SEKITARKITA.id – Pencemaran debu dari aktivitas pengolahan batu kapur di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tak lagi sekadar mengganggu kenyamanan warga.
Debu yang disebut warga menyerupai “hujan salju” itu kini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Merespons kondisi tersebut, Dinkes KBB menerjunkan tim surveilans bersama Puskesmas untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini dilakukan guna mendeteksi sedini mungkin kemungkinan munculnya penyakit akibat paparan debu yang terjadi hampir setiap hari.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes KBB, Lia Nurliani Sukandar, mengatakan pemantauan tidak hanya berfokus pada pendataan keluhan warga, tetapi juga disertai edukasi mengenai cara melindungi diri dari paparan debu kapur.
“Upaya ini dilakukan agar dampak kesehatan pada masyarakat dapat terpantau sejak dini dan dapat segera ditindaklanjuti apabila ditemukan peningkatan keluhan atau kasus penyakit tertentu,” kata Lia saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, keluhan yang paling banyak disampaikan warga antara lain batuk, tenggorokan gatal dan kering, bersin, pilek, serta iritasi mata yang ditandai mata merah, perih, dan berair.
Debu halus juga dilaporkan mudah masuk ke dalam rumah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan mengalami dampak yang lebih berat. Mereka lebih mudah mengalami sesak napas ketika intensitas debu meningkat.
“Pada warga yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru, terdapat keluhan sesak napas yang lebih mudah muncul atau kambuh ketika paparan debu meningkat. Oleh karena itu, kelompok rentan perlu lebih berhati-hati dan segera memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik,” ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini Dinkes KBB belum menemukan adanya lonjakan kunjungan pasien ke Puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang secara langsung berkaitan dengan paparan debu kapur.
“Hingga saat ini, berdasarkan hasil pemantauan belum terdapat peningkatan kunjungan ke Puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang signifikan dan secara langsung dapat dikaitkan dengan paparan debu kapur,” tutur Lia.
Ia menjelaskan, debu kapur merupakan partikel yang berpotensi membahayakan kesehatan apabila terhirup dalam jumlah besar dan terjadi secara terus-menerus.
Kelompok yang paling berisiko terdampak yakni balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun alergi saluran pernapasan.
Selain menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, dan saluran napas, paparan debu dalam jangka panjang juga dapat memperparah penyakit yang telah diderita masyarakat.
“Pada masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru, paparan debu dapat memperberat keluhan dan memicu kekambuhan. Apabila paparan terjadi terus-menerus tanpa pengendalian, debu juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta menurunkan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah terdampak,” pungkasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan







