SEKITARKITA.id– Kasus dugaan keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sebanyak 65 siswa SMKN 1 Cihampelas mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Rabu (24/9/2025). Jumlah korban terus bertambah hingga pukul 18.20 WIB sekitar 163 siswa.
Berdasarkan informasi, siswa menerima paket makanan MBG sekitar pukul 10.20 WIB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menu yang disajikan terdiri dari karedok dengan sambal kacang, telur rebus, pisang, serta kentang rebus sebagai pengganti nasi.
Sekitar pukul 11.30 WIB, siswa mulai menyantap hidangan tersebut. Tak lama kemudian, puluhan siswa merasakan mual, pusing, hingga sesak napas.
Asep Herna, orang tua siswa bernama Carissa Awaliyah dari jurusan TKJ, mengaku kecewa dengan insiden ini.
“Dapat laporan anak saya keracunan makanan santap program MBG langsung dilarikan ke klinik terdekat. Program ini sebetulnya sangat baik, tapi pengelolaannya harus dievaluasi,” kata Asep kepada sekitarkita.id.
Ia menilai ada banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari kapasitas dapur, penggunaan air bersih, hingga mekanisme penyajian makanan.
“Satu dapur maksimal 300 porsi, masaknya jangan dipaksa setiap hari. Evaluasi harus ketat, sumber air jelas dan bersih. Jangan sampai niat baik Presiden Prabowo untuk generasi emas malah jadi musibah,” ujarnya.
Asep menegaskan distribusi MBG perlu dihentikan sementara hingga investigasi tuntas.
Ia juga meminta standar MBG mengikuti aturan pusat agar terhindar dari praktik asal-asalan atau kepentingan proyek politik.
“Kejadian di Cipongkor dan Cihampelas pelajaran berharga untuk MBG sebagai pengelola untuk lebih hati-hati dan transparan terhadap pihak manapun agar fungsi pengawasan dapat dilakukan secara maksimal. Fungsi dari pada ahli gizi dipertanyakan,” tandasnya.
Nada kekecewaan juga datang dari Fitri, orang tua siswa lainnya. Ia mengaku menyesal anaknya ikut mengonsumsi MBG.
“Kalau kayak gini kapok, enggak bakalan mau lagi nerima program MBG. Mending bawa bekal sendiri dari rumah,” kata Fitri.
Menurut Fitri, ia sudah mengingatkan anaknya untuk berhati-hati setelah kasus keracunan MBG di Kecamatan Cipongkor sehari sebelumnya.
“Ternyata justru kejadian di sekolah anak saya. Miris,” ungkapnya.
Para korban keracunan MBG langsung mendapat penanganan di Puskesmas Cihampelas dan RSUD Cililin.
Namun, lonjakan pasien membuat fasilitas kesehatan kewalahan menampung siswa yang terus berdatangan.
Kasus ini menambah daftar panjang keracunan massal akibat MBG di Bandung Barat. Sehari sebelumnya, ratusan siswa SMK di Cipongkor juga mengalami hal serupa.
Pemerintah daerah bersama dinas terkait diminta segera mengambil langkah cepat, mulai dari evaluasi sistem pengelolaan hingga memastikan standar kebersihan dapur MBG benar-benar sesuai aturan.
Sebelumnya, kasus dugaan keracunan massal kembali terjadi dan menimpa 65 siswa SMKN 1 Cihampelas KBB. Para siswa mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program MBG.
Asep, Kasubag TU Puskesmas Cihampelas, mengungkapkan bahwa dari total korban, 36 siswa dilarikan ke RSUD Cililin, puskesmas, dan klinik terdekat. Sementara sisanya dirawat di posko kesehatan sekolah atau dibawa pulang.
“Total terdampak ada 70 siswa, dan 35 di antaranya sudah bisa pulang dari posko,” jelas Asep.
Namun, kapasitas RSUD Cililin terbatas sehingga sebagian korban harus dirujuk ke rumah sakit lain, yakni RS Karisma (15 bed), RSUD Cibabat (30 bed), dan RSIA Azahra. RSUD Dustira juga menyatakan siap menampung pasien tambahan.
“Kami juga menanyakan kepada orang tua korban, mereka ingin anaknya dirujuk ke rumah sakit mana supaya lebih cepat penanganannya,” lanjutnya.
Jumlah korban keracunan terus bertambah. Beberapa siswa yang sempat dipulangkan kembali dibawa ke posko darurat karena kondisi memburuk.
Bahkan, sejumlah siswa mengalami gejala berat seperti kejang-kejang, sesak napas, hingga menangis kesakitan.
Kepala SMKN 1 Cihampelas, Sudirman, menyatakan kekecewaannya terhadap kualitas makanan MBG yang seharusnya menyehatkan, namun justru menimbulkan insiden massal.
“Kami sangat prihatin dan kecewa, makanan yang seharusnya menyehatkan malah membuat anak-anak sakit,” tegasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








