Kang Ace Sebut Akan Hapus Nama Penerima PKH Jika Anggarannya Digunakan untuk Gadaikan Bank Emok, Begini Katanya

- Penulis

Minggu, 31 Desember 2023 - 11:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kang Ace saat bertemu ratusan KPM di Majalaya Bandung

i

Kang Ace saat bertemu ratusan KPM di Majalaya Bandung

Bandung, SekitarKita.id – Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tubagus Ace Hasan Syadzili mengingatkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dalam menggunakan dana PKH untuk memenuhi kebutuhan sebagaimana mestinya.

Menurut Kang Ace, sapaan akrab Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini, bahwa dana PKH tidak boleh untuk hal lain, apalagi jika digadaikan ke bank emok.

Hal ini disampaikan Kang Ace bersamaan saat memberikan arahan dalam Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) bagi para Ketua KPM PKH se-Kecamatan Pacet, Kertasari, dan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jumat (30/12/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara yang berlangsung di GOR Sejabat Majalaya (Gedung KONI), Jalan Cikaro, Majakerta, Majalaya itu diikuti oleh 750 peserta.

“Saya ingin PKH digunakan sesuai tujuan. Karena, saya banyak mendapatkan laporan program PKH tidak digunakan sebagaimana mestinya. Misalnya, di tempat yang lain digadaikan bank emok,” kata Kang Ace.

Secara tegas menurut Kang Ace, jika ada yang menggunakan PKH untuk kepentingan lain, pendamping KPM PKH harus segera melaporkan, agar namanya dicoret sebagai penerima PKH.

“PKH menggunakan biaya yang cukup besar. Saya kebetulan pimpinan Komisi VIII DPR yang telah mengganggarkan PKH secara nasional nilainya mencapai Rp29 triliun,” katanya.

Uang negara milik rakyat itu dianggarkan oleh Komisi VIII DPR dan juga dilaksanakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) untuk membantu rakyat, terutama untuk mengatasi kemiskinan.

Baca Juga:  141 KPM Terima Bantuan, Kang Ace: Program PENA Dapat Menurunkan Angka Kemiskinan

“Maka seharusnya program PKH ini dapat mengangkat harkat derajat masyarakat Kabupaten Bandung dan tidak menimbulkan masalah baru. Misalnya, digadaikan untuk kepentingan lain. Itu tidak boleh. Karena PKH ini untuk membangun bangsa besar, sejahtera, dan jaya,” ujar Kang Ace.

Bangsa yang besar, lanjut Kang Ace, hanya bisa dibangun oleh orang-orang besar juga. Yaitu orang-orang berilmu, pintar, cerdas, dan sehat.

Program PKH ini hanya diperuntukkan bagi 10 juta dari 273 juta rakyat Indonesia, yang penghasilannya di bawah standard. Olah karena itu, KPM PKH harus memanfaatkan program ini sebaik-baiknya.

“Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) juga dianggarkan oleh Komisi VIII DPR sebesar Rp45 triliun bagi 18,9 juta penduduk. Itu pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten,” tutur wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jabar 2 Kabupaten Bandung dan Bandung Barat (KBB) itu.

Berikut ini 4 Komponen PKH

Dalam kesempat itu, Kang Ace kembali menjelaskan tentang empat komponen PKH. Pertama komponen kesehatan, ibu hamil, menyusui, dan balita. Kedua, anak sekolah. Ketiga, kesejahteraan lansia, dan keempat diabilitas.

Alasan komponen pertama yaitu untuk kesehatan ibu hamil, menyusui, dan balita, karena masa itu yang paling menentukan bagi kehidupan rakyat Indonesia.

“Kita (Indonesia) ingin lepas dari stunting atau gangguan tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi,” kata Kang Ace.

Baca Juga:  Jumat Curhat, Kapolsek Cikarang Selatan: Hadirkan Polisi Presisi Ditengah Masyarakat

“Angka stunting di Kabupaten Bandung masih cukup besar, 20 persen dari populasi anak-anak. Ibu hamil dan menyusui, itu menentukan masa depan anak,” ujar dia.

Menurut Kang Ace, jika ibu hamil mengonsumsi makanan sembaran, tidak bergizi, otomatis akan dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi di dalam rahim dan tumbuh kembangnya.

Karena itu, Kang Ace meminta para ibu-ibu penerima PKH, dapat dibelikan makanan bergizi. Agar melahirkan generasi Indonesia yang berkualitas.

“Di era modern saat ini kalau masih ada yang kekurangan gizi, kualitas bangsa kita akan rendah. Kita tidak ingin tumbuh kembang anak-anak tertinggal karena kekurangan gizi,” tutur Kang Ace.

Stunting, bukan sekadar fisik, tetapi juga IQ tidak sempurna, di bawah standard. Yang akan mengakibatkan anak-anak akan sulit memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehingga masa depan suram (madesu).

“Itu tidak boleh terjadi pada anak-anak kita. Tidak boleh lagi di Indonesia, anak-anak kekurangan gizi. IQ-nya jongkok, yang tidak bisa mengikuti pendidikan dan sekolah karena tidak memiliki kemampuan untuk belajar,” ucapnya.

Kang Ace menyatakan, berdasarkan penelitian para ahli, 1.000 hari pertama seorang manusia menentukan masa depannya. Sejak di dalam perut hingga usia 2 tahun, betul-betul harus diisi dengan makanan bergizi, pengetahuan, dan pola asuh yang betul-betul terukur.

“Selain anak diberikan makanan bergizi dan ASI, ibu yang menyusui pun harus mendapatkan makanan bergizi,” ujar Kang Ace.

Baca Juga:  Kang Ace Sebarkan Kurban di Puluhan Titik Pemungutan Suara di Dua Kabupaten 

Komponen kedua, tuturnya, pendidikan anak untuk SD, SMP, dan SMA. KIP kuliah. Pemerintah ingin tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah akibat ketiadaan biaya, tidak mampu membayar SPP, dan membeli seragam. Tidak boleh lagi ada anak-anak Indonesia buta huruf.

“Walaupun dia anak perempuan, berikan haknya untuk sekolah setinggi-tingginya. Jangan lagi ada pemikiran, keun bae anak istri mah lulus SMP urang kawinken. Ke ge ka dapur, ka dapur oge. Jangan punya pikiran seperti itu lagi,” tuturnya.

Apalagi saat ini, undang-undang tidak membolehkan anak di bawah usia 18 tahun dinikahkan. Karena itu, jaga anak, akhlak dan perilakunya supaya tidak menikah di bawah 18 tahun. Sebab, pernikahan dini itu, awal mula dari kemiskinan.

“Berdasarkan penelitian, orang yang menikah dalam usia yang masih muda, secara psikologi belum siap berumah tangga. Yang terjadi, punya anak, suami tidak bekerja. Puyeng, pasea, lalu bercerai. Setelah cerai, jadi janda,” ucap Kang Ace.

Kang Ace mendorong para orang tua menyekolahkan anak mereka setinggi-tingginya. Karena itu, komponen PKH untuk pendidikan jangan diberikan ke bapaknya. Apalagi untuk dibelikan rokok dan dibelikan umpan mancing.

“Komponen ketiga adalah kesejahteraan lanjut usia (lansia). Tidak boleh ada lagi lansia yang ditelantarkan. Komponen keempat adalah disabilitas. Mereka juga harus mendapatkan perhatian dan pelayanan,” ujarnya.***



Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

CV Deannova dan PUTR KBB Disorot, Proyek Jalan H Gofur-Cibatu Dinilai Asal-asalan 
Tak Lagi Gunakan Rakit, Bupati Jeje Hadirkan Mobil Antar-Jemput untuk 16 Siswa SDN Budiharja KBB
Stunting Bandung Barat Masih Tinggi, P4KBB Tawarkan Skema Kolaborasi Pentahelix
Resmi Disepakati! DPRD KBB dan Bupati Tetapkan Arah R-APBD Perubahan 2026, Infrastruktur Digenjot
Reshuffle Kabinet Merah Putih ke-7! Prabowo Lantik 16 Pejabat, Bahlil Rangkap Dua Jabatan 
Belasan Siswa SDN Garuda Cisarua Tumbang Diduga Usai Makan MBG, SPPG Jambudipa 1 Jadi Sorotan 
Pesan Menohok Ketua Komisi III DPRD Pither Tjuandys: JAGUR Harus Jadi Garda Kondusivitas di KBB
Menteri LH Soroti Waduk Saguling Dipenuhi Eceng Gondok, Pengelola Diminta Ikut Bertanggung Jawab

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:47 WIB

CV Deannova dan PUTR KBB Disorot, Proyek Jalan H Gofur-Cibatu Dinilai Asal-asalan 

Selasa, 6 Oktober 2026 - 07:15 WIB

Tak Lagi Gunakan Rakit, Bupati Jeje Hadirkan Mobil Antar-Jemput untuk 16 Siswa SDN Budiharja KBB

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Stunting Bandung Barat Masih Tinggi, P4KBB Tawarkan Skema Kolaborasi Pentahelix

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:44 WIB

Resmi Disepakati! DPRD KBB dan Bupati Tetapkan Arah R-APBD Perubahan 2026, Infrastruktur Digenjot

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Reshuffle Kabinet Merah Putih ke-7! Prabowo Lantik 16 Pejabat, Bahlil Rangkap Dua Jabatan 

Berita Terbaru