SEKITARKITA.id — Kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus menuai sorotan.
Wakil Ketua DPRD KBB sekaligus Koordinator Komisi III, Asep Dedi, menegaskan bahwa pernyataan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait dugaan penyebab utama kejadian tersebut harus disampaikan secara transparan dan berbasis data ilmiah yang jelas.
Menurut Asep, penjelasan BGN yang menyebut bakteri E. Coli dalam air sebagai penyebab utama belum bisa diterima begitu saja tanpa pembuktian komprehensif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai, klaim tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran dan stigma negatif terhadap kualitas air di wilayah Bandung Barat.
“Kami sejatinya berharap BGN dan Kemenkes terbuka dalam menyampaikan hasil investigasi. Apakah memang murni karena air, atau ada faktor lain yang belum diungkap ke publik?” ujar Asep Dedi, Kamis (13/11/2025).
Politisi asal Bandung Barat itu menilai, pernyataan sepihak dari BGN dapat menimbulkan efek domino di tengah masyarakat.
“Dengan pernyataan itu, muncul kegaduhan dan kekhawatiran yang tidak perlu. Padahal mayoritas warga Bandung Barat selama ini aman menggunakan air sumur dan sumber lokal. Jangan sampai pernyataan seperti ini merusak citra daerah dan menimbulkan kecemasan kolektif,” tegasnya.
Lebih lanjut, Asep menyoroti ruang lingkup investigasi BGN dan Kemenkes yang dinilainya terlalu sempit karena hanya berfokus pada aspek kualitas air.
Ia meminta agar pemeriksaan mencakup faktor lain seperti bahan makanan mentah, kebersihan peralatan, proses pengolahan, hingga potensi human error.
“Apakah pemeriksaan sudah komprehensif? Jangan-jangan penyebabnya lebih kompleks dari sekadar air,” tambahnya.
Asep juga mendesak agar BGN dan Kemenkes berkoordinasi intensif dengan Pemerintah Daerah (Pemda) KBB dan DPRD sebelum mengumumkan hasil investigasi ke publik.
“Kami minta data dan metodologi yang jelas. Publik berhak tahu secara utuh di titik mana terjadi kontaminasi — apakah di sumber air atau saat penyimpanan di SPPG. Jangan sampai generalisasi justru membuat warga resah,” pungkasnya.
Pernyataan BGN: 75% Kasus Keracunan Berkaitan dengan Air Tidak Layak
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut hasil investigasi awal menemukan adanya kontaminasi bakteri E. Coli pada air yang digunakan dalam pengolahan makanan program MBG.
Ia menjelaskan, berdasarkan kajian awal Kemenkes, sekitar 75% kasus keracunan makanan di Bandung Barat berkaitan dengan penggunaan air yang tidak memenuhi standar kebersihan.
Sebagai langkah antisipasi, BGN merekomendasikan agar seluruh Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di Kabupaten Bandung Barat tidak lagi menggunakan air mentah, melainkan air matang atau air yang telah melalui uji kualitas laboratorium.
Meski demikian, Asep Dedi menilai, langkah edukasi dan pembinaan terhadap pelaksana program di lapangan harus diutamakan daripada hanya menyalahkan satu faktor penyebab.
“Program MBG ini sangat baik untuk masyarakat. Jadi sebaiknya jangan langsung menyudutkan, tapi perkuat pengawasan, edukasi higienitas, dan kualitas bahan makanan,” ujarnya.
Dengan demikian, DPRD KBB berharap agar polemik keracunan massal MBG menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap manajemen pangan, sanitasi, dan komunikasi publik antarinstansi, agar kasus serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Dalam kurun waktu sebulan terakhir, sejumlah kasus gejala keracunan makanan dilaporkan di berbagai wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Rentetan kejadian tercatat bermula dari Kecamatan Cipongkor, kemudian menyebar ke Kecamatan Cihampelas, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Lembang, dan teranyar muncul laporan di Kecamatan Ngamprah.
Informasi tersebut dihimpun dari Dinas Kesehatan Bandung Barat yang merinci peningkatan kasus dengan pola gejala serupa di beberapa kecamatan.
Berbagai media juga melaporkan bahwa otoritas setempat tengah menindaklanjuti insiden ini dengan melakukan investigasi dan pemantauan termasuk pemeriksaan sumber makanan, sampling laboratorium, serta sosialisasi langkah pencegahan kepada masyarakat.
Sebagai upaya mitigasi, warga diminta meningkatkan kehati-hatian terhadap kebersihan makanan dan minuman, serta segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala keracunan.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







