[ad_1]
HARGA MINYAK MEDAH MENGALAMI PENURUNAN TAJAM PAYA PERDAGIGIAN RABU (29/1), DANGAN MINYAK MISAH BERJANGKA Amerika Serikat (WTI) Turun $ 1,15 ATAU 1,6% KE Stage $ 72,62 in keeping with barel. Ini menjadi harga penyelesian terendah selama tahun ini, setelah information stok minyak mentah sebagai memperlihatkan peningkatan lebih besar sekali Dari perkiraan, anggota tambahan tambahan haraga.
Berdasarkan Analisis Teknikal Dari Dupoin Indonesia, Andy Nugraha, Kombinasi Pola Candlestick Dan Indikator Shifting Rata -Rata Yang Terbentuk Saat Ini Mengonfirmasi Tren Bearish Masih Dominian Pada Wti. TEKANAN JUAL YANG KUAT DAPAT MEMBAWA HARGA MINYAK TURUN LEBIH DALAM, DENGAN POTENSI Hingga Stage $ 71. Tetapi, Andai Terjadi Rebound, harga wti Diprediksi Bisa Merasakan Kenaikan Sampai Ke Stage $ 75 Sebagai Goal TerdeKatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktor Utama Yang MEMPENGARUHI PERGERIGA HARGA MINYAK HAJA INI ADALAH KENDAAN STOK MINYAK MISAH DI SEBEESAR 3.46 JUTA BAREL MINGGU LALU. Peningkatan ini terjadi sebab merosotnya aktivitas penyulingan untuk miringgu ketiga-turut, seperti yang dilaporkan eheH baja informasi energi sebagai (EIA). Lonjakan Stok ini menandakan Berkurangnya permintaan Minyak Mentah, Yang Berkontribusi Pada Pelemahan Haran.
Selain Itu, Kebijakan Ekonomi Global Juta Meladi Faktor Yang Memicu Volatilitas Pasar Minyak. Gedung Putih Pada Hari Selasa Kembali Menegaskan Rencana Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif 25% PAYA penting Dari Kanada Dan MeksIKo Mulai 1 Februari. Langkah Ini Berpotensi Meningkatkan Ketidatpastian Perdagangan Dan Memperlambat Permintaan Minyak Global. Analis UBS, Giovanni Staunovo, memperingatkan bahwa perdagangan minyak jangka pendek akan tetap bergejolak sebab investor mempertimbangkan dampak tarif tersebut, sanksi terhadap energi Rusia, serta kekhawatiran perlambatan ekonomi di negara-negara konsumen utama.
Dari Sisi Kebijakan Moneter, Federal Reserve sebagai Mempertahankan Suku Bunga Tetap Pada Pertema Hari Rabu. Tetapi, The Fed Tenjak Memberyal Sinyal Jelas Mengenai Kapan Mereka Akan Mulai Menurunkran Biaya Pinjaman. Ketidatpastian Ini Bisa Mempengaruhi Tingkat Perumbuhan Ekonomi Dan Permintaan Minyak Ke Depanya.
Para Pelaku Pasar Juta Menantikan PerteMuan Menteri Opec+ Yang Dijadwalkan Pada 3 Februari. FOKUS Utama PerteMuan ini Adalah Keutusan Mengenai Rencana Peningkatan Pasokan Mulai April. Pekan Lalu, Presiden Trump Sempat Meminta Opec+ UNTUK MENURUNKAN HARGA MINYAK, TETAPI HINGGA KINI BELUM ADA Respons Resmi Dari Kelompok Terping. Para delegasi Menyatakan Bahwa Kemunckinan Perubahan Kebijakan Pada Pertemuan Februari Masih Kecil.
Sementara waktu Itu, Kekhawatiran Terhadap Pasokan Global Minim Mereda Setelah Nationwide Oil Corp Libya Melaporkan Bahwa Aktivitas Ekspor Berjalan Customary. Hal ini terjadi setelah negosiasi gargan para pengunjuk rasa yang Sebelumnya Mengancam Akane Memberhentikan Pemuatan Di Salah Satu Pelabuhan Minyak Utama Libya. Meski Demikian, Risiko Gangguan Pasokan Dari Libya Tetap Ada Mengingat Kondisi Geopolitik Negara Tersebut Yang Masih Bergejolok.
Dalam Menghadapi Ketitaspastian Pasar Minyak, Pelaku Pasar Perlu Presermati Pergerakan Harangan Strategi Strategi Yang Fleeksibel. DENGAN TEANAN JUAL YANG MASIH DOMINAN, Peluang Korekssi Harak Tetap Terbuka, Tetapi Potensi Rebound Jaga Dapat Dimanfaatkan Sebagai Peluang Buying and selling. Dinamika Kebijakan Global, Keutusan Opec+, Serta Perkembangan Ekonomi Utama Akan Menjadi Faktor Penentu Arah Pergerakan Minyak Ke Depan.
[ad_2]
Sumber: vritimes








