[ad_1]
Politik, SekitarKita.id – Bakal calon bupati-bakal calon wakil bupati (bacabup-bacawabup) Cianjur 2025-2030 Deden Nasihin dan dr Neneng Efa Fatimah akan mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cianjur, hari ini, Rabu (28/8/2024).
Pasangan yang diusung Partai Golkar, PKS, dan Partai Perindo ini berkomitmen mewujudkan Cianjur BERKAH (Berdaya Saing, Khidmah dan Amanah).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasangan Deden Nasihin-Neneng Efa datang ke KPU Kabupaten Cianjur diterima Ketua KPUD Kabupaten Cianjur Muhammad Ridwan dan Ketua Bawaslu Cianjur Asep Tandang dan seluruh jajaran.
Diantar oleh pimpinan partai pengusung seperti Ketua DPD Partai Golkar Kab. Cianjur TB Mulyana Syahrudin, Ketua DPD PKS Kab. Cianjur, Dadan Suryanegara dan Ketua DPC Perindo Kab. Cianjur, Teni Ansar Mulya serta para relawan dan simpatisan Sahabat Berkah.
Tidak ketinggalan DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat yang diwakili Bendahara Umum Metty Triantika didampingi pengurus lainnya nampak hadir memberikan dukungan dengan begitu menambah suasana pendaftaran makin semarak.
Seusai resmi mendaftar, bacabup Cianjur Deden Nasihin mengungkapkan tutur sambutan yang berisi visi misi dan komitmen andai nanti terpilih sebagai Bupati Cianjur.
Deden Nasihin yang akrab disapa Kang Denas menyampaikan, realita memperlihatkan berbagai permasalahan pembangunan di Kabupaten Cianjur yang belum terselesaikan. Akibatnya, Kabupaten Cianjur tertinggal dari daerah-daerah lain di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
Permasalahan pertama, tutur Kang Denas, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cianjur sebagai parameter kesejahteraan masyarakat, berada pada urutan terakhir se-Provinsi Jabar, yang hanya sampai 68,18.
Bahkan masih jauh tidaklah sebaik kabupaten di pulau terluar Indonesia seperti Kabupaten Natuna dengan IPM 78,23 dan Kabupaten Kepulauan Talaud dengan IPM 71,14.
“Tidak sebaik dua kabupaten di Provinsi Papua Barat seperti Kabupaten Yapen dengan IPM 68,41 dan Kabupaten Biak Numpor dengan IPM 72,85,” tutur Kang Denas.
Kemudian, kata Kang Denas, yang juga jadi persoalan adalah Indeks Pendidikan Kabupaten Cianjur yang juga rendah, hanya sampai 7,2 tahun yaitu setara SMP Kelas 7 dan Indeks Kesehatan 74,61.
“Realita ini sangat sangat memprihatinkan dan menjadi cermin dari ketidakmampuan pemerintah daerah dalam menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan, serta kehidupan ekonomi sebagai penopang utama,” kata Kang Denas.
Kang Denas menyampaikan, permasalahan utama kedua adalah ekonomi di Kabupaten Cianjur semakin kompleks dengan rendahnya pengeluaran riil perkapita yang hanya sampai Rp8,6 juta in keeping with tahun, terendah di Jawa Barat.
“Hal ini berdampak pada tingginya persentase penduduk miskin yang sampai 10,23 persen atau 240.100 jiwa masyarakat Cianjur dalam kategori miskin,” kata pria yang menjabat Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jabar itu.
[ad_2]








