SEKITARKITA.id – Kamera pengawas CCTV yang terintegrasi dalam sistem Area Traffic Control System (ATCS) milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih kerap mengalami kendala jaringan internet.
Kondisi geografis wilayah Bandung Barat yang luas dan berbukit menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga kestabilan koneksi sistem pemantauan lalu lintas tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Lalu lintas Dishub KBB, Hanny Nurismandyah, ST.,MM, mewakili Kepala Dishub Mochamad Ridwan, mengatakan sebagian besar CCTV ATCS Bandung Barat saat ini masih mengandalkan jaringan internet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, sejumlah kamera terkadang tidak dapat diakses secara optimal, terutama di wilayah utara dan selatan Kabupaten Bandung Barat.
“Biasanya ada beberapa CCTV yang tidak bisa diakses karena kendala jaringan internet. Saat ini sedang dalam proses perbaikan,” ujar Hanny didampingi Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dishub Bandung Barat, Didin Muslihudin, saat ditemui diruang operator CCTV ATCS Dishub Bandung Barat, Sabtu 6 Juni 2026.
Saat ini Dishub Bandung Barat memiliki sebanyak 129 kamera CCTV yang tersebar di 54 simpang jalan untuk memantau kondisi lalu lintas.
“Dalam satu simpang terdapat dua hingga tiga kamera yang berfungsi untuk monitoring kendaraan dan pengaturan arus lalu lintas,” jelasnya.
Beberapa titik CCTV berada di kawasan selatan Bandung Barat, mulai dari perbatasan KBB dengan Kabupaten Bandung seperti Soreang-Cipatik, BBS, Simpang Darul Falah hingga Alun-alun Cililin.
“Sementara di wilayah perbatasan Bandung Barat dengan Kota Cimahi terdapat CCTV di kawasan Padasuka, Cilame, Cimareme, Cangkorah, Citunjung, Pasar Batujajar, Simpang Tol Padalarang, Tagog dan Ciburuy,” ujarnya.
Untuk wilayah utara, kamera pemantau lalu lintas terpasang di Simpang Paratag, kawasan UNAI, Lembang Park and Zoo, eks Kampung Gajah, Simpang Beatrix, Grand Hotel, Inti Metal, Simpang Panorama, Orchid Forest, Tangkuban Parahu, The Lodge Maribaya hingga kawasan Setiabudi yang berbatasan dengan Kota Bandung.
Didin menjelaskan, pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap penggunaan layanan live streaming CCTV ATCS Bandung Barat.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat kunjungan pengguna sekaligus menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan peningkatan kapasitas bandwidth di masa mendatang.
Menurutnya, Dishub Bandung Barat saat ini berupaya mengoptimalkan anggaran yang tersedia dengan memaksimalkan jaringan internet dan pemeliharaan perangkat di setiap titik kamera.
“Kami melihat grafik penggunaan layanan ATCS KBB. Dari situ nanti akan diketahui apakah perlu ada peningkatan bandwidth atau cukup dengan mengoptimalkan jaringan dan pemeliharaan perangkat yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, tidak seluruh CCTV yang dimiliki Dishub Bandung Barat dapat ditampilkan melalui layanan live streaming karena keterbatasan kapasitas sistem dan bandwidth.
Kendala Bisa Berasal dari Server hingga Koneksi Pengguna
Sementara itu, Tim Teknis Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), Firman Syahruman yang didampingi Diky M Rizki menjelaskan, gangguan pada layanan CCTV ATCS Bandung Barat dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Menurut Firman, kendala pertama bisa berasal dari sisi server atau penyedia layanan. Misalnya terdapat CCTV yang terputus, kapasitas penyimpanan yang penuh, maupun gangguan teknis lainnya.
“Setiap sistem memiliki kapasitas. Sama seperti jalan tol yang memiliki batas kemampuan menampung kendaraan,” ujarnya.
Selain itu, masalah juga bisa berasal dari sisi pengguna. Layanan live streaming CCTV membutuhkan bandwidth yang cukup besar sehingga kualitas koneksi internet pengguna sangat berpengaruh terhadap kelancaran akses.
“Bisa saja pengguna menganggap layanan tidak bisa dibuka, padahal kendalanya berada pada kualitas jaringan internet yang digunakan,” katanya.
Tim teknis Dishub Bandung Barat secara rutin melakukan pemantauan dan pengecekan lapangan untuk memastikan seluruh perangkat CCTV berfungsi dengan baik. Pada beberapa tahun sebelumnya, pihaknya juga sempat menerima laporan dari masyarakat terkait kamera yang tidak berfungsi, baik karena gangguan perangkat maupun jaringan internet.
Firman juga menyoroti maraknya aplikasi pihak ketiga yang menampilkan ulang tayangan CCTV dari berbagai sumber resmi. Menurutnya, fenomena tersebut tidak selalu berdampak negatif, namun perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan beban server secara signifikan.
Ia menjelaskan, lonjakan akses dalam jumlah besar harus dipastikan berasal dari pengguna asli, bukan dari robot atau bot yang berpotensi mengganggu sistem.
“Kalau biasanya ada 100 pengguna lalu tiba-tiba menjadi 10.000 akses secara bersamaan, tentu harus dipastikan apakah itu pengguna asli atau lalu lintas otomatis yang berpotensi mengganggu layanan,” jelasnya.
Karena alasan tersebut, pengelola sistem terkadang perlu membatasi akses tertentu untuk menjaga stabilitas layanan dan mencegah gangguan pada server.
Firman mengibaratkan kondisi tersebut seperti jalan tol. Jika jumlah kendaraan masih sesuai kapasitas, lalu lintas akan berjalan lancar. Namun ketika terjadi lonjakan kendaraan secara drastis, diperlukan pengaturan tambahan agar tidak terjadi kemacetan.
“Dishub Bandung Barat memastikan akan terus melakukan optimalisasi jaringan, pemeliharaan perangkat, serta evaluasi kapasitas layanan ATCS agar sistem pemantauan lalu lintas dapat berfungsi maksimal dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








