Rindu rumah, cerita bocah pengungsi korban longsor di Cipongkor kerap dihantui Trauma

- Penulis

Jumat, 29 Maret 2024 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situasi kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah darurat yang di sediakan Kementerian Sosial RI di SDN Cibenda, Kecamatan Cipongkor KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

i

Situasi kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah darurat yang di sediakan Kementerian Sosial RI di SDN Cibenda, Kecamatan Cipongkor KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat | SekitarKita.id,- Adalah M. Algifari (12) dan Bagas (13) korban selamat longsor di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Minggu 24 Maret 2024 malam, mereka mengaku trauma dan takut dengan musibah itu.

Algifari dan Bagas merupakan dua dari puluhan anak yang terdampak bencana tanah longsor yang kini mengungsi di SDN 1 Cibenda, Kecamatan Cipongkor KBB.

Gelagat tawa keceriaan terpancar dari raut muka Algifari dan Bagas saat bermain bola bersama rekan-reman sebanyanya. Namun demikian, rasa cemas dan was-was kembali menghantui kala hujan kembali turun diwilayah itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Seneng disini (pengungsian), banyak temen-temen bisa main bola bareng. Kadang takut om denger hujan geluduk kayak malam kejadian itu serem,” kata Al-Ghifari dengan gaya bahasa kanak-kanaknya saat ditemui di tenda pengungsian, Jumat (29/03/2024).

M. Algifari (12) dan Bagas (13) korban selamat longsor (foto: Abdul Kholilulloh)
M. Algifari (12) dan Bagas (13) korban selamat longsor (foto: Abdul Kholilulloh)

Al-Ghifari mengatakan, saat ini SDN Padakati dan SDN Cibenda itu digunakan untuk ratusan pengungsi, kendati aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM) diliburkan, dirinya masih bisa belajar di tenda pengungsian.

Baca Juga:  Pemkab Bandung Barat Fasilitasi Pemulangan Jenazah PMI Asal Saguling yang Meninggal di Timur Tengah

“Saya masih kelas 5 SD Padakati, sekolah libur di pake ngungsi tapi disini bisa belajar ada sekolah darurat om, rame banget seneng banyak temen baru kalau tidur di GOR Cibenda,” ujarnya kembali sambil sesekali menendang bola ke arah lawan (rekan).

Masih diiringi rasa cemas dan gelisah, Al-Ghifari mencoba menutupi semua itu dengan senyumnya, ia menjelaskan, kondisi rumah disekitarnya pasca diterjang longsor rusak parah melululantakan puluhan pemukiman warga dan menimbun 10 korban .

Beruntung, kata dia, kedua orang tuanya selamat dari peristiwa maut tersebut, rumah yang ia tempati pun masih bisa dihuni kendati itu, Al-Ghifari dan keluarga tak berani kembali pulang lantaran faktor keselamatan.

Situasi kegiatan anak-anak usai mengikuti KBM dan Trauma Healing (foto: Abdul Kholilulloh)
Situasi kegiatan anak-anak usai mengikuti KBM dan Trauma Healing (foto: Abdul Kholilulloh)

“Liat rumah temen-temen aku udah pada rusak, Alhamdulillah rumah saya masih ada dan mamah sama bapak selamat, cuma takut kalau pulang,” ungkapnya dengan gemetar.

Senada dikatakan Bagas, ia mengaku lumayan betah tinggal di lokasi pengungsian yang bertempat di GOR Desa Cibenda, terkadang ia harus mengurungkan niat untuk pulang kerumah karena cuaca yang tidak memungkinkan.

Baca Juga:  Gelar Doa Bersama, Paslon Nomor 03 Ade Kuswara-Asep Surya Klaim Unggul di Pilbup Kabupaten Bekasi

“Enggak boleh pulang dulu, kata mamah juga harus disini dulu (pengungsian), kalau disini enak makan juga tiap hari pake endog sama ayam, terus banyak temen-temen bisa main di lapang (aula tenda pengungsian),” kata Bagas yang juga bercita-cita menjadi TNI ini.

Terekam jelas dalam ingatan Bagas saat bencana longsor menerjang Kampung Gintung, ia menceritakan, saat itu suara gemuruh terdengar jelas sebelum longsor turun dari atas lereng bukit.

Kondisi jembatan terputus diterjang longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda (foto: Abdul Kholilulloh)
Kondisi jembatan terputus diterjang longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda (foto: Abdul Kholilulloh)

 

“Saya waktu pas malam kejadian belum terlalu lelap sempet denger suara gemuruh kenceng banget dari atas rumah,” kata Bagas.

Setelah dipastikan longsor, lanjut Bagas, ia dan keluarga berlari menuju tempat yang lebuh aman yaitu aula Desa Cibenda bersama puluhan warga lainnya.

“Setelah dipastikan itu longsor, semua keluarga langsung lari ke desa sama mamah dan bapak juga ikut lari. Waktu jalan ke sana juga sampai jatuh,” ujar dia.

Bahkan, saat longsor terjadi lampu semua mati. Sehingga, kondisi malam itu gelap karena tiang listrik jatuh dihantam material longsor dan kayu.

Baca Juga:  Dukung Program Presiden Prabowo, Aryandra Property Siapkan 1.100 Rumah Subsidi untuk Warga KBB
Tiang listrik roboh nyaris menimpa rumah warga, kondisi aliran listrik sempat padam saat bencana longsor melanda wilayah Kampung Gintung, Desa Cibenda (foto: Abdul Kholilulloh)
Tiang listrik roboh nyaris menimpa rumah warga, kondisi aliran listrik sempat padam saat bencana longsor melanda wilayah Kampung Gintung, Desa Cibenda (foto: Abdul Kholilulloh)

“Gak cuman tiang listrik, jembatan juga rusak karena longsor,” ucapnya dengan nada lirih.

Kendati begitu, Bagas mengaku ingin cepat pulang ke rumahnya dan berharap kondisi bisa seperti sediakala. Serta bisa bermain bola seperti biasa dengan teman-temannya.

“Kalau di pengungsian belajarnya di Sekolah Darurat, tapi lebih seru sekolah biasa,” ujar dia kembali.

Meski menjalani puasa Ramadan di tempat pengungsian, hingga puasa ke-18 bocah kelas 5 ini mengaku belum pernah satu kalipun membatalkan puasanya.

“Sampai hari ini, Alhamdulillah belum batal puasa om,” tutupnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data yang dihimpun BPBD KBB pada Rabu 27 Maret 2024 hingga pukul 21.00 WIB tercatat bencana tanah longsor di Desa Cibenda dan Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor mengakibatkan 527 warga terdampak.

Warga yang terdampak di Kampung Gintung mencapai 527 jiwa atau 142 kepala keluarga dengan rincian 342 dewasa, 45 remaja, 28 anak-anak, 52 balita dan 60 lansia.

 



Penulis : Abdul Kholilulloh

Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan Khusus (Lipsus)

Berita Terkait

Pria di Ngamprah Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Olah TKP 
BPN KBB Bantah Keterlibatan Petugas dalam Dugaan Pungli PTSL di Ngamprah
Libur Akhir Pekan di Bandung Barat, Dishub Gunakan Teknologi ATCS
Perlu Diaudit, Menu MBG di Cipatik Cihampelas Tak Layak, Warga Nilai Tidak Sesuai Standar Gizi 
Dokter Spesialis Jarang Ngantor, DPRD KBB Soroti Pelayanan di RSUD Cikalongwetan 
Terungkap! Ini Fakta Dugaan Pungli PTSL di Ngamprah Bandung Barat
ATCS Bandung Barat Kerap Terkendala Internet, Dishub Evaluasi Bandwidth
Komisi I DPRD Buka Peluang ASN KBB Ikut Kontestasi BPD 2026

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 21:52 WIB

Pria di Ngamprah Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Olah TKP 

Senin, 8 Juni 2026 - 15:26 WIB

BPN KBB Bantah Keterlibatan Petugas dalam Dugaan Pungli PTSL di Ngamprah

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:45 WIB

Libur Akhir Pekan di Bandung Barat, Dishub Gunakan Teknologi ATCS

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:20 WIB

Perlu Diaudit, Menu MBG di Cipatik Cihampelas Tak Layak, Warga Nilai Tidak Sesuai Standar Gizi 

Sabtu, 6 Juni 2026 - 21:04 WIB

Dokter Spesialis Jarang Ngantor, DPRD KBB Soroti Pelayanan di RSUD Cikalongwetan 

Berita Terbaru

Tim INAFIS Polres Cimahi lakukan olah TKP penemuan jenazah di Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat

Pria di Ngamprah Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Olah TKP 

Senin, 8 Jun 2026 - 21:52 WIB

Pantauan kendaraan melalui teknologi canggih CCTV ATCS Dishub KBB (foto: Abdul Kholilulloh)

Bandung Barat

Libur Akhir Pekan di Bandung Barat, Dishub Gunakan Teknologi ATCS

Minggu, 7 Jun 2026 - 15:45 WIB