KBB | SEKITARKITA.id – Misteri dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami puluhan siswa SDN 2 Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga kini belum terungkap.
Pihak sekolah mengungkap kronologi munculnya keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Kepala SDN 2 Cipeundeuy, Ratna Susilowati, mengatakan gejala gangguan kesehatan pertama kali diketahui pada Kamis (10/9/2026) siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat itu, seorang siswa mengalami muntah di lingkungan sekolah. Sementara seorang siswa lainnya mengalami diare. Kedua siswa tersebut kemudian dipulangkan lebih awal agar dapat beristirahat dan memperoleh penanganan di rumah.
“Betul bahwa ada indikasi sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan. Kejadiannya kita ketahui Kamis 10 September 2026, di mana ada seorang siswa muntah di sekolah dan seorang lagi mengalami diare,” kata Ratna saat ditemui wartawan di SDN 2 Cipendeuy, Senin (14/9/2026).
Guru kelas 6, Santris Muhammad Tegar (foto: Abdul Kholilulloh)
Pada Jumat (11/9/2026), laporan mengenai siswa yang mengalami gangguan kesehatan mulai bertambah.
Pihak sekolah menerima laporan dari para guru bahwa sejumlah siswa membutuhkan penanganan medis. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 45 siswa dan warga sekolah yang mengalami gejala gangguan kesehatan. Jumlah tersebut termasuk siswa yang sebelumnya tidak masuk sekolah karena mengalami keluhan serupa.
Sekitar 40 siswa yang tidak masuk sekolah diketahui telah mendapatkan pengobatan di klinik. Mereka tidak perlu menjalani rawat inap dan diperbolehkan kembali ke rumah.
Sementara itu, sebanyak 17 orang sempat dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah menjalani pemeriksaan, termasuk mendapat suntikan dan obat, empat orang di antaranya diperbolehkan pulang.
“Untuk data yang sudah disampaikan kepada Pak Guru, sampai saat ini ada 15 orang anak dan satu orang guru yang dirawat,” ujar Ratna.
Para siswa dan guru yang masih menjalani perawatan tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni Harapan Sehat, Permata Merdeka, IMC, dan Cibabat.
Dugaan gangguan kesehatan tersebut menjadi perhatian karena para siswa sebelumnya menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama tiga hari berturut-turut, yakni Rabu hingga Jumat.
Pada Rabu, menu MBG yang dibagikan kepada siswa berupa nasi, ayam kecap, dan semangka.
Kemudian pada Kamis, siswa mendapatkan kentang goreng, telur, dan jeruk. Sedangkan pada Jumat, menu yang dibagikan berupa nasi dan chicken ball.
Meski terdapat dugaan keterkaitan dengan makanan MBG, pihak sekolah menyebut selama tiga hari tersebut tidak ada siswa yang mengeluhkan aroma maupun tekstur makanan.
“Tiga hari itu tidak ada komplain anak-anak soal aroma atau tekstur mencurigakan dari menu MBG,” kata Ratna.
Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru masih belum diketahui. Dugaan keracunan MBG juga masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.
Untuk mengantisipasi kondisi yang berkembang, SDN 2 Cipeundeuy menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada Senin (14/9/2026).
Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan arahan pengawas bina dan Dinas Pendidikan. PJJ diberlakukan selama satu hari untuk memudahkan pihak sekolah melakukan pemantauan terhadap siswa yang masih menjalani perawatan maupun siswa yang berada di rumah.
“Itu berdasarkan arahan dari pengawas bina dan Dinas Pendidikan. Untuk hari ini, pembelajaran jarak jauh dilakukan terlebih dahulu selama satu hari untuk observasi,” tuturnya.
Pihak sekolah masih melakukan pemantauan terhadap kondisi siswa dan guru yang mengalami gangguan kesehatan.
Sementara itu, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada puluhan siswa SDN 2 Cipeundeuy masih menunggu hasil penelusuran lebih lanjut.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : liputan







