SEKITARKITA.id – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendorong peningkatan penggunaan produk lokal sebagai bahan utama menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya ini dilakukan untuk memastikan kualitas gizi tetap terjaga sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, mengatakan bahwa hasil perikanan dan peternakan Bandung Barat seperti ikan, daging ayam, dan telur terbukti memenuhi standar kualitas dan sangat layak digunakan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin bahan MBG lebih banyak berasal dari produsen lokal. Kita punya ikan, ayam, telur, dan lainnya yang kualitasnya baik. Dengan begitu, perputaran ekonomi masyarakat juga ikut tumbuh,” ujar Wiwin.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat juga tengah menyiapkan perekrutan relawan pengawas bahan pangan segar untuk memastikan seluruh bahan makanan yang masuk ke SPPG aman dikonsumsi.
Para relawan nantinya bertugas memeriksa berbagai komoditas, terutama sayuran, agar bebas dari residu pestisida dan senyawa berbahaya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian KBB, Lukmanul Hakim, menegaskan pelibatan masyarakat menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketelitian dalam pengawasan pangan.
“Kita berdayakan masyarakat. Akan ada pendamping yang membantu mengecek keamanan bahan, misalnya memastikan kadar pestisida masih dalam batas aman,” katanya.
Para relawan akan dibekali pelatihan mengenai metode pengujian bahan pangan segar sebelum diterjunkan ke dapur-dapur SPPG. Program ini ditargetkan dapat berjalan mulai tahun depan.
Selain penambahan relawan, Pemkab Bandung Barat juga berencana memperkuat fasilitas pengujian dengan menyediakan alat rapid test guna mendeteksi formalin, sianida, boraks, nitrit, dan residu pestisida dalam bahan pangan.
“Mudah-mudahan anggarannya memungkinkan supaya alat rapid test bisa kita tambah,” ujar Lukmanul.
Upaya ini dilakukan karena Bandung Barat sebelumnya pernah menghadapi kasus keracunan massal yang cukup tinggi di sejumlah kecamatan seperti Cipongkor, Cihampelas, Cisarua, Padalarang, Lembang, hingga Ngamprah.
Lebih dari 2.000 warga saat itu dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Selain aspek keamanan, Pemkab Bandung Barat juga terus mengimbau seluruh dapur SPPG agar mengutamakan penggunaan komoditas pertanian lokal.
Mulai dari beras hingga berbagai jenis sayuran, kualitas produksi pertanian KBB dinilai sangat baik dan mampu memenuhi kebutuhan MBG.
“Kami rutin mengimbau agar SPPG menyerap produksi petani lokal. Kualitasnya sangat baik dan layak untuk mendukung kebutuhan MBG,” tegas Lukmanul.
Dengan serangkaian langkah tersebut, Pemkab Bandung Barat berharap program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih aman, berkualitas, dan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








