SEKITARKITA.id – Puluhan ibu-ibu ramai memprotes kondisi jembatan ambruk di wilayah Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Aksi spontan itu direkam dalam sebuah video dan viral di media sosial serta grup WhatsApp, sontak mengundang perhatian publik.
Jembatan penghubung yang ambruk sejak 24 Maret 2025 itu mencakup tiga wilayah, yakni RW 25 Kampung Sukamulya, RW 05 Kampung Rancabali, dan RW 06 Kampung Sukamaju, Desa Padalarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, hampir delapan bulan berlalu, belum ada tanda-tanda perbaikan nyata dari pemerintah.
Dalam video yang beredar pada Jumat (19/09/2025) itu, puluhan ibu-ibu tampak membentangkan spanduk bernada sindiran kepada Pemerintah Daerah (Pemda) KBB. Salah satu tulisan yang terlihat berbunyi: “Pemerintah KBB kemana wae?”
Saat dikonfirmasi sekitarkita.id, salah seorang peserta aksi, Diah Indrawati (54), membenarkan bahwa video tersebut dibuat secara spontan usai salah satu rekannya hampir celaka saat melewati jembatan darurat dari bambu.
“Iya, itu spontan aksi kemarin pas hari Jumat bikin video di lokasi jembatan ambruk,” ujar Diah, Minggu (21/9/2025).
Menurutnya, rombongan ibu-ibu senam itu kesal karena jembatan darurat sangat berisiko.
“Ada rekan kita hampir terpeleset. Muter jauh kalau lewat jalan lain. Makanya kami protes ke Pak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail agar segera memperbaiki jembatan,” jelasnya.
Selain aksi ibu-ibu, warga juga memasang spanduk protes di lokasi jembatan yang ditujukan kepada Bupati KBB, DPRD KBB, Camat Padalarang, dan perangkat Desa Padalarang.
“Surat terbuka dari masyarakat RW 05, 06, dan 25 sebelum kami melaksanakan demo lebih besar, kami mempertanyakan kapan jembatan ini akan diperbaiki?” bunyi salah satu spanduk.
Diah menambahkan, warga semakin kecewa karena sejak jembatan ambruk delapan bulan lalu, bantuan pemerintah hanya sebatas terpal untuk menahan bangunan turap (TPT).
Dampak Jembatan Ambruk: Gagal Panen & Antisipasi Penyakit
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, kerusakan jembatan ini menimbulkan dampak serius.
Sebelumnya, petani di Kampung Purabaya, Desa Jayamekar, mengaku gagal panen di lahan seluas 5 hektare karena irigasi terganggu.
Kini, warga di tiga RW mengeluhkan masalah kesehatan. Iman Taufik, tokoh pemuda Kampung Sukamulya, mengatakan sampah menumpuk di sekitar jembatan sehingga menimbulkan jentik nyamuk dan bau tak sedap.
“Pasca ambruk, sampah numpuk dan menimbulkan jentik nyamuk. Warga khawatir terserang penyakit kulit,” ucapnya.
Hal senada disampaikan CN (54), warga lain, yang menegaskan bahwa jembatan ambruk menutup saluran irigasi dari PN Kertas, menyebabkan air meluber ke jalan dan sawah warga gagal panen.
“Sekitar 5 hektare sawah di Purabaya dan Jayamekar gagal panen hampir enam bulan,” ungkapnya.
Meski begitu, warga menilai pemerintah terlalu lamban. Mereka mendesak Pemda KBB segera turun tangan sebelum kondisi semakin parah.
“Kalau sampai ada korban karena jembatan darurat ini, siapa yang tanggung jawab? Katanya Dana Desa Rp200 juta sudah ada, tapi sampai sekarang belum ada transparansi,” ucapnya.
Camat Padalarang Angkat Bicara
Menanggapi keluhan warga, Camat Padalarang, Agus Achmad Setiawan, menjelaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
Menurutnya, perbaikan jembatan masih menunggu izin Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum karena saluran sungai di bawah jembatan masuk kewenangan mereka.
“Pembangunan jembatan berada di jalur desa, jadi pemerintah desa yang bertanggung jawab atas teknis dan anggarannya. Kami hanya memfasilitasi,” kata Agus, Kamis (17/7/2025) lalu.
Agus memastikan Dinas PUTR KBB sudah menghitung kebutuhan anggaran perbaikan, tinggal menunggu tahapan teknis.
“Proses masih berjalan, dan pemerintah tetap bergerak sesuai aturan,” tegasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








