Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa penyelidikan mendalam masih dilakukan untuk memastikan apakah tersangka mempunyai terkait dengan kelompok teror tertentu.
“Pihak Densus 88 sedang mengevaluasi apakah kejadian ini keterkaitan dengan pelaku aksi teror lainnya, termasuk menyelesaikan motifnya. Itu adalah wewenang Densus 88,” kata Budi Hermanto di Polda Metro Jaya, Sabtu (8/11/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, selain memahami motif, tim Densus 88 juga meninjau aktivitas media sosial tersangka guna mengetahui apakah ada tanda-tanda keterlibatan dalam komunitas on-line yang keterkaitan dengan jaringan teror.
“Penyelidikan mengenai aktivitas media sosial tersangka sedang dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah pelaku pernah menjadi anggota grup atau komunitas on-line yang mempunyai kaitan dengan kelompok teror tertentu,” tutur Budi.
Sebelumnya, sempat muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai kemungkinan kaitan antara kasus ledakan di SMAN 72 dengan ancaman bom di beberapa sekolah pada awal Oktober lalu, termasuk di North Jakarta Intercultural College. Tetapi, Budi menegaskan bahwa sampai sementara belum ada bukti yang memperlihatkan adanya hubungan antara kedua kejadian tersebut.
“Sepanjang ini belum ditemukan adanya hubungan. Tetapi hal ini pasti akan diteliti oleh Densus dan unit kerja yang berwenang sesuai dengan tugas pokok masing-masing,” ujarnya.
Selain Densus 88, beberapa unit kerja juga terlibat dalam penanganan kasus ini. Tim Gegana Brimob melakukan pembersihan lokasi sebab ditemukannya bahan peledak, untuk saat ini Tim Puslabfor Mabes Polri melanjutkan dengan penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP).
“Langkahnya yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian melibatkan berbagai satuan kerja, bukan hanya Polda Metro Jaya, namun juga Densus 88, Puslabfor Mabes Polri, serta Polres Jakarta Utara,” tutur Budi.
Dalam penanganan kasus ini, Polri juga memperhatikan aspek perlindungan anak mengingat baik penderita maupun tersangka masih berstatus sebagai pelajar. Untuk alasan itu, pihak kepolisian bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan tim trauma therapeutic dalam memberikan pendampingan psikologis kepada siswa yang terkena dampak.
“Kami ingin mengungkapkan bahwa kejadian ini melibatkan anak yang terlibat dalam proses hukum (ABH). Untuk alasan itu, ada hak-hak khusus yang harus segera dipenuhi, termasuk perlindungan identifikasi dan perlakuan khusus bagi anak,” tutur Budi.
Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Metro Jaya mengharapkan rutinitas belajar di SMAN 72 secepatnya kembali commonplace setelah kondisi membaik.
“Kapolri dan Kapolda Metro Jaya mengharapkan sekolah secepatnya kembali commonplace dan rutinitas belajar mengajar bisa secepatnya menjadi lebih baik,” katanya.
Budi juga mengajak masyarakat agar bersikap bijaksana dalam menghadapi kejadian ini dan tidak menyebarkan knowledge yang belum dikonfirmasi. Menurutnya, rasa empati dari masyarakat sangat penting agar penyelidikan dapat berjalan dengan lancar tanpa menimbulkan ketidaknyamanan.
“Kita mengajak seluruh rakyat untuk bersama-sama berempati, serta lebih cerdas dalam menghadapi dan menangani kejadian ini,” ujarnya.
Seperti yang diketahui, terjadi ledakan pada Jumat (7/11/2025) sekitar pukul 12.15 WIB di arena SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang berada dalam kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut (AL).
Berdasarkan pengakuan saksi, terdengar suara ledakan saat siswa dan guru sedang menjalani Salat Jumat. Ledakan pertama terjadi saat khutbah sedang berlangsung, diikuti oleh ledakan kedua yang diprediksi berasal dari arah yang berbeda.
{Peristiwa} itu mengakibatkan beberapa penderita merasakan luka bakar dan cedera dari pecahan perabot. Penyelidikan awal mengungkap bahwa tersangka diduga merupakan seorang siswa sekolah tersebut yang dilaporkan menjadi penderita intimidasi, yang diprediksi menjadi penyebab tindakannya.
Di tempat kejadian, polisi menemukan perabot yang mirip dengan senapan airsoft dan pistol mainan. Setelah dilakukan pemeriksaan, keduanya diketahui bukan senjata api asli.
Penyelidikan masih terus dilakukan oleh Densus 88 dan jajaran Polda Metro Jaya guna mengungkap dengan pasti alasan serta kemungkinan adanya jaringan lain di balik ledakan SMAN 72 Jakarta Utara.***








