SEĶITARKITA.id – Kisah pilu seorang bocah yang sempat viral karena terpaksa makan rumput di Kabupaten Bandung Barat kini mulai berbalik arah.
Muhammad Ridzki, warga Kampung Babakan Cianjur, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, perlahan mendapatkan harapan baru setelah mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Salah satu sosok yang tergerak adalah pengusaha muda, Hendrik Irawan. Owner SPPG Bandung Barat itu langsung mendatangi kediaman Ridzki pada Senin (27/4/2026), membawa bantuan berupa sembako, makanan siap saji, hingga uang tunai untuk membantu kebutuhan keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran Hendrik bukan sekadar memberi bantuan sesaat. Ia juga berkomitmen untuk memperbaiki kondisi rumah Ridzki yang memprihatinkan, terutama bagian plafon yang nyaris roboh dan membahayakan penghuni.
Ridzki diketahui tinggal bersama ayahnya, Asep Setiawan, serta kakek dan neneknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Situasi itulah yang sebelumnya mendorong kisah Ridzki menjadi perhatian publik.
Asep Setiawan tak mampu menyembunyikan rasa haru saat menerima bantuan tersebut.
Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku tidak menyangka ada pihak yang benar-benar peduli terhadap kondisi keluarganya.
“Terima kasih banyak atas bantuannya. Ini sangat berarti bagi kami,” ujarnya lirih.
Tak berhenti di bantuan materi, Hendrik juga membuka peluang baru bagi keluarga tersebut dengan menawarkan pekerjaan kepada Asep di usahanya.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar keluarga Ridzki memiliki penghasilan tetap.
Untuk masa depan sang anak, Ridzki direncanakan akan mendapatkan akses pendidikan yang lebih layak dengan disekolahkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB), menyesuaikan dengan kebutuhannya.
Ketua RT setempat, Cecep Mulyana, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan Hendrik.
Ia berharap langkah tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut membantu warga yang membutuhkan.
Kisah Ridzki menjadi gambaran nyata bahwa di tengah kesulitan hidup, kepedulian sosial masih menjadi kekuatan besar yang mampu mengubah masa depan.
Dari kisah yang sempat mengundang keprihatinan, kini tumbuh secercah harapan bagi kehidupan yang lebih baik.
Sebelumnya, kisah memilukan seorang anak berusia 11 tahun yang terpaksa makan rumput di Kabupaten Bandung Barat menjadi sorotan utama dalam aksi unjuk rasa ribuan buruh yang digelar DPC K SPSI di Gedung DPRD KBB, Senin (27/4/2026).
Cerita tersebut diungkap langsung oleh Koordinator Aksi, Kiky Saputra, di hadapan jajaran pemerintah daerah saat audiensi berlangsung.
Ia menyebut kondisi itu sebagai potret nyata kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Bandung Barat.
Menurut Kiky, anak tersebut tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai pemulung, setelah ditinggal ibunya yang menikah lagi.
Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, anak itu bahkan disebut memiliki kebiasaan makan rumput di sekitar tempat sampah.
“Ini sangat miris. Anak 11 tahun sampai makan rumput. Kami minta pemerintah hadir dan segera mengambil tindakan,” ujar Kiky dalam orasinya.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa anak tersebut memiliki keterbatasan fisik, yakni tuna rungu dan tuna wicara, sehingga membutuhkan perhatian khusus, termasuk akses pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Kami mohon, tolong sekolahkan anak itu ke SLB. Jangan dibiarkan. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








