SEKITARKITA.id – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) meninggalkan trauma mendalam bagi warga Kampung Cihaliwung, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang.
Sebuah tembok penahan tanah (TPT) setinggi sekitar 2 meter tiba-tiba ambles dan longsor, membuat satu rumah warga berada tepat di bibir jurang ancaman bencana susulan.
Peristiwa mencekam itu terjadi pada Jumat, 27 Januari 2026, sekitar pukul 09.15 WIB. Longsoran tanah dari tebing dihalaman rumah membuat struktur tanah di sekitar bangunan menjadi labil dan rawan ambruk kapan saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kejadian ini tepatnya berlangsung di RT 003/RW 006, Kampung Cihaliwung, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Rumah berukuran 9 x 7 meter milik Herman Hermawan (43) kini berdiri di atas tanah yang tak lagi stabil. Di dalamnya, 9 jiwa (4 dewasa dan 5 anak-anak) hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun.
“Kejadian sudah kali kedua, tahun 2025 dan kemarin ini yang kedua kurang lebih dua minggu kebelakang. Malam itu hujan besar, paginya saya lihat ke depan teras sudah longsor seperti ini,” ujar Herman kepada SEKITARKITA.id, Minggu (15/2/2026).
Longsoran tersebut juga mengancam rumah warga lain yang berada di bawah tebing. Meski jarak masih relatif aman, pergerakan tanah yang terus terjadi membuat warga khawatir longsor akan meluas.
Bertahan Tanpa Evakuasi, Warga Pasang Terpal dan Karung Tanah
Hingga kini, belum ada arahan evakuasi resmi. Herman dan keluarganya terpaksa bertahan di rumah yang berada di zona rawan.
Sebagai langkah darurat, warga memasang terpal, bambu penahan, serta karung berisi tanah di titik longsor—semuanya dilakukan secara mandiri.
“Kami kerjakan sendiri. Cuma pasang bambu, terpal, dan karung tanah supaya nggak makin ambruk,” katanya.
Namun, upaya tersebut hanya bersifat sementara. Saat hujan kembali mengguyur, air masih menggerus tanah di balik TPT yang sudah runtuh.
Herman mengungkapkan, pihak pemerintah setempat sempat datang melakukan survei dan pendataan.
“Sudah difoto, kami diminta KTP dan KK untuk pengajuan. Mudah-mudahan bantuan segera teralisasi,” keluhnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala Desa Kertamulya, Farhan Fauzi, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dan langsung mengutus perangkat desa untuk mengecek lokasi.
“Sudah ada laporan, untuk sementara dipakai terpal dan antisipasi longsor susulan,” ujarnya.
Farhan menambahkan, pihak desa telah mengusulkan anggaran perbaikan TPT.
“Sudah diusulkan, mudah-mudahan bisa direalisasikan pada bulan Ramadhan 2026,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








