SEKITARKITA.id – Di tengah isu sosial yang melanda Kabupaten Bandung Barat (KBB), Anggota Komisi IV DPR RI, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.IP., M.I.Pol., hadir memberikan solusi dengan mendorong penguatan branding pariwisata.
Menurutnya, potensi wisata Bandung Barat sangat besar, namun membutuhkan strategi tata kelola yang matang serta dukungan kuliner unggulan untuk menarik minat wisatawan.
“Bandung Barat harus amanah, maju, dan berdaya saing untuk masa depan. Salah satunya dengan pariwisata. Saya lihat di Sanghyang Kenit ini ada arung jeram, panorama alam, dan potensi luar biasa. Tapi perlu ditata lebih baik, termasuk menghadirkan makanan unggulan yang bisa menjadi daya tarik wisatawan,” ujar Dadang Naser usai menghadiri sarasehan P4KBB, Sabtu (4/10/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dadang menekankan, kehadiran UMKM kuliner lokal sangat penting untuk mendukung branding destinasi. Ia mencontohkan keberhasilan Kampung Daun di wilayah Bandung, yang sempat menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar.
“Kalau di Sanghyang Kenit bisa menghadirkan kuliner khas, seperti lotek atau lalaban dengan sentuhan inovatif, pasti akan menambah nilai jual. Wisatawan biasanya mencari dua hal: keindahan alam dan makanan khas. Itu yang bisa menghidupkan UMKM dan roda perekonomian,” jelasnya.
Tata Kelola Wisata Harus Lebih Strategis
Selain kuliner, Dadang juga menyoroti perlunya penataan ruang yang representatif agar wisatawan merasa nyaman dan tidak kapok berkunjung. Ia mendorong pemerintah daerah untuk mengalokasikan sebagian PAD bagi pengembangan fasilitas wisata.
“Setiap PAD bisa digunakan minimal 10 persen untuk membangun fasilitas wisata. Misalnya untuk tenda, spot foto, hingga aksesibilitas. Sanghyang Kenit potensial, tapi pengelolaannya masih awal. Ke depan harus ada strategi yang matang supaya bisa menjadi wisata unggulan Bandung Barat,” tambahnya.
Dadang optimistis, jika branding pariwisata Bandung Barat diperkuat dengan kombinasi alam, kuliner khas, dan UMKM, maka wilayah ini bisa menjadi salah satu ikon wisata nasional.
“Arung jeram, kuliner lokal, hingga pemandangan alam di sini bisa menjadi daya tarik. Tinggal bagaimana mengemasnya agar berdaya saing. Bandung Barat bisa menjadi contoh daerah yang sukses mengelola wisata berbasis masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua P4KBB, Yacob Anwar Lewi, menegaskan bahwa acara sarasehan ini bukan hanya sekadar temu kangen para pejuang pemekaran KBB, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi, refleksi sejarah, sekaligus menyuarakan kritik dan gagasan konstruktif.
“Kami para pejuang pemekaran sejak awal tahun 2000-an berjuang hingga Bandung Barat resmi mekar tahun 2007. Banyak kawan seperjuangan yang sudah tiada, maka kegiatan ini juga bentuk penghormatan. Tapi yang lebih penting, kita akan berdiskusi, memberi masukan, dan mendesak arah pembangunan KBB agar jelas, amanah, dan tidak menyimpang dari cita-cita awal,” ujar Yacob.
Acara ini digelar dua hari diawali dengan renungan perjuangan pemekaran KBB. Api unggun pada Jumat malam di Sanghyang Kenit menjadi simbol bara perjuangan yang tidak boleh padam, terutama di tengah kondisi Bandung Barat yang dinilai kian penuh masalah.
“Bandung Barat butuh introspeksi. Kami para pejuang pemekaran merasa wajib kembali turun tangan, memberikan pemikiran positif, produktif, dan masukan nyata untuk Pemda,” tegas Yacob.
Tema dan Fokus Diskusi
Kegiatan mengusung tema “Bersama Membangun Pemikiran Positif dan Produktif sebagai Kontribusi terhadap Pembangunan KBB yang Amanah”.
Menurut Yacob, arah pembangunan KBB harus konsisten dengan visi misi kepemimpinan Bupati Jeje Ritchie Ismail dan Wakil Bupati Asep Ismail.
Dalam forum tersebut, para pejuang pemekaran, kasepuhan, mantan birokrat, hingga akademisi akan menyampaikan aspirasi dan unek-unek terkait arah pembangunan KBB ke depan.
“Intinya, acara ini digelar untuk memajukan Bandung Barat. Kami ingin mendengar langsung masukan dari berbagai inohong agar Pemda lebih peka terhadap kondisi riil masyarakat,” katanya.
Pemilihan Sanghyang Kenit sebagai lokasi dinilai memiliki makna strategis. Selain ramah akses bagi para senior yang rata-rata berusia 50–70 tahun, tempat ini juga menjadi sarana memperkenalkan potensi wisata Bandung Barat.
“Pemandangannya indah, akses mudah, cocok untuk refleksi dan diskusi. Ini juga cara kami mengangkat wisata Bandung Barat, jangan hanya wilayah utara yang dikapitalisasi, selatan juga harus diperhatikan,” ungkap Yacob.
Hadir dalam kesempatan itu Sekda KBB, Ade Zakir, Kepala Kesbangpol KBB Weda Wardiman, Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) KBB David Oot serta para tokoh pemekaran Bandung Barat. Diskusi berfokus pada bagaimana penguatan sektor pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








