PHK Diduga Sepihak Picu Kemarahan Warga, PT Royal di Padalarang Diblokade Massa

- Penulis

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga protes PHK sepihak hingga dirikan tenda di PT Royal Sejahtera Abadi di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). Foto: Abdul Kholilulloh

i

Warga protes PHK sepihak hingga dirikan tenda di PT Royal Sejahtera Abadi di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). Foto: Abdul Kholilulloh

SEKITARKITA.id – Aksi protes mewarnai operasional PT Royal Abadi Sejahtera di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026).

Puluhan warga yang didominasi ibu-ibu menggeruduk perusahaan sebagai bentuk protes atas dugaan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak terhadap sejumlah karyawan lokal.

Aksi tersebut dipicu setelah sedikitnya enam hingga delapan pekerja asal lingkungan sekitar tidak lagi dipekerjakan pasca pergantian yayasan yang menangani tenaga kerja di perusahaan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warga menilai pemberhentian dilakukan tanpa penjelasan yang jelas, meski para pekerja telah mengabdi selama bertahun-tahun.

Aksi protes mewarnai operasional PT Royal Sejahtera Abadi di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). foto: Abdul Kholilulloh
Aksi protes mewarnai operasional PT Royal Abadi Sejahtera di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). foto: Abdul Kholilulloh

Pantauan Sekitarkita.id di lokasi, massa mulai berkumpul sejak pukul 09.00 WIB. Mereka memblokade akses masuk kendaraan kontainer ke dalam area perusahaan serta mendirikan tenda di depan gerbang sebagai bentuk perlawanan.

Hingga pukul 14.44 WIB, suasana aksi masih berlangsung setelah pihak personalia PT Royal Abadi Sejahtera akhirnya menemui massa.

Kedatangan perwakilan perusahaan disambut teriakan warga yang menuntut kejelasan mengenai status para pekerja lokal yang diberhentikan.

Baca Juga:  Kesra KBB dianggap langgar aturan, poster maju Pilkada hiasi jalan Cisarua-Parongpong
Salah seorang pekerja, Aep Suhendar (40), foto: Abdul Kholilulloh
Salah seorang pekerja, Aep Suhendar (40), foto: Abdul Kholilulloh

Salah seorang pekerja, Aep Suhendar (40), mengaku dirinya bersama sejumlah rekan lainnya kehilangan pekerjaan setelah terjadi pergantian yayasan.

Menurutnya, selama lebih dari enam tahun bekerja tidak pernah ada persoalan terkait disiplin maupun kinerja.

“Kami sudah bekerja lebih dari enam tahun dan selama itu tidak pernah ada masalah. Tiba-tiba kami diberhentikan setelah diduga terjadi pengalihan yayasan lama ke yayasan baru. Kami hanya ingin perusahaan memberikan penjelasan yang jelas,” ujar Aep dilokasi.

Ia menjelaskan, sebelum pemberhentian dilakukan, pihak yayasan baru sempat meminta kembali dokumen mengenai pendidikan, pengalaman kerja, hingga melakukan tes kesehatan ulang terhadap para pekerja.

Warga protes PHK sepihak hingga dirikan tenda di PT Royal Sejahtera Abadi di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). Foto: Abdul Kholilulloh
Warga protes PHK sepihak hingga dirikan tenda di PT Royal Sejahtera Abadi di Kampung Cibacang RW 04 RT 01, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (30/6/2026). Foto: Abdul Kholilulloh

Namun setelah seluruh persyaratan dipenuhi, sejumlah pekerja yang mayoritas merupakan warga lokal justru dinyatakan tidak diterima bekerja kembali tanpa alasan yang jelas.

“Setelah yayasan berpindah, kami diminta menyerahkan data dan mengikuti tes kesehatan ulang. Setelah itu pekerja yang mayoritas warga lokal tidak diterima lagi. Tidak ada penjelasan apa pun. Kalau memang ada pelanggaran absensi atau lainnya seharusnya ada teguran terlebih dahulu, bukan langsung diberhentikan,” katanya.

Baca Juga:  Diduga dampak perbaikan pipa PDAM, benteng SD 2 Parigi Bandung Barat ambruk

Aep menegaskan, warga akan tetap bertahan di depan pintu masuk perusahaan hingga ada kepastian dari manajemen PT Royal Abadi Sejahtera.

Selain meminta kejelasan mengenai status para pekerja, warga juga mendesak perusahaan tetap memprioritaskan tenaga kerja lokal sebagaimana komitmen yang pernah disampaikan saat pembangunan pabrik.

“Dulu saat pembangunan pabrik ada kesepakatan bahwa warga RW 04 diprioritaskan bekerja di sini. Jangan dipersulit hanya karena usia atau ijazah,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua RT 01 RW 04 Kampung Cibacang, Poniman, mengatakan masyarakat selama ini selalu mendukung keberadaan perusahaan, termasuk membantu aktivitas bongkar muat barang ketika diperlukan.

Menurutnya, warga hanya ingin kesempatan untuk tetap bekerja dan memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Walaupun usia saya sudah tidak muda, kami bersama warga selalu siap membantu aktivitas perusahaan. Yang kami perjuangkan hari ini adalah kesempatan warga untuk tetap mencari nafkah,” ujarnya.

Poniman menegaskan, sejak awal berdiri perusahaan telah berkomitmen memprioritaskan penyerapan tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

Baca Juga:  Ade Zakir dilantik ketua Mabicab KBB, Atalia sebut Pramuka perlu regenerasi kepengurusan

Karena itu, masyarakat berharap komitmen tersebut tidak berubah meski terjadi pergantian yayasan.

Ia juga menilai komunikasi antara perusahaan dengan warga semakin memburuk setelah pengelolaan tenaga kerja beralih ke yayasan baru.

“Peralihan yayasan dari PPS, PPD, hingga sekarang Yayasan Aira membuat persoalan semakin rumit. Dulu setiap masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan, sekarang sampai sebesar ini belum ada solusi untuk warga kami,” tandasnya.

Hingga sekitar pukul 14.30 WIB, pihak personalia PT Royal Abadi Sejahtera didampingi Kepala Desa Cipeundeuy sempat menawarkan pertemuan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (1/7/2026).

Namun, tawaran tersebut ditolak massa. Warga memilih tetap bertahan di tenda yang didirikan di depan gerbang perusahaan hingga manajemen memberikan kepastian terkait nasib para pekerja lokal yang diduga diberhentikan secara sepihak.

 

 



Editor : Abdul Kholilulloh

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Terkuak, Disnaker KBB Bongkar Peran PT Aira Jadi Pemicu Aksi Unras di PT Royal Padalarang
Berobat Sepulang Kerja Kini Bisa, Pemkot Cimahi Resmikan Klinik Sore di Padasuka
Harganas ke-33, Walkot Cimahi Adhitia Ingatkan Peran Keluarga Tak Boleh Luntur di Tengah Gempuran Era Digital
Fenomena Hujan Kapur Viral di Cipatat, DLH KBB Mulai Periksa Perusahaan Penghasil Debu
Fraksi PDIP KBB Semprot Kinerja SKPD, Minta Bupati Jeje Larang Kadis Mangkir Rapat Paripurna
Realisasi APBD Bandung Barat 2025 Tembus 98,58 Persen, Pendapatan Rp3,39 Triliun Berbuah Opini WTP BPK
Eceng Gondok Ancam Pasokan Listrik Jawa-Bali, Bupati Bandung Barat Dukung Aksi PLN Indonesia Power
Yayasan Bina Siswa Cisarua Tagih Janji Dapur SPPG Cimahi, Komitmen Administrasi Dipertanyakan

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:29 WIB

Terkuak, Disnaker KBB Bongkar Peran PT Aira Jadi Pemicu Aksi Unras di PT Royal Padalarang

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:43 WIB

PHK Diduga Sepihak Picu Kemarahan Warga, PT Royal di Padalarang Diblokade Massa

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:38 WIB

Berobat Sepulang Kerja Kini Bisa, Pemkot Cimahi Resmikan Klinik Sore di Padasuka

Selasa, 30 Juni 2026 - 07:55 WIB

Harganas ke-33, Walkot Cimahi Adhitia Ingatkan Peran Keluarga Tak Boleh Luntur di Tengah Gempuran Era Digital

Senin, 29 Juni 2026 - 21:22 WIB

Fenomena Hujan Kapur Viral di Cipatat, DLH KBB Mulai Periksa Perusahaan Penghasil Debu

Berita Terbaru