SEKITARKITA.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Setelah sebelumnya muncul kasus dugaan keracunan, kini giliran orangtua murid SDN Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, yang menyampaikan keluhan terkait kualitas dan ketepatan waktu pembagian menu MBG.
Beberapa orangtua menilai menu yang diberikan tidak konsisten, sering terlambat, bahkan ada yang dianggap tidak layak konsumsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu orangtua murid berinisial LN (32) mengungkapkan bahwa sejak beberapa bulan terakhir, pembagian makanan MBG di sekolah anaknya tidak sesuai jadwal.
“Yang jadi kendala itu pembagian MBG selalu telat, pas nanya ke guru katanya karena makanannya datang terlambat setelah siswa jam pulang, jadi tidak bisa dibagikan (dibalikin lagi). Pernah juga dibilang takut menimbulkan keracunan karena kondisinya tidak layak,” ujar LN kepada SEKITARKITA.id, Rabu 19 November 2025.
Keterlambatan tersebut membuat siswa harus menunggu lama selepas salat Jumat atau bahkan setelah jam pelajaran selesai.
“Apalagi kalau hari Jumat, kadang dibagiin abis Jumatan, pas Jumat kemarin sih enggak dibagiin saya juga enggak tau teknis pembagiannya seperti apa,” ujarnya.
Tak hanya soal keterlambatan, kualitas menu juga dikeluhkan. LN menyebutkan, terutama pada hari Jumat, menu MBG kerap tidak memenuhi standar gizi.
“Menu ganti-ganti, tapi khusus hari Jumat selalu asal-asalan. Kadang cuma dapat roti isian pakai telur, itu pun rasanya tidak enak. Daging juga pernah dibagikan tapi terlihat kurang matang,” jelasnya.
Beberapa kali siswa menerima lauk ayam yang dinilai masih terlihat mentah dan tidak layak konsumsi.
Keluhan meningkat ketika beberapa siswa diminta untuk membawa pulang menu burger isian daging yang belum matang untuk dipanggang kembali di rumah.
“Pernah dapat roti burger isian daging yang masih mentah, tapi malah disuruh bawa pulang untuk dipanggang lagi oleh guru. Tidak ada penjelasan jelas dari pihak sekolah,” tutur LN.
Kondisi ini membuat orangtua semakin khawatir terhadap keamanan pangan yang seharusnya menjadi prioritas dalam program MBG.
LN berharap pemerintah daerah turun tangan mengevaluasi penyedia makanan dan sistem distribusi.
“Jangan asal-asalan. Ini makanan untuk anak-anak. Jangan sampai mereka menunggu lama atau makan makanan yang tidak layak,” tegasnya.
Orangtua juga meminta pihak sekolah lebih responsif dan transparan ketika terjadi masalah dalam distribusi.
Sementara itu, seorang siswa inisial K kelas 3 SDN Sukamaju yang ditemui juga mengaku merasakan hal serupa.
“Pernah ayamnya sering kurang matang. Katanya harus dipanggang di rumah,” ujar siswa tersebut.
Meski demikian, beberapa menu seperti sayuran masih dinilai layak dan enak dikonsumsi.
“Menunya kadang gorengan, kacang dan buah apel enggak ada nasi, kemarinnya lagi nasi, tahu pake terigu diadonin, goreng kaya jajanan sempol, sayur kol dan timun rebus doang, enggak enak aku enggak suka,” ujar murid.
Diketahui bahwa menu MBG untuk SDN Sukamaju didistribusikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Cipadang Manah, Desa Padalarang, KBB.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi. Guru SDN Sukamaju yang dikonfirmasi tak bersedia memberikan komentar.
Di sisi lain, keluhan juga datang dari warga sekitar. Rahmi (29), warga RW 25 Kampung Sukamulya yang tengah hamil 8 bulan, mengaku tidak pernah mendapatkan manfaat dari program MBG sejak awal diluncurkan.
“Dari pertama program ini aku mah belum pernah dapat. Sekarang saya hamil anak ketiga,” ujarnya.
Rahmi menambahkan bahwa program MBG seharusnya juga menyasar lansia dan ibu hamil, sebagaimana informasi yang ia ketahui.
“Harapannya sih merata dan jelas higienis makanannya,” pungkasnya.
Keluhan soal keterlambatan distribusi hingga menu yang dinilai tidak layak konsumsi kembali menambah daftar permasalahan dalam pelaksanaan program MBG di Kabupaten Bandung Barat.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar tujuan utama program, yakni meningkatkan gizi masyarakat, dapat benar-benar tercapai secara aman dan tepat sasaran.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








