Karawang | SekitarKita.id,- Inilah penampakan wajah baru Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Kotabaru, Polres Karawang pasca diresmikannya Patung Maung Lodaya, Rabu (17/1/2024).
Patung Maung Lodaya tegak berdiri terpasang didepan halaman Mapolsek Kotabaru menambah minat masyarakat untuk menikmati fasilitas gratis sekedar berswa foto dan mengedukasi mayarakat.
Harimau di Jawa Barat yang biasa dipanggil Macan Lodaya ini berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa Barat, merupakan macan hitam Prabu Siliwangi Raja Padjadjaran, sama dengan Harimau Siliwangi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan balutan berwarna hitam, taring dan cakar putih, mata kuning itu yang menjadi ciri khas. Bila harimau menjadi lambang Kodam Siliwangi, macan Lodaya menjadi lambang kepolisian Jawa Barat.
Peresmian itu langsung oleh Kapolres Karawang AKBP Wirdhanto Hadicaksono, sekaligus meresmikan gedung Unit Reskrim Mapolsek Kotabaru.
AKBP Wirdhanto mengungkapkan, pihaknya turut berterimakasih kepada Kapolsek Kotabaru yang dipimpin Iptu Suherlan beserta jajaran yang kini telah memiliki fasilitas umum.
Dengan adanya gedung unit Reskrim dan Patung Lodaya Polsek Kotabaru, kata dia, kedepannya mampu menunjang kinerja jajaran agar lebih baik lagi kedepannya.
“Ini merupakan bagian satu upaya besar kita bersama untuk ikut memberikan fasilitas kepada jajaran polres Karawang, guna menunjang kinerja agar lebih baik lagi, sebagaimana tugas seorang Polisi yaitu memelihara keamanan menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayom serta pelayanan kepada masyarakat,” kata AKBP Wirdhanto usai acara, Rabu.
Dirinya berharap, dengan diresmikannya gedung tersebut, tidak hanya personel Reskrim saja, melainkan seluruh jajaran personel Polsek Kotabaru untuk lebih meningkatkan kinerja dalam melayani masyarakat diwilayah hukumnya.
“Saya harap dengan adanya Gedung Unit Reskrim ini, tidak hanya personil Reskrim namun seluruh personil Polsek Kotabaru dapat lebih meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, ujarnya.
Ia menghimbau, kepada seluruh jajaran, agar fasilitas yang sudah ada, untuk dirawat dan dijaga dengan baik, demi memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang datang ke Mapolsek Kotabaru.
Pada kesempatan itu juga bersamaan Kapolres Karawang AKBP Wirdhanto Hadicaksono beserta Kapolsek Kotabaru, Iptu Suherlan, melaksanakan santunan kepada anak-anak yatim piatu dan dihadiri langsung Muspika Kecamatan Kotabaru dan tokoh masyarakat setempat.
Filosofi atau Makna di balik Simbol Maung Lodaya
Mantan Kapolda Jabar yang juga tokoh masyarakat Sunda memaparkan filosofi atau makna di balik simbol Maung Lodaya atau macang kumbang (Panther) tersebut.
“Itu tidak terlepas dari sejarah legenda Prabu Lingga Buana atau Langlang Buana di tahun 1357 Masehi,” kata pria yang akrab disapa Abah Anton, dilansir detikJabar, (27/01/2022) lalu.
Lingga Buana sang Prabu Siliwangi Pertama
Prabu Lingga Buana merupakan salah satu raja Kerajaan Sunda yang gugur di perang Bubat. Sebagai seorang ksatria Tanah Sunda yang gugur karena membela kehormatan dan harga dirinya.
“Dia adalah Prabu Siliwangi pertama karena sebelumnya tidak pernah ada kisah tentang raja berjuluk Silih Wangi,” kata Anton.
Dia mengatakan, gugurnya Prabu Lingga Buana itu, menuai simpati dan penghargaan dari raja-raja di Nusantara, sehingga dijuluki Prabu Wangi. “Dia dijuluki Prabu Wangi karena gugur saat mempertahankan harga diri dan kehormatan di medan laga. Julukan itu diberikan oleh raja-raja di Nusantara seperti Sriwijaya, Kutai dan lainnya,” kata Anton.
Meski pun gugur di Perang Bubat, namun Anton mengatakan pasukan Prabu Lingga Buana yang hanya terdiri satu pleton atau sekitar 60 orang, bisa membunuh sekitar 2.000 pasukan Majapahit.
Itu karena mereka merupakan pasukan khusus Pajajaran yang disebut pasukan Bela Mati.
“Hebat luar biasa. Pasukan Bela Mati Pajajaran berjumlah kurang dari 70 orang tapi bisa membunuh 2.000 orang. Keterangan itu ada di di pupuh Sundayana,” kata Anton.
Kaitan dengan Prabu Siliwangi yang disimbolkan sebagai maung atau harimau belang, Anton menjelaskan keduanya merupakan sosok yang sama.
“Langlang Buana maung hideung dan Siliwangi maung belang, itu adalah dua nama satu jiwa. Eta-eta keneh. Makanya TNI dan Polri di Jawa Barat itu tidak boleh pecah karena keduanya merupakan satu kesatuan,” kata Anton.
Anton juga menjelaskan sejarah lambang Maung Lodaya pasca kemerdekaan. Sejarah atau filosofinya bermula dari upaya penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
Salah satu komponen pasukan Siliwangi yang menumpas DI/TII itu adalah Resimen Pelopor Sukapura. Pasukan ini yang ikut bergerilya di pegunungan Priangan Timur untuk menumpas pemberontak.
“Resimen ini dipimpin oleh KS Tubun dan Yus Rusady Wirahaditenaya Komandan Batalyon 33 Pelopor Resimen Sukapura Divisi III Siliwangi. Resimen pelopor ini yang kemudian menjadi cikal bakal Brimob Polri,” kata Anton.
Warna hitam Maung Lodaya juga menjadi alat kamuflase saat beraksi. “Warna hitam itu, aya na di euweuh, euweuh na di aya (ada seperti tiada, tiada padahal ada),” kata Anton.Lambang Maung Lodaya jadi spirit Resimen Pelopor saat bertugas. Karakter Maung Lodaya memiliki kecepatan dalam memburu mangsanya. “Kemana pun akan dikejar, naik pohon dikejar, masuk air dikejar. Jadi Maung Lodaya ini jadi pemburu paling ganas,” kata Anton.
Maung Lodaya Bersanding dengan Maung Siliwangi TNI
Berangkat dari filosofi dan sejarah itulah pada akhirnya Maung Lodaya menjadi simbol polisi di Jawa Barat, bersanding dengan Maung Siliwangi yang menjadi simbol tentara di Jawa Barat.
“Jadi TNI dan Polri di Jawa Barat itu tidak bisa dipisahkan, karena lahir dari sejarah yang sama. Maung Lodaya dan Maung Siliwangi selamanya akan berdampingan karena dua nama satu jiwa,” kata Anton.
Selain itu lambang Kujang yang melengkapi simbol Maung Lodaya dan Maung Siliwangi, menurut Anton bukan sembarang simbol. “Kujang itu bermakna kukuh kana jangji (teguh erat memegang janji). Jadi seorang polisi itu harus setia pada Tri Brata,” kata Anton.
Polda Jawa Barat sendiri merupakan satu-satunya institusi polisi yang memiliki simbol macan kumbang atau Maung Lodaya di Indonesia. Sehingga tak heran jika ketika simbolnya dilecehkan polisi di Jawa Barat bereaksi keras.
“Ya memang wajar kalau adik-adik saya di kepolisian bereaksi keras. Namun jauh dari pada itu, tentu anggota Polri di Jawa Barat, harus lebih fokus kepada mengaplikasikan atau mengejawantahkan, nilai dan spirit Maung Lodaya dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya,” pungkas Anton.
Laporan: Andyka Nugroho
Sumber: detikJabar
Editor: abdul Kholilulloh








