SEKITARKITA.id – Siang itu, lorong Pasar Tagog Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tampak cukup ramai, lantai utama khususnya di blok sembako dan oleh-oleh.
Aktivitas jual beli berjalan seperti biasa dengan lalu lalang pembeli yang cukup padat.
Namun, kondisi berbeda terlihat di lorong lain. Salah satunya di lantai 2 kios yang menjual aneka plastik yang tampak lengang dan sepi pengunjung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seorang pedagang bernama Fery terlihat santai duduk di kursi plastik sambil menghadap ke depan tokonya.
Tak banyak aktivitas yang ia lakukan selain menunggu pembeli datang. Saat pelanggan tak kunjung muncul, ia hanya bisa berdiam diri.
Fery, yang akrab disapa Ibu Fery, merupakan generasi kedua penjual plastik di Pasar Tagog Padalarang.
Ia telah meneruskan usaha keluarganya sejak tahun 2018 dan kini sudah hampir delapan tahun berjualan.
“Betul, lagi naik. Kenaikan Rp5 ribu untuk semua produk, seperti kantong kresek dan plastik kemasan cemilan. Kenaikan terjadi sejak puasa dan Lebaran,” ujar Fery saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Wanita berusia 52 tahun itu menyebutkan, kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak masa Ramadan dan belum juga mengalami penurunan hingga saat ini.
“Sudah beberapa kali naik, bertahap. Misalnya dari Rp5 ribu jadi Rp10 ribu,” tambahnya.
Menurutnya, produk plastik yang dijual berasal dari berbagai sumber, baik dari penyuplai maupun pembelian langsung ke daerah seperti Cibadak dan Astanaanyar dan lainnya.
Namun, kenaikan harga membuatnya kerap menerima keluhan dari pelanggan.
“Kok terus naik, kok segini. Saya juga nggak tahu, dari sananya juga sudah naik,” tuturnya.
Dampak Perang Global Terasa Hingga Pasar Tradisional
Fery mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik ini diduga dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Ia menyebut perang yang melibatkan negara-negara besar berdampak langsung pada bahan baku plastik.
“Awalnya saya pikir nggak nyambung gara-gara perang. Ternyata bahan bakunya kena dampak,” ujarnya.
Ia pun menyadari bahwa konflik global memiliki efek luas hingga ke sektor usaha kecil.
Kenaikan harga bahan baku membuatnya harus mengurangi jumlah pembelian karena keterbatasan modal.
“Memang benar naik terus. Saya jadi kurangi pembelian, karena berpengaruh ke modal,” katanya.
Untuk menjaga perputaran uang, Fery memilih berbelanja stok plastik setiap hari dalam jumlah kecil, dibandingkan membeli dalam jumlah besar sekaligus.
“Belanja tiap hari, nggak seperti yang lain yang bisa numpuk stok,” tambahnya.
Pelaku Usaha Kecil Terhimpit
Kenaikan harga plastik yang terjadi pada April 2026 bukan hanya menjadi persoalan lokal, tetapi juga bagian dari dampak gangguan rantai pasok global.
Konflik di Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga bahan baku plastik di pasar dunia.
Industri plastik yang bergantung pada minyak bumi dan distribusi internasional sangat rentan terhadap gejolak geopolitik.
Ketika jalur distribusi terganggu, dampaknya langsung terasa hingga ke pedagang kecil di daerah seperti Padalarang.
Para pelaku usaha kini menghadapi dilema besar: menaikkan harga jual atau menanggung kerugian.
Banyak yang akhirnya memilih menaikkan harga demi bertahan, meski berisiko kehilangan pelanggan.
Fery berharap kondisi segera membaik dan harga kembali stabil.
“Inginnya normal kembali seperti dulu. Kasihan pembeli, kasihan juga penjual kecil, berharap pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat hadir memberikan solusi kepada pedagang langkah kedepannya seperti apa,” pungkasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








