SEKITARKITA.id – SD Negeri (SDN) Gunungmasigit di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menjadi salah satu sekolah yang terdampak sebaran debu kapur yang diduga berasal dari aktivitas sejumlah perusahaan pengolahan kapur di wilayah tersebut.
Memasuki musim kemarau, debu yang terbawa embusan angin menyelimuti lingkungan sekolah. Kondisi tersebut mengganggu kenyamanan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan dikhawatirkan berdampak pada kesehatan siswa maupun tenaga pendidik.
Kepada wartawan, Guru SDN Gunungmasigit, Yayan Suryana, mengatakan persoalan debu bukan hal baru. Menurutnya, setiap musim kemarau sekolah selalu menghadapi kondisi serupa akibat debu dari jalan serta aktivitas industri pengolahan kapur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau dari pihak sekolah memang setiap tahun seperti ini. Saat musim kemarau, debu dari jalan maupun dari pabrik-pabrik kapur sangat mengganggu aktivitas di sekolah,” ujar Yayan saat ditemui di SDN Gunungmasigit, Senin (27/7/2026).
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai siswa, guru, maupun orang tua yang mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan debu kapur. Namun, ia menilai kondisi tahun ini lebih parah dibandingkan musim kemarau sebelumnya.
Menurut Yayan, keberadaan pepohonan di sekitar sekolah masih cukup membantu mengurangi debu yang masuk ke lingkungan sekolah. Akan tetapi, kemarau yang lebih panjang membuat debu semakin mudah terbawa angin.
“Untungnya masih banyak pepohonan yang menahan debu, tetapi tahun ini kemarau lebih panjang sehingga debu lebih mudah terbawa angin ke lingkungan sekolah,” katanya.
Ia menegaskan, meskipun warga sekolah sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut, dampak debu tidak boleh dianggap remeh. Debu yang terus beterbangan tetap mengganggu proses pembelajaran sekaligus berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak.
Karena itu, pihak sekolah berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, khususnya Dinas Kesehatan (Dinkes), dapat memberikan bantuan berupa masker bagi siswa dan guru selama musim kemarau.
“Waktu pandemi COVID-19 dulu ada pembagian masker. Mungkin sekarang juga perlu dilakukan lagi jika debu semakin parah, agar kesehatan anak-anak dan guru tetap terjaga,” ucapnya.
Selain persoalan debu kapur, SDN Gunungmasigit kini juga menghadapi ancaman krisis air bersih. Kemarau yang berkepanjangan menyebabkan pasokan air mulai sulit diperoleh.
“Sekarang saja air sudah sulit. Berbeda dengan Agustus tahun lalu, saat itu masih ada air. Tahun ini kemarau lebih berat dan air bersih mulai susah didapat,” ungkap Yayan.
Ia khawatir apabila musim kemarau terus berlangsung, kondisi lingkungan sekolah akan semakin memburuk karena ketebalan debu meningkat dan kebutuhan air bersih semakin sulit dipenuhi.
“Semoga ada perhatian dari Disdik dan Dinkes untuk penyediaan masker dan semoga ada solusi juga untuk air bersih di sekolah,” pungkasnya.
Kondisi SDN Gunungmasigit menjadi perhatian karena lingkungan sekolah semestinya menjadi tempat yang aman, sehat, dan nyaman bagi peserta didik.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengurangi dampak debu industri, sekaligus membantu penyediaan masker serta memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekolah-sekolah yang terdampak musim kemarau.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







