Pilu Warga Ngamprah KBB: Rumah Rusak Akibat Pergerakan Tanah, Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki

- Penulis

Kamis, 17 April 2025 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEKITARKITA.id– Derita panjang akibat pergerakan tanah masih dirasakan pasangan suami istri Urip Kusnadi (44) dan Waty Sutiawati (46), warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Waty bercerita, rumah yang mereka tempati rusak berat sejak pergerakan tanah melanda pada Desember 2023, namun hingga kini belum ada perbaikan dari pihak berwenang.

“Awalnya retakan kecil, lama-lama besar, sampai longsor di bagian depan. Sekarang teras juga sudah retak dengan lebar sampai 2 meter. Saya takut kalau nggak segera dibenahi, rumah bisa ambruk,” ungkap Waty dengan suara lirih saat ditemui Sekitarkita.id di lokasi, Kamis (17/4/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Waty, bencana tersebut juga menyebabkan tebing setinggi 5 meter longsor. Akibatnya, dua kepala keluarga (KK) termasuk dirinya terpaksa mengungsi dan menyewa rumah milik saudara sebesar Rp700 ribu per bulan.

Kondisi rumah warga terdampak pergerakan tanah di warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Foto: Abdul Kholilulloh
Kondisi rumah warga terdampak pergerakan tanah di warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Foto: Abdul Kholilulloh

“Sudah hampir tiga tahun, belum ada realisasi bantuan perbaikan dari pemerintah. Dulu sempat ada bantuan logistik waktu kejadian, tapi untuk perbaikan rumah belum ada sama sekali, hanya janji,” keluh Waty seraya meneguk secangkir teh hangat.

Baca Juga:  Gracie Abrams '' yang sangat benar 'adalah No. 1 di Pop AirPlay Chart

Mata berkaca-kaca, Waty mengaku, di tengah keterbatasan ekonomi, ia harus memikirkan biaya hidup harian hingga pendidikan anak.

Sementara, kata dia, sang suami hanya bekerja serabutan, penghasilan pun tak menentu. Dirinya harus memutar otak agar bisa bertahan hidup.

“Jangankan buat betulin rumah, buat makan sehari-hari dan sekolah anak juga masih kekurangan,” sambungnya penuh harap.

Kondisi rumah warga terdampak pergerakan tanah di warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Foto: Abdul Kholilulloh
Kondisi rumah warga terdampak pergerakan tanah di warga Kampung Ciloa RT03/RW02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Foto: Abdul Kholilulloh

Senada dikatakan, Suaminya, Urip Kusnadi, ia berujar, bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengajukan bantuan dan meminjam uang ke keluarga. Namun hingga kini, belum membuahkan hasil.

“Sudah disurvey, diminta dokumen seperti KK, tapi belum ada tindak lanjut. Rumah ini tanah milik pribadi, tapi dengan kondisi seperti sekarang dijual pun siapa yang mau,” ucap Urip penuh kesal.

Kekecewaan juga disampaikan Urip karena belum ada satu pun anggota DPRD KBB, termasuk dari dapil (daerah pemilihan) setempat, yang meninjau langsung lokasi bencana tersebut.

“Waktu kampanye datang ke rumah-rumah, sekarang setelah jadi (anggota dewan), jangankan bantu, datang aja nggak,” katanya dengan nada kecewa.

Baca Juga:  Atalia Praratya dan Yayasan Keluarga Firaldi Akbar Dampingi Korban Kasus Rudapaksa di Kota Bandung

Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun DPRD KBB. Kondisi rumah yang rusak parah dan ancaman longsor setiap musim hujan membuat mereka terus hidup dalam kekhawatiran.

“Setiap hujan tanah terbawa air, retakan makin meluas. Kami harap ada tindakan nyata, jangan cuma janji,” tutup Waty.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah desa, kecamatan, maupun Pemkab Bandung Barat terkait perbaikan rumah warga terdampak pergerakan tanah di Ngamprah.



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Dede Yusuf Tegaskan Keberhasilan Program MBG dan Kopdes Bergantung pada Tata Kelola
Warga Bandung Barat Korban Terkaman Buaya di Banyuasin Tiba di Cililin, Tangis Keluarga Pecah Sambut Jenazah
Praktik Calo Masih Hambat PTSL di KBB, Dede Yusuf: Jangan Bebani Warga dengan Biaya Tambahan
Jenazah Warga Bandung Barat yang Diseret Buaya di Sumsel Ditemukan, Dimakamkan di Cililin
Lindungi Aset Keluarga, Kepala BPN KBB: Sertipikat PTSL adalah Investasi, Jangan Mudah Dilepas
Lawatan ke Padalarang, Dede Yusuf Minta Pemda Evaluasi Rekrutmen PPPK, Jangan Bebani Keuangan Daerah
DPC Partai Demokrat KBB Gelar Gerakan Indonesia Asri, Langit Biru Sambut HUT ke-25
Nahas! Mortir Meledak Saat Dipukul Palu, Tiga Pemulung Tewas di Cipatat Bandung Barat 

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:12 WIB

Dede Yusuf Tegaskan Keberhasilan Program MBG dan Kopdes Bergantung pada Tata Kelola

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:08 WIB

Warga Bandung Barat Korban Terkaman Buaya di Banyuasin Tiba di Cililin, Tangis Keluarga Pecah Sambut Jenazah

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:46 WIB

Praktik Calo Masih Hambat PTSL di KBB, Dede Yusuf: Jangan Bebani Warga dengan Biaya Tambahan

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:38 WIB

Jenazah Warga Bandung Barat yang Diseret Buaya di Sumsel Ditemukan, Dimakamkan di Cililin

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:09 WIB

Lindungi Aset Keluarga, Kepala BPN KBB: Sertipikat PTSL adalah Investasi, Jangan Mudah Dilepas

Berita Terbaru