SEKITARKITA.id – Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat XV Tahun 2026.
Selain mempersiapkan atlet terbaik, kepengurusan baru PBVSI juga berkomitmen membenahi sistem pembinaan, fasilitas latihan, hingga kesejahteraan atlet demi meningkatkan prestasi olahraga bola voli di Bandung Barat.
Porprov Jawa Barat XV dijadwalkan berlangsung pada 7–20 November 2026, dengan Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Depok, dan wilayah sekitarnya sebagai tuan rumah pelaksanaan berbagai cabang olahraga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (P3D) tahun anggaran 2026 yang digelar Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat Pither Tjuandys.
Rapat tersebut sekaligus pembentukan Pengurus PBVSI Kabupaten Bandung Barat yang digelar di Rumah Makan BBC, Kecamatan Cisarua, Jumat (17/7/2026).
Ketua Umum PBVSI KBB, Wahyudin atau yang akrab disapa Udin, mengatakan kepengurusan baru akan mengedepankan organisasi yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pembinaan atlet usia dini sebagai fondasi prestasi jangka panjang.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah minimnya fasilitas latihan yang representatif bagi atlet bola voli di Kabupaten Bandung Barat.
“Hingga saat ini Bandung Barat belum memiliki sarana yang benar-benar layak untuk membina atlet usia dini. Padahal pembinaan membutuhkan tempat latihan yang representatif agar kemampuan atlet bisa berkembang secara maksimal,” ujar Wahyudin.
Selain memperkuat pembinaan, PBVSI Bandung Barat juga akan melakukan pemanggilan kembali atlet hasil seleksi. Sejumlah atlet yang sebelumnya belum masuk skuad juga akan dievaluasi ulang agar memiliki kesempatan yang sama memperkuat kontingen Kabupaten Bandung Barat pada Porprov 2026.
Menurut Wahyudin, seluruh proses seleksi akan dilakukan secara terbuka dengan penilaian berdasarkan kemampuan teknis masing-masing atlet.
“Kami ingin semuanya berjalan transparan. Atlet yang memiliki potensi harus diberi kesempatan. Penilaian tetap dilakukan oleh pelatih sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.
PBVSI juga menaruh perhatian terhadap kebutuhan perlengkapan latihan, mulai dari seragam hingga peralatan olahraga. Dukungan anggaran dari pemerintah daerah dinilai sangat dibutuhkan agar program pembinaan dapat berjalan optimal.
Dalam upaya mewujudkan tata kelola organisasi yang lebih profesional, PBVSI Kabupaten Bandung Barat juga akan membuka rekening resmi organisasi sehingga seluruh transaksi keuangan dilakukan secara transparan dan akuntabel.
“Kami ingin organisasi ini dikelola secara profesional. Semua pemasukan dan pengeluaran harus transparan sehingga kepercayaan seluruh pengurus maupun atlet tetap terjaga,” tegasnya.
Wahyudin mengungkapkan, biaya mengikuti satu kejuaraan bola voli dapat mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta, meliputi kebutuhan atlet, pelatih, ofisial, transportasi, hingga penyewaan tempat latihan. Nominal tersebut belum termasuk pengadaan seragam pertandingan.
Karena itu, ia berharap dukungan anggaran dari pemerintah daerah maupun pihak swasta agar pembinaan atlet tidak terhambat keterbatasan biaya.
Selain persoalan fasilitas, Wahyudin juga menyoroti pentingnya kepastian pemberian bonus bagi atlet berprestasi. Menurutnya, penghargaan yang layak menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga motivasi atlet agar tetap membela Kabupaten Bandung Barat.
“Saya berharap bonus atlet benar-benar diperhatikan. Jangan sampai anak-anak sudah berprestasi membawa nama baik Bandung Barat, tetapi hak mereka justru terabaikan. Kondisi seperti ini bisa membuat atlet memilih pindah ke daerah lain,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat Pither Tjuandys, yang juga menjalankan fungsi Perencanaan, Pemerintahan, dan Pembangunan Daerah (P3D), menyatakan siap mengawal berbagai kebutuhan PBVSI agar mendapat perhatian pemerintah daerah.
Menurut Pither, aspirasi terkait pembangunan gedung voli, penambahan peralatan olahraga, hingga pembinaan atlet usia 15–19 tahun akan dibahas bersama Dinas Pendidikan, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta KONI Kabupaten Bandung Barat.
“Kami menerima berbagai masukan dari PBVSI, mulai dari kekurangan peralatan, kebutuhan gedung voli hingga pembinaan atlet usia 15 sampai 19 tahun. Semua ini akan kami komunikasikan kepada dinas terkait agar mendapat perhatian,” ujar Pither.
Ia menilai pembangunan sarana olahraga merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan olahraga prestasi di Kabupaten Bandung Barat. Selama ini, banyak atlet potensial memilih bergabung dengan daerah lain karena fasilitas pembinaan dinilai lebih memadai.
“Potensi atlet voli Bandung Barat sebenarnya sangat besar. Jangan sampai mereka direkrut kabupaten atau kota lain hanya karena kita belum mampu menyediakan fasilitas yang memadai,” katanya.
Pither menambahkan, usulan pembangunan gedung voli dan peningkatan sarana olahraga akan menjadi salah satu aspirasi yang diperjuangkan dalam pembahasan program pemerintah daerah.
Dengan kepengurusan baru yang mulai terbentuk, PBVSI Kabupaten Bandung Barat optimistis mampu mencetak atlet-atlet berprestasi yang siap bersaing pada Porprov Jawa Barat 2026 hingga level nasional.
Namun, keberhasilan tersebut membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah, KONI, DPRD, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan melalui penyediaan fasilitas, pembinaan berkelanjutan, serta penghargaan yang layak bagi para atlet.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








