AdinJavaDalam perjalanan keramaian PekanOlahragaKontingen Sulawesi Tengah perlahan memperlihatkan perkembangan signifikan dalam Pelajar Nasional (Popnas) XVII dan Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) XI Jakarta 2025. Meski demikian baru meraih satu emas, dua perak, dan tiga perunggu, semangat para atlet muda asal Tanah Kaili tetap tinggi menghadapi dominasi provinsi besar seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Berdasarkan peringkat saat ini mencapai hari Sabtu (8/11), Sulawesi Tengah berada di posisi ke-19 dari 22 provinsi peserta. Hasil ini memang belum menonjol, tetapi memperlihatkan adanya potensi yang mulai berkembang di wilayah yang aktif dalam membangun ekosistem olahraga untuk pelajar.
Emas pertama Sulawesi Tengah diperoleh dari cabangolahraga lari jarak menengahsebuah kejutan yang menyenangkan dari atlet muda berusia 16 tahun asal Parigi Moutong. Dengan langkah ringan dan fokus penuh, ia melewati lawannya di 50 meter terakhir untuk memperoleh kemenangan yang spektakuler di Stadion Atletik Rawamangun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelatih atletik dari Sulawesi Tengah,Syamsul Bahri, menyatakan prestasi tersebut merupakan bukti dari usaha pengembangan di tingkat daerah. “Kami datang bukan dengan goal yang besar, namun dengan tekad yang kuat. Anak-anak ini membawa nama daerah dengan penuh rasa cinta,” ujarnya sambil berusaha tahan emosinya.
Sementara waktu, dua medali perak berasal dari cabangpencak silat dan renang, saat ini tiga medali perunggu diperoleh dari cabangtaekwondo dan bulu tangkis. Meski demikian jumlah medali masih minim, keberhasilan tersebut menjadi semangat besar bagi kontingen yang terdiri dari 78 atlet muda tersebut.
Sulawesi Tengah kini berada dalam persaingan sengit dengan provinsi lain di bagian bawah peringkat seperti Kepulauan Bangka Belitung, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat. Tetapi, kesempatan untuk menambah medali masih terbuka, khususnya dari cabang olahraga bela diri yang akan berlangsung mencapai malam Minggu.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Tengah,Abdul Rahman Lamakampali, mengakui kepuasan terhadap perkembangan para atlet. “Ini bukan tentang posisi dalam klasemen, melainkan tentang dasar pembinaan jangka panjang. Popnas menjadi sarana evaluasi untuk menghasilkan bibit-bibit unggul menuju PON dan kompetisi nasional lainnya,” katanya.
Popnas XVII dan Peparpenas XI diikuti oleh 5.783 atlet pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Pertandingan diselenggarakan di 30 tempat dengan standar nasional dan internasional di empat kota administratif DKI Jakarta, yang menampilkan 23 cabang olahraga dalam Popnas serta empat cabang dalam Peparpenas.
Mencapai hari ke delapan, whole 250 medali emas telah diperebutkan. DKI Jakarta tetap berada di puncak klasemen dengan 71 emas, diikuti Jawa Tengah (43 emas) dan Jawa Timur (39 emas). Jawa Barat yang sebelumnya berada dalam tiga besar kini turun ke posisi empat.
Bagi Sulawesi Tengah, partisipasi dalam Popnas bukan hanya sekadar angka pada tabel klasemen. Di balik setiap medali yang diraih, terdapat kisah perjuangan, disiplin, serta tekad yang telah diuji. Dengan jumlah besar atlet berasal dari kabupaten terpencil dengan fasilitas yang sedikit, tetapi berlatih dengan keras agar bisa tampil di ajang nasional yang bergengsi ini.
“Kami mengharapkan anak-anak Sulawesi Tengah mempunyai kepercayaan diri dalam bersaing di tingkat nasional. Setiap langkah kecil mereka merupakan investasi besar bagi masa depan olahraga daerah,” ujar Rahman. Ia menegaskan, dukungan pemerintah provinsi terhadap pembinaan olahraga siswa akan terus diperkuat setelah Popnas.
Dengan satu medali emas yang telah diraih, Sulawesi Tengah mungkin saja belum masuk ke dalam daftar teratas, tetapi semangat mereka tetap memancarkan harapan. Dalam perjalanan perhatian besar dari DKI dan Jawa, kontingen dari wilayah timur Indonesia ini memperlihatkan bahwa semangat, bukan angka, yang benar-benar memutuskan makna kemenangan.







