Bandung Barat | SekitarKita.id,- Adalah M. Algifari (12) dan Bagas (13) korban selamat longsor di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Minggu 24 Maret 2024 malam, mereka mengaku trauma dan takut dengan musibah itu.
Algifari dan Bagas merupakan dua dari puluhan anak yang terdampak bencana tanah longsor yang kini mengungsi di SDN 1 Cibenda, Kecamatan Cipongkor KBB.
Gelagat tawa keceriaan terpancar dari raut muka Algifari dan Bagas saat bermain bola bersama rekan-reman sebanyanya. Namun demikian, rasa cemas dan was-was kembali menghantui kala hujan kembali turun diwilayah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Seneng disini (pengungsian), banyak temen-temen bisa main bola bareng. Kadang takut om denger hujan geluduk kayak malam kejadian itu serem,” kata Al-Ghifari dengan gaya bahasa kanak-kanaknya saat ditemui di tenda pengungsian, Jumat (29/03/2024).
Al-Ghifari mengatakan, saat ini SDN Padakati dan SDN Cibenda itu digunakan untuk ratusan pengungsi, kendati aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM) diliburkan, dirinya masih bisa belajar di tenda pengungsian.
“Saya masih kelas 5 SD Padakati, sekolah libur di pake ngungsi tapi disini bisa belajar ada sekolah darurat om, rame banget seneng banyak temen baru kalau tidur di GOR Cibenda,” ujarnya kembali sambil sesekali menendang bola ke arah lawan (rekan).
Masih diiringi rasa cemas dan gelisah, Al-Ghifari mencoba menutupi semua itu dengan senyumnya, ia menjelaskan, kondisi rumah disekitarnya pasca diterjang longsor rusak parah melululantakan puluhan pemukiman warga dan menimbun 10 korban .
Beruntung, kata dia, kedua orang tuanya selamat dari peristiwa maut tersebut, rumah yang ia tempati pun masih bisa dihuni kendati itu, Al-Ghifari dan keluarga tak berani kembali pulang lantaran faktor keselamatan.
“Liat rumah temen-temen aku udah pada rusak, Alhamdulillah rumah saya masih ada dan mamah sama bapak selamat, cuma takut kalau pulang,” ungkapnya dengan gemetar.
Senada dikatakan Bagas, ia mengaku lumayan betah tinggal di lokasi pengungsian yang bertempat di GOR Desa Cibenda, terkadang ia harus mengurungkan niat untuk pulang kerumah karena cuaca yang tidak memungkinkan.
“Enggak boleh pulang dulu, kata mamah juga harus disini dulu (pengungsian), kalau disini enak makan juga tiap hari pake endog sama ayam, terus banyak temen-temen bisa main di lapang (aula tenda pengungsian),” kata Bagas yang juga bercita-cita menjadi TNI ini.
Terekam jelas dalam ingatan Bagas saat bencana longsor menerjang Kampung Gintung, ia menceritakan, saat itu suara gemuruh terdengar jelas sebelum longsor turun dari atas lereng bukit.
“Saya waktu pas malam kejadian belum terlalu lelap sempet denger suara gemuruh kenceng banget dari atas rumah,” kata Bagas.
Setelah dipastikan longsor, lanjut Bagas, ia dan keluarga berlari menuju tempat yang lebuh aman yaitu aula Desa Cibenda bersama puluhan warga lainnya.
“Setelah dipastikan itu longsor, semua keluarga langsung lari ke desa sama mamah dan bapak juga ikut lari. Waktu jalan ke sana juga sampai jatuh,” ujar dia.
Bahkan, saat longsor terjadi lampu semua mati. Sehingga, kondisi malam itu gelap karena tiang listrik jatuh dihantam material longsor dan kayu.
“Gak cuman tiang listrik, jembatan juga rusak karena longsor,” ucapnya dengan nada lirih.
Kendati begitu, Bagas mengaku ingin cepat pulang ke rumahnya dan berharap kondisi bisa seperti sediakala. Serta bisa bermain bola seperti biasa dengan teman-temannya.
“Kalau di pengungsian belajarnya di Sekolah Darurat, tapi lebih seru sekolah biasa,” ujar dia kembali.
Meski menjalani puasa Ramadan di tempat pengungsian, hingga puasa ke-18 bocah kelas 5 ini mengaku belum pernah satu kalipun membatalkan puasanya.
“Sampai hari ini, Alhamdulillah belum batal puasa om,” tutupnya.
Seperti diketahui, berdasarkan data yang dihimpun BPBD KBB pada Rabu 27 Maret 2024 hingga pukul 21.00 WIB tercatat bencana tanah longsor di Desa Cibenda dan Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor mengakibatkan 527 warga terdampak.
Warga yang terdampak di Kampung Gintung mencapai 527 jiwa atau 142 kepala keluarga dengan rincian 342 dewasa, 45 remaja, 28 anak-anak, 52 balita dan 60 lansia.
Penulis : Abdul Kholilulloh
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan Khusus (Lipsus)








