SEKITARKITA.id– Derita panjang akibat pergerakan tanah masih dirasakan pasangan suami istri Urip Kusnadi (44) dan Waty Sutiawati (46), warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Waty bercerita, rumah yang mereka tempati rusak berat sejak pergerakan tanah melanda pada Desember 2023, namun hingga kini belum ada perbaikan dari pihak berwenang.
“Awalnya retakan kecil, lama-lama besar, sampai longsor di bagian depan. Sekarang teras juga sudah retak dengan lebar sampai 2 meter. Saya takut kalau nggak segera dibenahi, rumah bisa ambruk,” ungkap Waty dengan suara lirih saat ditemui Sekitarkita.id di lokasi, Kamis (17/4/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Waty, bencana tersebut juga menyebabkan tebing setinggi 5 meter longsor. Akibatnya, dua kepala keluarga (KK) termasuk dirinya terpaksa mengungsi dan menyewa rumah milik saudara sebesar Rp700 ribu per bulan.
“Sudah hampir tiga tahun, belum ada realisasi bantuan perbaikan dari pemerintah. Dulu sempat ada bantuan logistik waktu kejadian, tapi untuk perbaikan rumah belum ada sama sekali, hanya janji,” keluh Waty seraya meneguk secangkir teh hangat.
Mata berkaca-kaca, Waty mengaku, di tengah keterbatasan ekonomi, ia harus memikirkan biaya hidup harian hingga pendidikan anak.
Sementara, kata dia, sang suami hanya bekerja serabutan, penghasilan pun tak menentu. Dirinya harus memutar otak agar bisa bertahan hidup.
“Jangankan buat betulin rumah, buat makan sehari-hari dan sekolah anak juga masih kekurangan,” sambungnya penuh harap.
Senada dikatakan, Suaminya, Urip Kusnadi, ia berujar, bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengajukan bantuan dan meminjam uang ke keluarga. Namun hingga kini, belum membuahkan hasil.
“Sudah disurvey, diminta dokumen seperti KK, tapi belum ada tindak lanjut. Rumah ini tanah milik pribadi, tapi dengan kondisi seperti sekarang dijual pun siapa yang mau,” ucap Urip penuh kesal.
Kekecewaan juga disampaikan Urip karena belum ada satu pun anggota DPRD KBB, termasuk dari dapil (daerah pemilihan) setempat, yang meninjau langsung lokasi bencana tersebut.
“Waktu kampanye datang ke rumah-rumah, sekarang setelah jadi (anggota dewan), jangankan bantu, datang aja nggak,” katanya dengan nada kecewa.
Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun DPRD KBB. Kondisi rumah yang rusak parah dan ancaman longsor setiap musim hujan membuat mereka terus hidup dalam kekhawatiran.
“Setiap hujan tanah terbawa air, retakan makin meluas. Kami harap ada tindakan nyata, jangan cuma janji,” tutup Waty.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah desa, kecamatan, maupun Pemkab Bandung Barat terkait perbaikan rumah warga terdampak pergerakan tanah di Ngamprah.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








