SEKITARKITA.id – Ratusan buruh PT Namasindo Plas di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggelar aksi soliditas dengan mendirikan tenda darurat bentuk perjuangan pekerja di depan gerbang pabrik, Jumat (31/10/2025).
Aksi ini dilakukan lantaran pihak perusahaan dinilai mangkir dalam pembayaran upah hampir dua bulan.
Ratusan peserta aksi (all out) baik yang pekerja tergabung dalam Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Logam (SPL) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Namasindo Plas maupun non serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka mulai mendirikan tenda di pintu gerbang utara dan selatan kawasan industri Batujajar, Jalan Cangkorah, RW01, Desa Giri Asih, Kecamatan Batujajar KBB sejak pukul 08.00 WIB.
Aksi damai ini sebagai bentuk protes terhadap manajemen perusahaan yang tak kunjung memberikan kepastian soal pembayaran upah dan status kerja karyawan.
“Sudah hampir dua bulan saya belum dibayar upahnya, dan dirumahkan tanpa kepastian,” ungkap Ita (42), salah satu pekerja yang ikut aksi.
“Upah saya belum dibayar 1,5 bulan, total sekitar Rp9 juta belum termasuk BPJS. Sedih pisan kang, kumaha nasib kita,” ujarnya dengan nada haru.
Senada, Rini, buruh lainnya, meminta pemerintah turun tangan menyelesaikan persoalan ini.
“Kami berharap pak Bupati KBB dan Disnaker hadir, termasuk Pak Gubernur Jabar kang Dedi Mulyadi (KDM) melihat kondisi buruh yang terkatung-katung seperti ini,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua PUK FSPMI PT Namasindo Plas, Yandi Setiawan, menjelaskan bahwa serikat buruh sudah beberapa bulan mengupayakan dialog. Namun, tidak ada kepastian dari perusahaan.
“Kami sudah menunggu lebih dari satu bulan setengah, tapi belum ada kejelasan pembayaran upah maupun kapan kami kembali bekerja,” katanya.
Menurut Yandi, perusahaan sempat berjanji membayar sebagian upah, namun realisasinya jauh dari harapan.
“Baru dibayar sekitar Rp1,5 juta dari total tunggakan. Janji pelunasan akhir Oktober belum juga ditepati,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa aksi tenda akan dilakukan selama 10 hari, dijaga 24 jam baik yang tergabung di serikat maupun non serikat (all out) untuk mencegah tindakan sepihak dari perusahaan seperti pembongkaran mesin produksi.
Saat ini, sekitar 500–600 karyawan bekerja di PT Namasindo Plas. Dari jumlah itu, sekitar 270 pekerja anggota FSPMI belum menerima upah.
“Kami memperjuangkan hak para pekerja baik yang tergabung di serikat FSPMI maupun yang non serikat, terlepas management mau bayar yanh serikat atau bukan itu kembali lagi keputusan pihak perusahaan, intinya kami akan terus berjuang untuk hak hak para pekerja,” tegasnya.
Upah yang tertunggak bervariasi, kta dia, mulai dari 1 bulan hingga 2,5 bulan, dengan nominal, operator, Rp4 juta – Rp4,5 juta/bulan. Golongan lain, Rp4,5 juta – Rp5 juta/bulan.
Selain upah, buruh juga menyoroti kejelasan BPJS Ketenagakerjaan yang belum dibayarkan.
“Dalam satu tahun terakhir, kondisi perusahaan disebut menurun. Beberapa departemen masih beroperasi, namun ada yang berhenti produksi, termasuk botol ukuran besar yang biasanya digunakan untuk kemasan air mineral,” ujarnya.
Dikatakan Yandi, hal ini disebabkan dampak persaingan pasar hingga kondisi ekonomi global turut disebut memengaruhi produksi perusahaan.
“Kami hanya minta hak kami. Kami punya keluarga yang harus makan. Kami minta perusahaan bertanggung jawab atas upah tertunggak dan memanggil kami kembali bekerja,” tegas Yandi.
FSPMI mendesak, Pelunasan upah tertunggak segera dibayarkan, BPJS Ketenagakerjaan dipulihkan dan dibayarkan. Pekerja dipanggil kembali bekerja sesuai haknya.
“Aksi tenda perjuangan menjadi simbol keberlangsungan hidup para buruh yang kini terhimpit kebutuhan ekonomi,” tandasnya.
Sebagai informasi, PT Namasindo Plas merupakan perusahaan manufaktur kemasan plastik, khususnya produksi botol plastik untuk kebutuhan industri minuman dalam kemasan yang bermarkas di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Namasindo didirikan di Bandung tahun 2001 sebagai penerusan dari perusahaan saudaranya PT Artha Kartika Putra atau Serba Guna Plastic, yang memiliki pabrik yang berjalan sejak 1984.
Namasindo berspesialisasi di, Botol berkapasitas 5 gallon, tutup botol screw cap dan gallon cap, Hanger bottle dari PET (polyethylene terephthalate).
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







