SEKITARKITA.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menjadi sorotan nasional setelah munculnya kasus gejala keracunan di beberapa wilayah.
Tidak hanya soal kesehatan, menu sajian dan keterlambatan distribusi juga ramai dipersoalkan publik, termasuk di SDN Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang.
Isu tersebut mencuat setelah pemberitaan mengenai keluhan sejumlah orang tua murid terkait menu MBG yang dinilai tidak layak dan sering terlambat didistribusikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, kabar itu langsung dibantah oleh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padalarang, Daniel, yang memberikan klarifikasi resmi.
Daniel menegaskan bahwa menu makanan kering berupa kroket sayur, kacang koro, dan buah apel yang dipersoalkan memang benar disajikan, tetapi konteksnya tidak disampaikan secara tepat.
“Keputusan penggunaan menu makanan kering tanpa nasi tersebut dibuat berdasarkan masukan dari beberapa sekolah,” jelas Daniel saat ditemui SekitarKita.id di kantor SPPG Cipadang Manah, Desa Padalarang, Senin (24/11/2025).
Menurutnya, pihak sekolah meminta agar menu makanan kering tidak terlalu sering menggunakan produk UPF (Ultra Processed Food) atau makanan kemasan yang mengandung pengawet.
Karena itu, SPPG berupaya meningkatkan kualitas menu dengan bekerja sama dengan UMKM lokal untuk menyediakan makanan homemade yang lebih sehat bagi anak-anak.
“Menu kroket sayur itu kami ambil di UMKM warga perumahan Babakan Loa Permai (Baloper) Padalarang dan ada beberapa menu yang kami kerjasama juga,” ujarnya.
Menanggapi isu keterlambatan distribusi MBG, Daniel menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan faktor teknis di lapangan.
Terutama karena, kata dia, banyaknya jumlah sekolah penerima manfaat MBG, lokasi sekolah yang berjauhan, akses jalan terbatas, termasuk gang sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan dan area rawan macet pada jam pengantaran.
“Beberapa sekolah harus dijangkau dengan berjalan kaki oleh petugas distribusi. Hal ini membuat waktu pengantaran menjadi lebih panjang,” ungkapnya.
Daniel berharap klarifikasi ini dapat meluruskan informasi yang berkembang dan mengurangi kesalahpahaman masyarakat terkait program MBG.
Orang Tua Mengakui Ada Perbaikan Menu
Secara terpisah, salah satu wali murid berinisial LN mengakui bahwa setelah adanya keluhan, menu MBG di SDN Sukamaju mulai menunjukkan perbaikan.
“Alhamdulillah kemarin menu MBG sudah mending. Ada susu kacang hijau dan kemasannya juga tidak memakai plastik seperti sebelumnya,” ujarnya.
LN mengapresiasi respons cepat SPPG dan berharap program prioritas Presiden Prabowo ini bisa terus berjalan tanpa hambatan, terutama di wilayah Bandung Barat.
Meski sudah ada perbaikan, LN berharap pemerintah daerah, termasuk DPRD dan Dinas Kesehatan KBB, dapat meningkatkan pengawasan di setiap dapur SPPG.
“Supaya kasus keracunan yang kemarin terjadi tidak terulang lagi. Mohon semua pejabat terkait mengawal program ini,” tegasnya.
Program MBG diharapkan tetap memberikan manfaat maksimal bagi pelajar di Kabupaten Bandung Barat, sekaligus memastikan kualitas makanan aman, bergizi, dan tepat waktu sampai di sekolah penerima.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








