| 6 fakta warga Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas KBB memasang pohon pisang ditengah jalan (foto: Abdul) |
Bandung Barat, SekitarKita.Net,- Warga Kampung Picung Gede, RW 05, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) melakukan protes jalan rusak dengan cara menanam pohon pisang ditengah jalan pada Senin 10 Oktober 2022.
Ada-ada saja aksi warga dengan meluapkan emosi yang ditujukkan kepada Pemerintah Bandung Barat. Bukan tanpa alasan, warga menilai hal ini seolah-olah Pemerintah Daerah (Pemda) KBB bungkam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut 6 fakta-fakta alasan warga Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas KBB memasang pohon pisang ditengah jalan raya.
1. Kekesalan warga memuncak saat aspirasi mereka dirasa tak ditanggapi oleh pemerintah Daerah (Pemda) Bandung Barat
2. Jalan tersebut merupakan akses utama antar dua desa yakni Desa Cipatik dan Desa Ciraden, Kecamatan Cihampelas.
| Jalan di Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas KBB dipenuhi kubangan air. |
3. Jalan berstatus milik Pemda Bandung Barat sepanjang 1,5 kilometer ini penuh dengan kubangan air usai diterjang hujan.
4. Di tiap kubangan air, warga menanam sedikitnya 5 pohon pisang.
5. Hampir 10 tahun jalan tak pernah dibenahi (Pemda KBB bungkam). Kondisi kerusakan diperparah karena drainase tak berfungsi.
6. Langkah pihak Desa, salah satunya melayangkan permohonan bantuan perbaikan selama 4 kali. Namun, permohonan bantuan ini tak pernah ditindaklanjuti.
Seolah tak menampik dengan keadaan, warga kesal segala bentuk aspirasi yang ditujukan ke Pemda KBB tak pernah didengar.
| Jalan rusak hampir 10 tahun tidak diperbaiki oleh Pemda KBB |
“Bentuk protes ke pemda karena jalan teu didangdosan. Kerusakannya sudah parah banget, kalau hujan jadi kubangan, kalau musim kemarau berdebu,” kata salah seorang warga, Entis (70). Selasa (11/10/2022).
Ia menjelaskan, kondisi jalan Cipatik-Ciraden hampir 10 tahun tak pernah dibenahi. Kondisi kerusakan diperparah karena drainase tak berfungsi sehingga tatkala hujan, air meluber masuk ke badan jalan.
“Jadi bukan hanya jalan rusak, tapi terjadi banjir juga karena saluran air tak berfungsi,” terangnya.
Terpisah, Kepala Desa Cipatik Asep Agus mengatakan tak bisa melarang protes warga dengan menanam pohon pisang. Menurutnya, selain bagian bentuk aspirasi warga, status jalan itu milik Pemda Bandung Barat.
“Tidak bisa bicara banyak, itu hak warga. Itu bentuk kekesalan warga saya gak bisa apa-apa,” tutur Asep.
Dijelaskannya, pihaknya tak tinggal diam karena telah melakukan sejumlah langkah, salah satunya melayangkan permohonan bantuan perbaikan selama 4 kali. Namun, permohonan bantuan ini tak pernah ditindaklanjuti.
| Pihak Desa sudah mengajukan 4 kali perbaikan, Pemda KBB masih bungkam |
“Sudah 4 kali saya ajumam perbaikan, tapi tak pernah terealisasi. Padahal ini sudah 10 tahun belum tersentuh perbaikan. Terakhir saya dapat kabar baru bisa direnovasi tahun 2023,” jelas Asep.
Asep menerangkan pihak desa bersama warga sempat beberapa kali melakukan swadaya memperbaiki jalan. Namun saat hujan datang perbaikan itu rusak lagi lantaran drainase belum diperbaiki.
“Kalau statusnya milik desa saya perbaiki sedikit-sedikit. Tapi ini kan milik kabupaten, saya gak bisa apa-apa. Kami bersam warga sempat saya memperbaiki swadaya karena ada ziarah masal, tapi gak bertahan lama,” pungkasnya.
Editor: Abdul Kholilulloh








