[ad_1]
Oleh Makiko Yamazaki dan Yoshifumi Takemoto
TOKYO (Reuters) – Jepang melihat kondisinya sudah siap bagi financial institution sentral untuk menormalisasi kebijakan moneter, kata tokoh berat partai berkuasa Katsunobu Kato kepada Reuters, menggarisbawahi meningkatnya dukungan politik untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun Kato mengatakan Financial institution of Japan (BOJ) harus terus mencermati kondisi perekonomian dan berkoordinasi secara hati-hati dengan pemerintah dalam menentukan kapan akan menaikkan suku bunga.
“Jepang sedang beralih ke generation di mana harga-harga dan upah naik, dari generation di mana keduanya nyaris tidak bergerak,” kata Kato, mantan kepala sekretaris kabinet dan veteran partai berkuasa yang dipandang oleh beberapa analis sebagai calon perdana menteri masa depan.
“Oleh karena itu wajar jika kebijakan moneter kembali ke gaya semula di mana suku bunga bergerak di wilayah positif yang mencerminkan fungsi pasar,” katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada hari Jumat.
“Kunci dari keputusan apakah akan menaikkan suku bunga adalah perekonomian Jepang, terutama konsumsi, yang belum tentu kuat.”
Ketika ditanya apakah yen terlalu lemah, Kato mengatakan dia lebih mengkhawatirkan dampak melemahnya yen terhadap inflasi dibandingkan tingkat inflasi.
“Dalam dua tahun terakhir, masyarakat jelas dirugikan akibat kenaikan inflasi,” imbuhnya.
Pernyataan Kato menyoroti semakin besarnya fokus partai berkuasa terhadap kenaikan biaya hidup, yang sebagian didorong oleh melemahnya yen, yang mungkin membantu BOJ untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
BOJ mengakhiri kebijakan suku bunga negatif selama delapan tahun pada bulan Maret karena meningkatnya prospek bahwa inflasi akan terus mencapai goal 2%, dibantu oleh kenaikan upah.
Hilangkan iklan
.
Sejak saat itu, financial institution sentral telah mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan biaya pinjaman pada akhir tahun.
Kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dapat memperlambat penurunan yen.
Melemahnya yen telah meningkatkan biaya impor bahan mentah, yang pada gilirannya merugikan konsumsi dan menyulitkan para pembuat kebijakan yang ingin menopang pemulihan ekonomi yang rapuh.
Pelemahan yen baru-baru ini mencerminkan tidak hanya perbedaan suku bunga yang lebar antara Jepang dan negara-negara lain, namun juga perubahan struktural dalam perekonomian Jepang, katanya.
Dengan banyaknya perusahaan Jepang yang mengalihkan produksinya ke luar negeri, melemahnya yen tidak lagi memicu peningkatan tajam dalam ekspor, katanya, seraya menyerukan perlunya Jepang merevitalisasi perekonomiannya dengan menarik investasi dari luar negeri.
[ad_2]
2024-05-13 09:24:12
www.making an investment.com








