SEKITARKITA.id – Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (Disdik KBB) kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan berkualitas melalui pelaksanaan Sosialisasi Sekolah Ramah Anak (SRA).
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Desember 2025, dan diikuti oleh 450 guru Sekolah Dasar yang berasal dari 16 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat.
Bimtek ramah anak ini merupakan bimbingan teknis yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi anak, dengan fokus pada perlindungan anak-anak
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara yang digelar di Hotel Takashimaya Lembang ini menjadi salah satu rangkaian penting Disdik KBB dalam memastikan setiap satuan pendidikan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip perlindungan anak di sekolah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik KBB) Asep Dendih dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan sekolah ramah anak bukan sekadar program administratif, tetapi merupakan kebutuhan dasar yang harus diwujudkan bersama oleh seluruh warga sekolah.
“Setiap anak berhak mendapatkan pembelajaran yang aman, nyaman, menyenangkan, dan bebas dari kekerasan. Melalui sosialisasi ini, kami ingin memastikan seluruh guru menjadi garda terdepan dalam menciptakan suasana belajar yang positif dan inklusif,” ujarnya.
Ia menyebut, dalam sosialisasi tersebut, para peserta mendapatkan materi terkait prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak, teknik pembelajaran yang menghargai keberagaman, strategi pelibatan orang tua, hingga mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah.
“Para narasumber juga menekankan pentingnya perubahan paradigma mengajar. Guru tidak hanya berperan sebagai pemberi materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan serta memberikan rasa aman bagi seluruh siswa,” kata dia.
Dikatakan Asep, materi yang disampaikan diarahkan untuk memberi pemahaman menyeluruh agar setiap guru dapat memberikan layanan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik, termasuk mengenali potensi risiko kekerasan di sekolah dan langkah penanganannya secara tepat.
“Disdik KBB mewajibkan seluruh peserta untuk melakukan diseminasi hasil sosialisasi di sekolah masing-masing. Dengan demikian, pengetahuan dan pemahaman tidak berhenti pada individu, tetapi menjadi gerakan bersama di seluruh sekolah dasar di Bandung Barat,” ujarnya.
Selain itu, kata Asep, setiap sekolah juga diminta memastikan adanya Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang aktif, terstruktur, dan memiliki program kerja jelas.
“TPPK menjadi elemen penting dalam memastikan sekolah mampu merespons berbagai kasus yang melibatkan peserta didik, baik secara preventif maupun kuratif,” katanya.
Tidak hanya membentuk tim, sekolah juga diarahkan untuk menyusun program layanan ramah anak yang dapat diterapkan pada kegiatan belajar mengajar, ekstrakurikuler, hingga pengelolaan lingkungan sekolah. Program ini diharapkan menjadi standar minimum yang harus dipenuhi setiap satuan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, Disdik KBB menegaskan kembali misinya menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan perlindungan anak.
Implementasi Sekolah Ramah Anak diharapkan menjadi budaya yang mengakar, bukan hanya slogan.
“Kegiatan sosialisasi ini juga mendapat respons positif dari para peserta. Banyak guru mengaku mendapatkan wawasan baru dan siap menerapkannya di sekolah masing-masing sebagai bentuk komitmen terhadap pendidikan yang lebih baik,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








