SEKITARKITA.id – Sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan sakit diusung menggunakan tandu darurat oleh warga mendadak viral di media sosial.
Rekaman tersebut membuka kembali persoalan klasik yang hingga kini belum terselesaikan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), yakni minimnya akses jalan menuju permukiman warga.
Belakangan diketahui, peristiwa itu terjadi di Kampung Cipicung, RT 01 RW 03, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat KBB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video yang beredar, tampak sejumlah warga bergotong royong membawa seorang perempuan menggunakan tandu ambulans sederhana yang diikat menggunakan tali tambang dan bambu.
Kampung Cipicung, RT 01 RW 03, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat KBB (foto: tangkapan layar video viral)
Perempuan tersebut diketahui bernama Rina Fitri Yulianti (39), yang terpaksa ditandu menuju titik lokasi ambulans karena kendaraan medis tidak dapat menjangkau rumahnya.
Ketua RW 03, Setiawan, membenarkan peristiwa tersebut terjadi pada Senin pagi.
“Betul, kejadiannya kemarin pagi. Ada warga saya yang sakit terpaksa digotong sampai parkiran ambulans,” kata Setiawan kepada wari, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, Rina baru menjalani operasi sekitar sepekan lalu dan dijadwalkan menjalani kontrol lanjutan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Rabu pekan ini.
Kampung Cipicung, RT 01 RW 03, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat KBB (foto: tangkapan layar video viral)
Namun, kondisi kesehatannya mendadak memburuk lantaran jahitan pascaoperasi diduga kembali terbuka, sehingga ia harus segera dibawa ke rumah sakit.
“Harusnya Rabu besok kontrol, tapi katanya jahitannya kebuka lagi, jadi kemarin pagi itu dibawa lagi ke rumah sakit,” ujarnya.
Ambulans Tak Bisa Masuk
Buruknya akses jalan menuju permukiman menjadi penyebab utama ambulans tidak dapat mencapai rumah pasien.
Akibatnya, warga harus menggunakan tandu darurat untuk membawa Rina menyusuri jalan setapak hingga area dekat rel kereta api.
Setelah menempuh jarak lebih dari 500 meter, pasien akhirnya tiba di lokasi ambulans yang terparkir di sekitar Stasiun Sasaksaat.
“Jadi ditandu itu karena memang ke sini enggak bisa diakses ambulans. Ditandunya itu sekitar 500 meter lebih menuju ambulans,” jelas Setiawan.
Setiawan mengungkapkan, keterbatasan akses jalan sudah lama menjadi persoalan yang dihadapi warga Kampung Cipicung.
Setiap kali terjadi kondisi darurat medis, warga kerap bergantung pada tenaga gotong royong untuk mengevakuasi pasien.
“Jadi ini bukan kejadian pertama, sebelumnya juga sudah sering. Apalagi kalau ada warga yang mau melahirkan, ambulans enggak sampai sini, jadi harus digotong,” katanya.
Warga mengaku telah berulang kali mengusulkan pembangunan akses jalan agar kendaraan roda empat, termasuk ambulans, dapat menjangkau permukiman mereka.
Namun hingga kini, harapan tersebut belum juga terealisasi.
“Sudah diajukan supaya mobil bisa masuk, tapi belum sampai sekarang. Mudah-mudahan ke depannya ada solusi,” tandas Setiawan.
Viralnya video pasien yang ditandu sejauh ratusan meter ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah.
Di tengah gencarnya pembangunan dan perayaan Hari Jadi Kabupaten Bandung Barat ke-19, masih ada warga yang harus mempertaruhkan keselamatan hanya karena akses jalan belum memadai.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur dasar, terutama akses layanan kesehatan, masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Bandung Barat.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








