Warga Padalarang menjerit, harga beras di Bandung Barat melejit

- Penulis

Kamis, 22 Februari 2024 - 10:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Padalarang Bandung Barat menjerit melambungnya harga beras (foto: Abdul Kholilulloh)

i

Warga Padalarang Bandung Barat menjerit melambungnya harga beras (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat | SekitarKita.id,- Meroketnya harga beras diwilayah Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dikeluhkan kalangan ibu rumah tangga.

Padahal sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bandung Barat mengklaim bakal menggelontorkan beras jenis Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) ke para pedagang sebanyak 200 ton per pekan.

Langkah tersebut sebagai upaya pemerintah daerah agar masyarakat bisa membeli beras dengan harga lebih murah ditengah harga yang kian melambung tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, Pemda Bandung Barat mengendalikan ekspektasi inflasi melalui kegiatan Sembako Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) bagi masyarakat umum serta pendistribusian pangan bersubsidi bagi masyarakat tertentu.

Meskipun begitu, sudah satu pekan program tersebut belum direalisasikan oleh Pemda Bandung Barat. Itu terlihat dari banyaknya pedagang dan masyarakat yang terus mengeluhkan kenaikan beras dalam beberapa pekan ini.

Ilustrasi beras (foto: Abdul Kholilulloh)
Ilustrasi beras (foto: Abdul Kholilulloh)

Pantauan di pasar Tradisional Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, harga beras jenis medium saat ini sudah mencapai Rp15.000 per kilogram. Sementara untuk beras jenis premium menginjak di harga Rp16.500 per kilogram.

Baca Juga:  Ratusan warga Baloper terobos hujan saat pencoblosan di TPS Padalarang Bandung Barat

Melambungnya harga beras amat dirasakan warga Kampung Pos Wetan, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang KBB, Desi Merisinta (34) mengatakan, meroketnya harga beras terhitung sejak awal Februari 2024.

Related Posts

“Setahu saya hampir per 2 Minggu harga beras terus mengalami kenaikan pas mau pemilu 2024 kemarin, sampai sekarang masih terus mengalami kenaikan,” kata Desi kepada SekitarKita.id, Kamis (22/02/2024).

Ia menjelaskan, pihaknya tak mengetahui secara pasti penyebab naiknya harga beras di sejumlah daerah di Bandung Barat, namun itu, ia terpaksa mengurangi uang belanja keperluan lainnya.

Desi Merisinta (34), warga Pos Wetan, Kecamatan Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)
Desi Merisinta (34), warga Pos Wetan, Kecamatan Padalarang KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

“Memang saya beli beras enggak tiap hari, kadang beli 5 kilogram buat stok 3-4 hari, sekarang cuman bisa beli 2 kilogram paling 2 hari sudah habis, uang belanja yang lain saya kurangin untuk keperluan belanja beras.” ujarnya.

Baca Juga:  Harga Sembako Mencekik, PKB Bandung Barat Turun ke Situ Ciburuy Gelar Pasar Murah

“Enggak tau ya alasan beras naik, katanya sih karena musim paceklik (faktor cuaca), saya berharap siapapun presidennya yang terpilih dan pejabat daerah yang memimpin bisa menurunkan harga pokok terutama beras,” sambungnya.

Desi menyebut, harga beras di warung klontong sudah menginjak Rp18.000 per kilogram, padahal di Minggu sebelumnya harga beras hanya Rp17.000 per kilogram.

“Naiknya cepet banget dan lumayan berat buat kita orang susah apalagi UMR pekerja di KBB kecil tidak sesuai dengan pengeluaran, gajih abis buat beli beras doang kalau harga terus naik bisa-bisa makan ubi dan singkong,” jelasnya.

Tak hanya Desi, Cucu Royati (72) warga Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang pun mengeluhkan hal yang sama. Bahkan Cucu hanya sanggup membeli beras setengah kilogram. Pasalnya, uang belanja digunakan untuk keperluan lainnya.

“Emak mah cuma bisa beli setengah kilo, marahal. Kalau beli satu kilogram, emak gak bisa beli keperluan lainnya,” kata Cucu.

Kenaikan harga beras ini juga jadi keluhan U Daryana (63), pedagang beras di Pasar Tradisional Tagog Padalarang, ia mengatakan, hal ini berdampak berkurangnya jumlah pembeli beras.

Baca Juga:  DP2KBP3A KBB Siap Dampingi Korban Dugaan Pencabulan ASN, Keluarga Masih Enggan

“Agak seret tingkat penjualan beras sekarang ini enggak seperti sebelum terjadi kenaikan, utamanya beras jenis premium yang memang lebih mahal dari harga beras kualitas di bawahnya,” katanya.

Ia pun mengatakan bahwa stok yang disiapkan tidak begitu banyak karena dikhawatirkan harga akan kembali mengalami kenaikan.

“Gak berani nyetok beras banyak, yang kemarin-kemarin saja masih ada di gudang. Jadi dihabiskan dulu stok beras yang ada,” tandasnya.



Follow WhatsApp Channel sekitarkita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kades Akui Tak Ada Anggaran, Warga Bandung Barat Swadaya Perbaiki Jalan, Terkumpul Rp40 Juta
Skandal ASN KBB Live TikTok Minta Fee 1 Persen, Bupati Jeje Perintahkan Inspektorat Periksa IYP
Carut Marut Bandung Barat, P4KBB Bocorkan PR Besar: PAD, Infrastruktur hingga Flyover Cimareme
DPD IPHI 1987 Jabar Dorong Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Profesi Advokat
IPHI 1987 Gelar Rapimnas di HUT ke-39, Regulasi Profesi Advokat Jadi Sorotan
Raffi Ahmad Puji Jeje Ritchie Ismail, Tapi Ingatkan: Tak Ada Superman dalam Pemerintahan
IPHI 1987 Dorong Pembaruan UU Advokat, Maria Salikin: Tingkatkan Profesionalisme Advokat
P4KBB Sentil Pemkab Bandung Barat: Tekanan Fiskal Jangan Jadi Alasan Abaikan Layanan Publik

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Kades Akui Tak Ada Anggaran, Warga Bandung Barat Swadaya Perbaiki Jalan, Terkumpul Rp40 Juta

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:30 WIB

Skandal ASN KBB Live TikTok Minta Fee 1 Persen, Bupati Jeje Perintahkan Inspektorat Periksa IYP

Senin, 10 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Carut Marut Bandung Barat, P4KBB Bocorkan PR Besar: PAD, Infrastruktur hingga Flyover Cimareme

Minggu, 9 Agustus 2026 - 07:36 WIB

DPD IPHI 1987 Jabar Dorong Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Profesi Advokat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Raffi Ahmad Puji Jeje Ritchie Ismail, Tapi Ingatkan: Tak Ada Superman dalam Pemerintahan

Berita Terbaru