Rehabilitasi Sukarela Jadi Fokus, BNN Bandung Barat Posiskan Pengguna Narkoba sebagai Korban

- Penulis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 12:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BNN Kabupaten Bandung Barat, AKBP Agus Widodo

i

Kepala BNN Kabupaten Bandung Barat, AKBP Agus Widodo

SEKITARKITA.id — Badan Narkotika Nasional Kabupaten Bandung Barat (BNN KBB) menegaskan bahwa pendekatan rehabilitasi menjadi strategi utama dalam penanganan penyalahgunaan narkoba.

Pengguna yang datang secara sukarela dipandang sebagai korban yang harus diselamatkan dan dipulihkan, bukan semata-mata objek penegakan hukum.

Kepala BNN Kabupaten Bandung Barat, AKBP Agus Widodo menyatakan rehabilitasi merupakan langkah penting untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis pengguna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, proses pemulihan sering kali kompleks, terutama bagi individu yang telah berada pada fase ketergantungan berat.

“Bagi yang sudah terlanjur tenggelam dalam penyalahgunaan narkoba, mau tidak mau harus dipulihkan. Dalam istilah BNN itu rehabilitasi, mengembalikan kondisi mereka, walaupun memang tidak mudah bagi yang sudah terlalu jauh,” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.

Kepala BNN Kabupaten Bandung Barat, AKBP Agus Widodo
Kepala BNN Kabupaten Bandung Barat, AKBP Agus Widodo

Ia menjelaskan, program pemulihan dilakukan melalui pendekatan berlapis yang mencakup metode berbasis komunitas, sosial, hingga medis.

Program rehabilitasi terbuka bagi masyarakat luas dan disosialisasikan melalui berbagai jalur, seperti lingkungan pendidikan, pemerintah desa, serta forum keagamaan.

Baca Juga:  Sorotan P4KBB soal Open Bidding Lima Dinas Strategis di Bandung Barat 

BNN KBB juga menegaskan bahwa layanan rehabilitasi diberikan secara gratis. Informasi mengenai program ini terus disebarluaskan untuk mendorong masyarakat berani melapor dan mencari pertolongan.

“Kami ajak masyarakat yang terpapar untuk datang. Rehabilitasi di BNN itu gratis. Informasinya kami sampaikan melalui berbagai saluran, termasuk lewat tokoh agama,” kata Agus.

Sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan publik, BNN KBB memastikan kerahasiaan identitas peserta rehabilitasi tetap terjaga.

Kebijakan ini diharapkan mampu menghilangkan stigma dan ketakutan masyarakat untuk mencari bantuan.

“Jangan takut mengakui. Kami jaga kerahasiaannya. Mereka kami pandang sebagai korban, bukan untuk dipublikasikan,” tegasnya.

Menurut Agus, rendahnya literasi masyarakat mengenai dampak farmakologis narkoba menjadi faktor yang memperparah penyalahgunaan.

Banyak pengguna, terutama kalangan pelajar, belum memahami risiko kerusakan organ vital seperti paru-paru, jantung, ginjal, hingga sistem saraf pusat.

Kerusakan paling serius, lanjutnya, terjadi pada otak, khususnya sistem limbik yang mengatur emosi serta prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan.

“Ketika sistem ini diracuni zat kimia, fungsi otak terganggu. Kemampuan mengambil keputusan menurun, memori rusak, bahkan memicu gangguan perilaku,” jelasnya.

Baca Juga:  Tak Direstui, Pria Tewas Ditemukan Gantung Diri di Serang Bekasi, Polisi Ungkap Kronologi Awal

BNN KBB juga mengungkap bahwa penyalahgunaan narkoba sering terjadi melalui modus jaringan peredaran yang memanfaatkan ketidaktahuan korban.

Pelaku kerap menggunakan bujuk rayu, propaganda, hingga pemberian zat secara cuma-cuma untuk menciptakan ketergantungan.

“Mereka korban propaganda dan pergaulan yang tidak terfilter. Ada yang dijerat bandar dengan iming-iming gratis. Bandar diproses hukum, tetapi korban harus diselamatkan,” ujarnya.

Ia menegaskan anggapan bahwa narkoba dapat meningkatkan kinerja atau konsentrasi merupakan narasi menyesatkan yang justru berujung pada kerusakan kesehatan dan kehidupan sosial.

“Janji peningkatan kinerja itu bohong. Ketergantungan justru mempercepat kebangkrutan hidup bahkan kematian,” imbuhnya.

BNN KBB menargetkan penurunan prevalensi penyalahgunaan narkoba melalui kombinasi pencegahan masif dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjalani rehabilitasi sukarela.

Pendekatan ini berjalan berdampingan dengan penegakan hukum terhadap pelaku peredaran narkoba.

“Yang sadar datang untuk memperbaiki diri, kami pulihkan. Penegakan hukum berlaku bagi yang tertangkap. Dua pendekatan ini berjalan bersama,” pungkas Agus.

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : liputan

Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Perdana Turun di Padalarang KBB, Warga Langsung Tampung Air Pakai Ember
Danny Setiawan Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Kenang Jasa Mantan Gubernur Jabar
Puluhan Ojol Geruduk Kantor BFI Finance Cimahi, Diduga Imbas Penarikan Motor oleh Debt Collector
Dugaan Keracunan 33 Siswa SDN 2 Cipeundeuy, Labkesda Uji Sampel MBG
Ditengah Anggaran Minim, BPBD KBB Catat 148 Karhutla hingga September 2026
Kembali Satpol PP KBB Bidik 17 Bangli di Padalarang, Rumah Mewah hingga Bangunan TK Bakal Dibongkar
KPK OTT di Kabupaten Bogor, Fahd A Rafiq dan Mantan Bupati Kebumen Diamankan
Soal Liburan ke Pangandaran di Tengah Isu Keracunan, Pemdes Cipeundeuy Padalarang Bongkar Faktanya

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 17:22 WIB

Hujan Perdana Turun di Padalarang KBB, Warga Langsung Tampung Air Pakai Ember

Sabtu, 19 September 2026 - 13:05 WIB

Danny Setiawan Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Kenang Jasa Mantan Gubernur Jabar

Sabtu, 19 September 2026 - 08:55 WIB

Puluhan Ojol Geruduk Kantor BFI Finance Cimahi, Diduga Imbas Penarikan Motor oleh Debt Collector

Jumat, 18 September 2026 - 21:47 WIB

Dugaan Keracunan 33 Siswa SDN 2 Cipeundeuy, Labkesda Uji Sampel MBG

Jumat, 18 September 2026 - 19:13 WIB

Ditengah Anggaran Minim, BPBD KBB Catat 148 Karhutla hingga September 2026

Berita Terbaru

Dugaan Keracunan 33 Siswa SDN 2 Cipeundeuy, Labkesda Uji Sampel MBG

Bandung Barat

Dugaan Keracunan 33 Siswa SDN 2 Cipeundeuy, Labkesda Uji Sampel MBG

Jumat, 18 Sep 2026 - 21:47 WIB