SEKITARKITA.id — Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) melalui Bidang Kesehatan Hewan kembali melanjutkan rangkaian sosialisasi pembentukan dan penguatan Kader Zoonosis untuk wilayah Kecamatan Padalarang, Batujajar, Cihampelas, dan Cikalongwetan.
Kegiatan ini digelar di Aula Kantor Desa Batujajar Timur sebagai bentuk upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau zoonosis.
Kepala Dispernakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, mengatakan, Zoonosis masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut data dari berbagai literatur kesehatan, lebih dari 60 persen penyakit menular yang menginfeksi manusia berasal dari hewan, termasuk rabies, antraks, leptospirosis, flu burung, hingga toxoplasmosis.
“Keberadaan kader zoonosis di tingkat desa menjadi elemen penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut,” kata Wiwin, Selasa 18 November 2025 dikutip SEKITARKITA.id dari laman Instagram @dispernakan_kbb.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Dispernakan KBB memberikan penguatan kapasitas kepada para kader yang bekerja langsung di tingkat desa dan komunitas.
Seorang kader zoonosis memiliki tugas utama sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah serta fasilitas kesehatan seperti puskesmas dalam pengendalian penyakit zoonotik.
Mereka dibekali pengetahuan terkait cara deteksi dini, pelaporan kasus hewan sakit atau mati mendadak, edukasi masyarakat, hingga langkah pencegahan berbasis lingkungan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dispernakan KBB menyampaikan bahwa peran kader sangat strategis terutama di wilayah yang memiliki populasi ternak dan hewan kesayangan cukup tinggi.
“Kader zoonosis adalah garda terdepan di masyarakat. Mereka harus mampu mengenali gejala penyakit pada hewan, memberikan edukasi tentang cara pemeliharaan hewan yang baik, dan membantu proses pelaporan apabila terjadi kejadian luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ancaman zoonosis bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga ekonomi masyarakat.
“Penyakit seperti antraks, misalnya, dapat mengakibatkan hewan ternak mati mendadak sehingga menimbulkan kerugian bagi peternak,” ungkapnya.
Sementara itu, rabies masih menjadi perhatian di beberapa daerah di Indonesia karena kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) masih cukup tinggi.
Oleh sebab itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat dibutuhkan.
Dalam sosialisasi ini, kata Wiwin, para peserta diberi pemahaman tentang penyebab, gejala, hingga tata cara penanganan awal kasus zoonosis.
“Dispernakan KBB juga menekankan pentingnya sanitasi lingkungan, vaksinasi hewan, serta penggunaan alat pelindung diri saat menangani hewan yang dicurigai terinfeksi penyakit berbahaya,” jelasnya.
Selain edukasi teknis, lanjut Wiwin, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi lintas sektor antara pemerintah desa, puskesmas, serta aparat kecamatan.
Ia menyebut, pemerintah desa diharapkan berperan aktif dalam mendukung kader zoonosis, baik melalui pemberdayaan masyarakat maupun penguatan anggaran berbasis kebutuhan kesehatan lingkungan.
“Kami berharap para kader dapat terus aktif dan tidak berhenti pada pelatihan saja. Mereka harus menjadi agen perubahan di desa, terutama dalam mencegah munculnya kasus zoonosis yang dapat mengancam keselamatan masyarakat,” tambahnya.
Upaya ini sejalan dengan komitmen Pemkab Bandung Barat dalam meningkatkan kesehatan masyarakat berbasis pendekatan One Health, yakni kolaborasi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Pendekatan ini dianggap efektif untuk meminimalisir risiko kemunculan penyakit baru dan memastikan penanganan lebih cepat serta tepat sasaran,” paparnya.
Dengan adanya kader zoonosis yang terlatih, pemerintah daerah berharap masyarakat lebih sadar terhadap potensi bahaya penyakit yang berasal dari hewan.
“Sosialisasi yang berkelanjutan juga dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat lebih memahami pentingnya vaksinasi hewan, kebersihan kandang, serta pola hidup bersih dan sehat,” ungkap Wiwin.
Melalui kegiatan ini, Dispernakan KBB menegaskan komitmennya dalam menjaga kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan kesehatan hewan di Bandung Barat.
“Sosialisasi serupa rencananya akan terus dilaksanakan secara bertahap di kecamatan lain hingga seluruh desa memiliki kader zoonosis yang aktif dan kompeten,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Instagram @dispernakan_kbb








