Sekitar Kita.ID – Tradisi nyekar atau ziarah kubur merupakan salah satu budaya yang masih melekat di masyarakat Indonesia, terutama saat menjelang dan sesudah Hari Raya Idulfitri.
Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur serta orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia.
Nyekar adalah istilah yang digunakan dalam tradisi ziarah kubur. Aktivitas ini biasanya dilakukan dengan cara menaburkan bunga di atas makam serta membacakan doa untuk orang yang telah meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peziarah berharap agar orang yang telah wafat mendapatkan tempat yang layak di akhirat.
Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), tradisi nyekar juga menjadi kebiasaan yang dilakukan saat momen Idulfitri. Warga Kecamatan Padalarang berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga di wilayah Kecamatan Cikalong Wetan, dua hari setelah hari Raya Idulfitri.
Menurut Ine Sumarni, salah seorang warga Kecamatan Padalarang, ziarah kubur menjadi bagian penting dalam perayaan Idulfitri keluarganya.
“Kami dan keluarga besar almarhum Anda Bin Atma memilih berziarah di hari ke 2 Idul Fitri, biasanya membaca Yasin dan doa-doa untuk orang tua yang sudah meninggal dunia. Harapannya agar almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik,” ujar Ine saat ditemui dilokasi pada Selasa (1/4/2025).
Ia menambahkan bahwa tradisi nyekar ini sudah berlangsung turun-temurun sejak puluhan hingga ratusan tahun yang lalu.
“Di hari-hari biasa masyarakat juga sering berziarah kubur. Jadi, ini memang seperti sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” terangnya.
“Keluarga besar kami memang sudah tradisi, semua anak-anak dan cucu-cucu semuanya berkumpul di sini (makam), sekaligus menjalin silaturahmi di momen lebaran,” sambungnya.
Tak hanya di Bandung Barat, tradisi nyekar juga banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun zaman terus berkembang, nilai-nilai budaya dan spiritual tetap dijaga oleh masyarakat.
Senada dikatakan Virda warga Sukamulya, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, ia sengaja berangkat sejak pagi hari menuju wilayah Cianjur untuk melakukan ziarah ke makam sang ibu.
“Memilih hari kedua lebaran supaya tidak macet, dari jam 06.00 WIB pagi sampai Cianjur sekitar jam 08.00 WIB, setiap tahun aku ziarah ke makam ibu,” ujar Virda.
“Harapannya agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT,” tandasnya.
Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antar keluarga yang masih hidup, tetapi juga menjaga hubungan batin dengan mereka yang telah berpulang.
Setelah selesai membaca doa, momen halal bihalal dan makan bersama serta berswa foto memeriahkan silaturahmi di momen Idul Fitri 2025.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







