SEKITARKITA.id– Dalam rangka mendukung program pengendalian penduduk, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Karawang terus menggenjot pelayanan KB melalui dua momentum penting di bulan September 2024.
Setelah sukses menyelenggarakan pelayanan KB gratis dalam rangka Hari Jadi Karawang yang ke-391, kini DPPKB kembali menyasar ribuan akseptor melalui peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia.
Pelayanan KB yang diselenggarakan untuk menyemarakan HUT Karawang dilaksanakan mulai tanggal 1 hingga 12 September 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan melibatkan seluruh fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) KB seperti Puskesmas, RS Rosela, RS Dewi Sri, dan RSUD Jatisari, DPPKB berhasil mencapai target yang ditetapkan, yaitu 391 akseptor di setiap kecamatan. Totalnya, 11.370 peserta KB berhasil dilayani dalam periode tersebut.
Kepala DPPKB Karawang, Sofiah, mengungkapkan bahwa momentum HUT Karawang ini tidak hanya dimanfaatkan untuk merayakan hari jadi, tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan pencapaian target KB yang ditetapkan oleh BKKBN.
“Alhamdulillah, berkat kerjasama semua pihak, kami mampu menuntaskan target yang dibebankan,” ujar Sofiah.
Tidak berhenti di situ, setelah sukses dalam rangkaian kegiatan HUT Karawang, DPPKB Karawang kini kembali dihadapkan pada target baru dalam peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia (World Contraception Day).
Kabupaten Karawang ditargetkan mampu melayani 13.813 akseptor KB dari tanggal 10 hingga 20 September 2024. Target tersebut meliputi berbagai jenis alat kontrasepsi yang disediakan secara gratis.
Plt. Kabid KB DPPKB Karawang, Imam Bahanan, melalui Ketua Tim Bina Kesertaan KB, Bidan Veri Andriyati, menjelaskan bahwa target tersebut terdiri dari berbagai jenis alat kontrasepsi, termasuk pil (6.596 akseptor), kondom (285 akseptor), implan (796 akseptor), IUD (636 akseptor), MOW (76 akseptor), dan MOP (2 akseptor).
“Pelayanan ini merupakan bagian dari program mix kontrasepsi, baik jangka panjang maupun jangka pendek,” ujar Veri.
Meskipun kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB terus meningkat, Veri juga mengakui masih ada kendala dalam pemasangan IUD.
Rasa takut dan malu di kalangan masyarakat menjadi faktor utama yang menghambat. Namun, alat kontrasepsi lain seperti implan dan MOW justru mengalami peningkatan peminat.
Veri juga menjelaskan bahwa penghentian penggunaan KB dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti penambahan berat badan dan siklus menstruasi yang tidak teratur. Namun, efek ini dapat diminimalisir melalui konseling dan pendampingan sebelum dan sesudah tindakan.
“Untuk kembali ke masa subur, biasanya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan hingga 1 tahun setelah penghentian penggunaan KB,” tambah Veri.
Dengan dua momentum penting ini, DPPKB Karawang berharap dapat terus mendorong partisipasi masyarakat dalam program KB, sehingga dapat mendukung pengendalian penduduk di Kabupaten Karawang.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Laporan: Andyka Nugroho








