[ad_1]
Catatan Editor: Ini yaitu bagian dari bagian Opini YourTango di mana masing-masing penulis bisa memberikan berbagai perspektif untuk komentar politik, sosial, dan pribadi yang luas mengenai suatu isu.
Saya berhenti menyampaikan tidak kepada suami saya sepanjang 30 hari. Mengapa? Sebab putus asa. Pada saat puncak perdebatan sengit, dia menatap mata saya dan menyampaikan apa yang saya anggap sebagai hal terburuk yang bisa saya dengar dari seseorang yang saya cintai: “Kamu tidak menghormati saya.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya bukan satu-satunya yang patut disalahkan. Tetapi saya mulai sadar bahwa tidak masalah siapa yang harus segera disalahkan. Saya mempunyai kekuatan untuk melakukan perubahan. Memang dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati, tapi hei, ketakutan dan persaingan jelas tidak berhasil.
Saya tidak percaya harus segera mulai dari mana, jadi saya mengambil keputusan untuk berhenti menyampaikan tidak kepada suami saya sepanjang sebulan dan lihat apa yang sedang terjadi. Saya tidak memberi tahu suami saya tentang rencana saya. Saya baru saja mematikan tombol “tidak” dan mengirim SMS kepada sahabat saya setiap hari agar saya tetap bertanggung jawab.
Setelah saya berhenti menyampaikan tidak kepada suami saya sepanjang 30 hari, saya mendapat pelajaran berikut:
1. Dia memperlakukan saya dengan lebih baik
Kendala terbesar saya dalam keseluruhan eksperimen ini adalah ketakutan akan ketidakberdayaan entire. Aku tidak ingin menjadi keset. Tetapi ternyata, suami saya memperlakukan saya seperti seorang ratu ketika saya menjadi lebih ramah.
Alih-alih bersungut-sungut, dia mulai bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya tentang keputusannya dan kemudian menghargai perasaan itu. Pilihannya lebih mencerminkan kebutuhan saya sebab berasal dari interaksi positif dibandingkan interaksi negatif.
2. Kami berhenti berdebat
Yuri A / Shutterstock
Ketika saya menunda dalam setiap situasi, tak ada lagi yang perlu diperdebatkan! Saat kami tidak berbenturan, kami rukun, dan itu menggerakkan ingatanku pada hari-hari awal kami berpacaran. Hal ini menciptakan rasa pengertian, validasi, dan didengarkan.
Hal ini bisa mencegah konflik meningkat sebab kedua pasangan merasa lebih terhubung dan dihormati, dengan begitu komunikasi dan kompromi bisa lebih lancar. Tetapi, sebuah observasi yang diterbitkan dalam Magazine of Marriage and Circle of relatives menemukan bahwa meski demikian bersikap terbuka terhadap diskusi itu bermanfaat, seorang istri tetap harus segera dapat menyampaikan kebutuhannya dan tidak setuju andai diperlukan, sebab terus-menerus menyampaikan ‘ya’ bisa menimbulkan kebencian.
3. Saya pada akhirnya santai
Saya menyadari bahwa saya baik-baik saja dengan sejumlah besar hal yang tampaknya sangat penting. Siapa yang benar-benar peduli di dinding mana kita menggantungkan lukisan yang mana? Saya menikmati pilihan filmnya lebih dari yang saya harapkan, dan saya lebih menghargai waktu kami menonton bersama daripada movie itu sendiri.
Ketika saya keluar dari pola pikir bahwa saya selalu membutuhkan segala sesuatu sesuai keinginan saya, saya menyadari bahwa ikuti arus membebaskan saya dari tekanan pengambilan keputusan besar.
4. Saya menyadari betapa sejumlah besar ide cerdas yang dimiliki suami saya
Menyampaikan tidak menjadi refleksif seiring berjalannya waktu. Ketika saya menghapus tutur itu dari kosakata saya, saya mendapati diri saya terbuka terhadap ide-ide suami saya dan benar-benar mempertimbangkannya.
Saya menyadari betapa bijaksana dan masuk akal rencananya. Dia tak henti-hentinya memperhitungkan faktor keamanan yang saya lewatkan sepenuhnya dan dia berpikir ke depan dengan cara yang tak henti-hentinya saya abaikan.
Ketika saya hendak berlibur di Karibia, dia lihat ke depan dan tahu bahwa ini adalah musim badai. Dia mengambil keputusan Yunani, yang mempunyai cuaca sempurna dan saya sangat bahagia.
Dan meski demikian saya ingin menghemat uang dengan merakit sendiri furnitur kami, dia bersikeras agar kami mempekerjakan seseorang yang bisa memasang furnitur dengan baik ke dinding. Sebagai ibu yang mempunyai anak kecil, saya menghargai pemikiran praktis seperti itu.
Hal ini bisa menciptakan dinamika psikologis di mana istri mulai menerima ide-ide yang lebih cerdas dari suaminya, terutama sebab kombinasi penguatan positif, bias konfirmasi, dan keinginan untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan.
Sebuah observasi yang diterbitkan dalam Magazine of Obsessive-Compulsive and Pals Issues menyimpulkan bahwa menghindari konflik dengan langsung menyetujui bisa menciptakan rasa nyaman dan harmonis dalam hubungan, yang selanjutnya bisa mendorong istri untuk memeriksa ide-ide suaminya secara positif.
5. Saya menjadi reseptif terhadap sejumlah besar hadiah yang saya bahkan tidak sadari suami saya coba berikan kepada saya
Produksi AYO / Shutterstock
Pada hari-hari “tidak”, saya tidak tahu berapa kali saya menolak pengalaman yang menyenangkan bagi saya dan peluang bagi suami saya untuk merasa senang sebab memperlakukan saya dengan benar. Saat dia menyarankan agar kami makan pizza, kupikir aku hanya berterus terang saat menolaknya sebab aku tidak lapar.
Saya menolak bepergian ke bioskop sebab saya lelah dan itu tidak sebanding dengan masalahnya. Ketika dia menawarkan diri untuk menjalankan tugas atau membangunkan sesuatu untuk saya, saya merasa bahwa penolakan saya akan menyelamatkan usahanya, atau bahwa saya sendiri bisa menyelesaikannya dengan lebih cepat atau lebih baik.
Nyatanya, aku telah mengucilkannya dengan menghapus kesempatannya untuk membuatku bahagia. Menyampaikan “ya” membuatku menghargainya dan membuatku mengalami perasaan dihargai.
6. Saya menjaga diri saya dengan lebih baik
Bersikap reseptif terhadap orang lain membukakan saya untuk memanjakan diri dalam merawat diri. Saya mendapati diri saya melakukan manikur dan menghabiskan lebih sejumlah besar waktu di sauna, tanpa rasa bersalah.
Ketika saya perawatan diri sendiri dengan baik, saya jauh lebih siap untuk merawat orang lain. Sikap saya membaik, dan itu sangat beruntung kami berdua.
Menumbuhkan rasa keterhubungan dan validasi, yang pada gilirannya mendorong Anda untuk mengutamakan kesejahteraan Anda, sebab semakin mudah untuk dapat menyadari bahwa Anda berhak dapatkan perhatian dan dukungan, sama seperti Anda menawarkannya kepada orang lain. Sebuah studi dari American Mental Affiliation menyimpulkan bahwa hal ini bisa dijelaskan melalui konsep seperti empati, rasa sayang pada diri sendiri, dan dampak positif dari hubungan yang sehat terhadap kesehatan psychological.
7. Saya merasa baik selama waktu
Kesepakatan dan penundaan membingkai duniaku, yang membuat ekspresi fisikku terhadap suamiku lembut dan nada bicaraku lembut dan terbuka. Saya mendapati diri saya tersenyum selama waktu dan menikmati aura kedamaian yang kini saya alami dalam hidup sehari-hari.
Jadi, apakah saya sudah bersumpah “tidak” untuk selamanya? Tidak sepenuhnya. Saya memang tak henti-hentinya untuk membuat pilihan “ya”. Tutur “Tidak” dan ada tempatnya, tapi saya jauh lebih reflektif dan kurang reaktif dibandingkan sebelumnya.
Ketika saya menyampaikan “ya”, saya terbuka terhadap dampak positifnya. Dan ketika saya menyampaikan “tidak”, hal itu tidak pernah didasari oleh rasa takut atau ketidakpastian. Saya menyampaikan “ya” ketika ada hal-hal yang tidak terlalu penting dan, tentu saja, saya selalu menyampaikan “ya” untuk mencintai.
Elisa Cinelli adalah mantan penulis berita untuk Babygaga dan karyanya telah ditampilkan di Horrifying Mommy, Her View from Dwelling house, dan sejumlah besar lagi.
[ad_2]
Sumber: yourtango








