjadi hutan bambu atau vegetasi dengan akar kuat,” tandas Dedi.
Pemprov Jabar berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kawasan rawan longsor, sekaligus mendorong rehabilitasi lingkungan guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







