SEKITARKITA.id – Sosok Retno Dewi Hendrastuti dikenal sebagai profesional yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia pasar modal.
Namun kini, perempuan kelahiran 17 Juni 1964 tersebut memilih jalur baru dengan mengembangkan bisnis yang menggabungkan teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial.
Melalui perannya sebagai Direktur PT Eggmpire Bumi Lestari, Retno Dewi Hendrastuti berupaya membuktikan bahwa investasi dan bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi manusia dan kelestarian bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan karier Retno Dewi Hendrastuti dimulai dari bangku pendidikan. Ia menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana dan lulus pada tahun 1988.
Tidak lama setelah itu, ia langsung terjun ke dunia pasar modal dengan bergabung sebagai Marketing dan Floor Trader di perusahaan sekuritas PT Bahamas Securindo.
Sambil bekerja, Retno juga memperdalam ilmu pasar modal dengan menempuh pendidikan di Yayasan Pendidikan Pasar Modal Indonesia (YPPMI) yang diselesaikannya pada tahun 1990.
Kariernya terus berkembang. Pada tahun 1993 ia dipercaya menjabat sebagai Direktur di PT Arya Shinta Finance.
Satu dekade kemudian, ia kembali menduduki posisi strategis sebagai Direktur di PT Anugerah Securindo Indah.
Selama lebih dari 30 tahun, Retno menggeluti berbagai peran di industri capital market, mulai dari floor trader, floor manager, marketing, sales, dealer, fund manager, business manager, hingga direktur perusahaan sekuritas dan direktur utama perusahaan manajer investasi.
Pengalaman panjang tersebut justru membawanya pada perspektif baru dalam melihat dunia bisnis.
“Setelah puluhan tahun berada di pasar modal, saya mulai tertarik pada bisnis riil yang berkaitan dengan sosial kemanusiaan dan lingkungan hidup,” ujarnya.
Pertemuan dengan Julius Robinson, tokoh yang memiliki perhatian besar pada isu lingkungan, menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya.
Kolaborasi tersebut membuat Retno terlibat sebagai pengawas di Yayasan Equator Bumi Lestari, sebelum akhirnya ikut mendirikan PT Eggmpire Bumi Lestari.
Dalam menjalankan perusahaan, Retno menerapkan konsep 3P: Planet, People, Profit sebagai dasar filosofi bisnis berkelanjutan.
Menurutnya, bisnis yang sehat harus dimulai dari perhatian terhadap planet atau lingkungan. Salah satu implementasinya adalah pengembangan peternakan ayam petelur berkelanjutan yang menggunakan sistem pakan berbasis biokonversi.
Teknologi ini memungkinkan biomasa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan diubah menjadi pakan bernutrisi tinggi bagi ternak. Selain menghasilkan telur berkualitas, sistem ini juga membantu mengurangi limbah lingkungan.
Prinsip kedua adalah People atau manusia. Retno menilai teknologi harus memberikan manfaat sosial secara nyata.
Karena itu, setiap investor yang berpartisipasi dalam proyek perusahaan secara instan langsung memperoleh ESG Impact Certificate sebagai bukti kontribusi terhadap dampak lingkungan dan sosial yang dihasilkan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan penanaman pohon sebagai bagian dari aksi iklim, serta distribusi telur bergizi kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Profit bagi kami adalah hasil akhir dari sistem yang sehat. Ketika lingkungan dijaga dan masyarakat diberdayakan, nilai ekonomi akan tumbuh secara berkelanjutan,” jelas Retno kepada wartawan, Sabtu 7 Maret 2026.
Salah satu program utama yang dijalankan perusahaan adalah Climate & Social Action, yang mencakup kegiatan penanaman pohon serta distribusi pangan bergizi kepada masyarakat.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan kesehatan masyarakat, seperti degradasi lahan, risiko banjir, hingga tingginya angka stunting.
Melalui penanaman pohon, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas udara.
Sementara itu, distribusi telur bergizi difokuskan untuk membantu mengatasi permasalahan gizi buruk, khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Selain memberikan dampak ekologis dan kesehatan, program ini juga memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.
“Hubungan dengan masyarakat menjadi lebih erat. Bahkan ke depan kami berharap pohon buah atau rempah yang ditanam bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga,” kata Retno.
Program tersebut direncanakan akan terus diperluas ke berbagai wilayah di Indonesia seiring dengan pertumbuhan perusahaan dan meningkatnya jumlah investor.
Tantangan Integrasi Teknologi dan Sosial
Dalam mengembangkan bisnis berbasis teknologi dan keberlanjutan, Retno menyadari bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada teknologi itu sendiri.
“Teknologi terus berkembang. Tantangan terbesarnya adalah manusia—bagaimana memastikan teknologi hadir dengan empati, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Di beberapa daerah, masih terdapat resistensi terhadap teknologi yang dianggap datang dari luar. Oleh karena itu, membangun kepercayaan masyarakat menjadi proses penting yang harus dilakukan secara bertahap dengan menghormati nilai-nilai lokal.
Sebagai pemimpin perusahaan, Retno menerapkan gaya kepemimpinan yang menekankan nilai kekeluargaan dan gotong royong.
Ia meyakini bahwa keberhasilan perusahaan sangat bergantung pada kekuatan tim. Karena itu, ia membangun budaya kerja yang menekankan komunikasi terbuka, empati, saling mendukung, serta penghargaan terhadap ide-ide kreatif.
“Kalau teamwork berjalan dengan baik, target perusahaan akan lebih cepat tercapai,” ujarnya.
Untuk menjaga semangat tim, Retno rutin memberikan motivasi pagi, memperkuat rasa persaudaraan, serta merayakan setiap pencapaian yang diraih bersama.
Retno juga melihat masa depan teknologi digital dan blockchain di Indonesia memiliki potensi besar. Hal ini didukung oleh populasi muda yang melek teknologi, pertumbuhan pengguna kripto yang pesat, serta regulasi yang semakin berkembang.
Meski demikian, ia menilai perkembangan teknologi akan berlangsung secara bertahap.
“Perubahan ini bukan revolusi mendadak, melainkan evolusi yang berjalan perlahan,” katanya.
Dalam konteks bisnis berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar karena kekayaan biodiversitas, potensi energi terbarukan, serta meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan.
Namun sejumlah tantangan tetap harus dihadapi, mulai dari kebutuhan investasi awal yang besar, keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi hijau, hingga kesenjangan infrastruktur digital di berbagai daerah.
Bagi Retno Dewi Hendrastuti, perjalanan dari dunia pasar modal menuju bisnis berkelanjutan bukan sekadar perubahan karier, tetapi juga perubahan cara pandang tentang makna bisnis.
Ia percaya bahwa bisnis yang baik adalah bisnis yang memberikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang.
“Bisnis seharusnya tidak hanya mengejar profit, tetapi juga membawa manfaat bagi manusia dan bumi,” tutupnya.
Editor : Abdul Kholilulloh








