Karawang | SekitarKita.id,- Nasib pilu dialami pasangan suami istri (pasutri) Satim (64) dan Enar (59) warga Dusun Bakan Lio RT24/RW10 Desa Karyasari kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Mereka kesulitan mendapatkan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah setempat.
Ia harus rela tinggal di rumah reot nyaris roboh hampir puluhan tahun lantaran terbentur biaya, jangankan untuk renovasi rumah, buat makan sehari-hari saja Satim dan Enar kesulitan. Kini kedua pasutri itu membutuhkan bantuan pemerintah Kabupaten Karawang.
Enar menceritakan, ia dan suami menempati rumah tidak layak huni (rutilahu) milik pribadi sudah hampir puluhan tahun. Enar juga memiliki dua orang anak yang kini sudah berkeluarga dan menetap jauh dari lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya tinggal sama suami, kalau anak dua-duanya sudah nikah, yang satunya di Desa Pulo sari, Kecamatan Telagasari, dan yang satunya di Desa Cibanteng Kecamatan Rengasdengklok, Karawang,” kata Enar saat ditemui pewarta SekitarKita.id dilokasi, Senin (17/06/2024).
Namun demikian, rumah yang dihuni Enar kondisinya memprihatinkan, disamping bangunan tiang penyangga mulai rapuh dan juga kondisi atap genteng bolong, jika musim hujan bocor di beberapa titik, terdapat genangan air di sejumlah sudut ruangan.
“Ya gini lah keadaannya kang, kalo hujan kebocoran saya mengantisipasi takut rumah saya roboh tiangnya sudah pada patah. Ngeri kalau ada angin kencang,” ujar Enar bercerita.
Ia menyebut, pihaknya sudah mengajukan kondisi rumahnya itu sejak beberapa tahun lalu, namun belum ada tanggapan dari pihak Desa Karyasari. Ia juga menyatakan, data bantuan pemerintah (bansos) sempat dihilangkan oleh sejumlah oknum perangkat desa.
“Dulu saya mendapatkan bansos 4 tahun lalu data saya sempet dihilangkan di kepemimpinan RT lama, sekarang Alhamdulillah untuk bansos baru mendapatkan satu kali pas ganti RT, kalau untuk rumah saya sendiri pihak Desa Karyasari sudah mengetahui keadaannya tetapi belum ada tanggapan sama sekali,” jelasnya.
Diceritakan Enar kembali, kesehariannya ia dan suami berjualan jajanan keliling di dekat kantin SMP 2 Rengasdengklok, berpenghasilan Rp50 ribu hingga Rp 100 ribu perharinya. Itu saja hanya cukup untuk bertahan hidup ditengah himpitan ekonomi serba sulit.
“Saya jualan cilok anak-anak sekolah, sehari dapat Rp50 ribu kalau sebulan kurang lebih Rp500 ribu ya Alhamdulillah buat makan sehari-hari,” ujarnya.
Dirinya berharap, Enar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah baik itu progam rutilahu maupun dari aspirasi dewan, lantaran ia tak sanggup merenovasi rumah miliknya.
“Rumahnya sudah kaya gini, saya ngebangun rumah sendiri ga bisa ngandelin dari anak-anak juga tidak mungkin karena dia juga ekonomi nya repot kalo tidak dibantu oleh pemerintah kemungkinan ini rumah bakal roboh,” harapnya.
Sementara itu, ditemui dilokasi berbeda, Ketua RT24, Juhari membenarkan kondisi rumah Enar nyaris roboh, selayaknya rumah tersebut segera di renovasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Menurut saya rumah bu Enar tidak layak ditempati, harus segera dirapihkan,” ujar dia.
Pihaknya mengaku, Enar dan suami belum melakukan pengajuan renovasi ke pihak pemerintah Desa Karyasari, kedepannya ia akan berupa untuk melakukan pengajuan progam rutilahu.
“Harapan saya seharusnya pihak pemerintah untuk segera dibangun kalo ada program rutilahu harus siap membantu karena rumahnya ga layak huni lagi, tolong lah sama pemerintah harus siap membantu jangan hanya omong doang harus siap dengan kepastian,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Laporan: Andyka Nugroho (Kontributor Karawang)








