SEKITARKITA.id — Keributan terjadi di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) terkait hilangnya dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp1 miliar yang dialami Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Seorang mitra dari Yayasan Prama Guna Nasional (PGN), Hendrik Irawan mengaku kecewa karena merasa diintervensi oleh pihak yang diduga terlibat dalam hilangnya dana tersebut.
Ia menyebut tidak diperkenankan masuk untuk memberikan keterangan kepada pihak BGN oleh orang tua Kepala SPPG Pangauban Batujajar, Mochamad Cakra Aji Saputra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hari ini saya di kantor BGN sedikit kecewa dengan proses ini karena ada intervensi oleh ibu kepala SPPG terduga pelaku yang menghilangkan dana satu miliar. Saya tidak boleh masuk untuk memberi keterangan. Saya malah dibilang orang jahat, padahal yang hilangkan uang itu anaknya,” ujarnya dalam video yang diunggah akun resmi TikTok @sppgpangaubanbatujajar, pada Senin 3 November 2025.
“Dan kapasitas ibu itu apa anak yang salah saya sudah memberitahu ini penipuan ini kena tipu kok saya yang diintervensi,” ungkapnya.
Dalam unggahan itu juga ditulis, sebagai mitra ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dan diintervensi oleh pihak orang tua dari KSPPG.
“Ijin pak saya sebagai mitra diintervensi oleh petugas tidak boleh memberikan keterangan,” tulis keterangan caption video tersebut.
Ia juga mengaku telah menghubungi pimpinan BGN untuk melaporkan dugaan intervensi tersebut.
“Lapor Kepala BGN, Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN – Irjen Pol. Sony Sonjaya, Wakil Kepala BGN – Ibu Nanik S. Deyang, saya di intervensi sama ibu yang telah menghilangkan dana 1 miliar itu orangnya Saya tidak mengerti saya tidak boleh masuk ke atas ke lantai 7,” sambungnya.
Namun keesokan harinya, pada Selasa 4 November 2025 video yang unggahan tersebut sudah di takdown. Belum ada kejelasan pasti soal berita tersebut.
Kronologi Dana Rp1 Miliar Diduga Raib via Phishing
Insiden hilangnya dana MBG tersebut dilaporkan secara resmi oleh Yayasan Prama Guna Nasional (PGN) melalui Laporan Khusus (Lapsus) Nomor: 001/PGN/SPPG-PANGAUBANIX/2025. Dana yang diperuntukkan untuk penyediaan makanan siswa itu diduga digasak pelaku penipuan siber (phishing).
Kepala SPPG Pangauban Batujajar, Mochamad Cakra Aji Saputra, awalnya melakukan proses approval transaksi melalui BNI Direct.
Tiba-tiba muncul instruksi penggantian password dan ia terhubung dengan pihak yang mengaku dari BNI. Ia mengikuti instruksi dan memberikan data autentikasi rahasia.
Keesokan hari, saldo rekening operasional hanya tersisa sekitar Rp12 juta dari total Rp1 miliar.
Pihak yayasan menegaskan bahwa kasus ini merupakan bentuk kelalaian terhadap keamanan data digital perbankan.
Melalui video resmi di TikTok @sppgpengaubanbatujajar yang dikutip sekitarkita.id, pihak SPPG menjelaskan bahwa sebanyak 53 pekerja terpaksa dirumahkan.
Hal ini karena dapur MBG tidak dapat beroperasi akibat kekosongan dana untuk membeli bahan baku makanan.
“Seharusnya anak-anak sangat antusias menunggu makanan dari program Presiden Prabowo, tapi kami tidak bisa produksi karena dana terkuras,” ujar salah seorang pengurus dalam video tersebut.
Pihak yayasan juga menyebut telah melaporkan insiden ini ke BGN, legislatif, hingga DPRD KBB. Namun proses pengembalian dana diprediksi membutuhkan waktu hingga tiga bulan.
telah melaporkan kejadian ini ke sejumlah pihak, termasuk, Badan Gizi Nasional (BGN), Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi Golkar, Dadang Naser, Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, Wakil Ketua DPRD Bandung Barat.
Meski terpukul, para pekerja berharap program MBG di Pangauban Batujajar dapat kembali berjalan.
“Mudah-mudahan cepat selesai, karena kegiatan ini sangat membantu ekonomi warga,” kata Meli, salah satu pekerja dapur.
Kasus ini menjadi alarm penting bagi pengelolaan dana digital program nasional MBG. Selain sistem keamanan digital, pengawasan pada pelaksana di lapangan dinilai perlu diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








