Kang Ace sebut Data Stunting di KBB Mencapai 20 Persen, Atau 3 Besar di Jabar, para Penerima PKH Harus Lakukan Ini

- Penulis

Selasa, 26 Desember 2023 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kang Ace saat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga di Tanjungwangi Water Park, Cicangkang Girang, Sindangkerta, Selasa (26/12/2023).

i

Kang Ace saat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga di Tanjungwangi Water Park, Cicangkang Girang, Sindangkerta, Selasa (26/12/2023).

KBB, SekitarKita.id – Dengan melihat data angka stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang kini mencapai 20 persen dari total populasi anak di Bandung Barat. Atau persentase itu menjadi terbesar ketiga di Jawa Barat.

Oleh karena itu, Tubagus Ace Hasan Syadzily Wakil Ketua Komisi VIII DPR meminta kepada para penerima Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menggunakan dana PKH sebagaimana mestinya, seusai komponen yang telah ditetapkan.

Hal itu disampaikan Kang Ace sapaan akrab Tubagus Ace Hasan Syadzily dalam sambutan di acara Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga di Tanjungwangi Water Park, Cicangkang Girang, Sindangkerta, Selasa (26/12/2023).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Stunting di KBB 20 persen. 3 teratas di Jawa Barat. Karena itu, ibu-ibu, jika ada PKH untuk ibu hamil, tolong gunakan untuk membeli makanan bergizi, susu, dan protein,” kata Kang Ace.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua DPD Partai Golkar KBB Dadan Supardan dan 400 KPM PKH dari Kecamatan Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga, KBB.

Kang Ace menyatakan, jika ingin program PKH terus berjalan, sudah seharusnya program PKH dimanfaatkan sesuai peruntukan.

Sebab, tujuan PKH adalah memastikan agar rakyat Indonesia, terutama yang berpenghasilan di bawah pendapatan rata-rata, agar dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Baca Juga:  Polemik Jelang Pilkada, Bupati Karawang Aep malah Melantik Sekda

“Masyarakatnya sehat, bisa sekolah dan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan fisik bisa hidup secara normal. Karena itu, program PKH untuk empat komponen,” ujar Kang Ace.

Menurutnya, Komponen pertama adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita agar terlepas dari masalah stunting. Komponen kedua, anak sekolah, lansia, dan disablitas.

Kang Ace juga menebutkan, masalah yang masih dihadapi Indonesia saat ini adalah stunting. Yaitu, gagal tumbuh kembang anak secara sempurna akibat kekurangan gizi dan nutrisi kronis. Anak yang terkena stunting memiliki fisik tidak sempurna dan IQ rendah.

Sehingga, anak tidak bisa menerima pengetahuan dan ilmu yang mungkin nanti masa depannya suram. “Karena itu, ibu-ibu hamil, menyusui, dan balita, harus dipastikan mendapatkan makanan bergizi. Tidak boleh lagi, ibu-ibu yang hamil lalu melahirkan anak stunting,” tutur dia.

“Tidak boleh lagi di Sindangkerta, Gununghalu, Rongga, ada anak yang tumbuh kembangnya tidak sempurna gara-gara kekurangan gizi. Terutama harus dihindari makanan yang tidak bergizi,” ucap Ketua DPD Partai Golkar Jabar ini.

Komponen kedua PKH, ujar wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) Jabar 2 Kabupaten Bandung-KBB ini, adalah bantuan pendidikan, SD, SMP, dan SMA, serta KIP Kuliah. Jadi, gunakan dana PKH untuk kebutuhan pendidikan sebagaimana mestinya.

Baca Juga:  Prihatin di Era Digitalisasi, Cabup Hengky Kurniawan siap Ramaikan Pasar Tradisional di KBB

“Beli tas, buku, seragam. Saya tidak ingin di kecamatan Rongga, Gununghalu, dan Sindangkerta, ada anak Indonesia yang seharusnya sekolah, tetapi putus sekolahnya. Saya tidak ingin di Indonesia ini buta huruf karena tidak sekolah,” ujar dia.

Ketiga, komponen lansia. Tidak boleh ada lansia, orang tua kita hidup telantar, apalagi kekurangan makanan. Keempat, komponen disabilitas. PKH diberikan untuk lansia dan disabilitas guna memastikan kebutuhan mereka terpenuhi dan hidup secara normal dan terlayani.

“Indonesia tidak akan maju jika, anak-anaknya masih stunting, kekurangan gizi, tidak memiliki kemampuan belajar yang baik. Karena itu, program PKH sengaja dianggarkan oleh Komisi VIII DPR untuk mengatasi masalah stunting, kesehatan, pendidikan, agar kesejahteraan masyarakat meningkat,” tutur Kang Ace.

Karena itu, Kang Ace sebagai wakil rakyat dari KBB, terlibat dalam merumuskan dan menganggarkan PKH sebesar Rp29 triliun. Tujuannya untuk masyarakat berpenghasilan rendah agar punya akses terhadap kesehatan, pendidikan, lansia, dan disabilitas hidup normal. Karena itu PKH harus digunakan sebaik-baiknya.

“Karena ibu-ibu harus bersyukur menerima PKH. PKH hanya digunakan oleh 10 juta keluarga dari 270 juta jiwa rakyat Indonesia. Saya tidak ingin di mana saya menjadi wakil rakyat tidak memanfaatkan PKH sebagaimana mestinya,” ucapnya.

Baca Juga:  Aksi brutal penganiayaan terhadap jurnalis, Pj Bupati Bandung Barat: segera ditindaklanjuti

Dalam kesempatan itu, Kang Ace mengingatkan kepada para KPM PKH untuk mencairkan dana sendiri. Tidak boleh diwakilkan oleh orang lain. Dana PKH langsung ditransfer kepada penerima.

Dia juga mendorong para KPM PKH kelak lepas dari program PKH. Karena itu, Kang Ace mendorong agar PKH juga memiliki komponen untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi. “Karena tidak selamanya kieu wae (sambil menunjukkan telapak tangan yang menengadah atau meminta). Tapi harus begini (tangan di atas atau memberi). Dengan cara apa? Usaha,” ujar Kang Ace.

  • Bahaya Pernikahan Dini

Dalam sambutannya, Tubagus Ace Hasan Syadzily juga menyinggung tentang bahaya pernikahan dini. Dia mengatakan, saat ini, berdasarkan ketentuan perundang-undangan (UU), tidak boleh lagi anak di bawah usia 18 tahun dinikahkan.

Karena, kata Kang Ace, pernikahan dini juga menjadi penyebab stunting anak yang dilahirkan. Sebab secara fisik, anak yang berusia di bawah 18 tahun, akan berdampak fisik dan psikologi terhadap anak yang dilahirkan. Dia tidak siap untuk berumah tangga. Yang terjadi, biasanya pernikahan dini gampang cerai.

“Punten di budaya masyarakat kita, pami tos janten jahe (janda herang), biasanya sudah tidak sekolah, rumah tangga gagal, anak telantar, dan akhirnya kembali ke lingkaran kemiskinan,” kata Kang Ace.



Berita Terkait

Respons Cepat Wabup Asep Ismail Soal Bocah 11 Tahun Diduga Makan Rumput di Bandung Barat
Kisah Bocah Makan Rumput di Bandung Barat Berbuah Harapan, Pengusaha Muda Hendrik Buka Jalan Hidup Baru
Momen Wabup Asep Ismail Naik Motor di Tengah Aksi Buruh KBB, Soroti Tuntutan Kesejahteraan Pekerja
Wabup Bandung Barat Asep Ismail Sampaikan Pesan Mendagri di Hari Otda 2026, Soroti Kinerja Daerah
Rumah Warga di Batujajar Bandung Barat Ambruk, Butuh Bantuan Pemerintah
Pemprov Jabar Salurkan Kompensasi Tahap Kedua untuk Warga Terdampak Normalisasi Situ Ciburuy
Desakan Warga Menguat, Satpol PP KBB Usulkan Putus Listrik Tower PT Protelindo Padalarang
Kecelakaan Truk vs Motor di Padalarang Berujung Maut, Polisi Turun Tangan

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 07:32 WIB

Respons Cepat Wabup Asep Ismail Soal Bocah 11 Tahun Diduga Makan Rumput di Bandung Barat

Selasa, 28 April 2026 - 02:57 WIB

Kisah Bocah Makan Rumput di Bandung Barat Berbuah Harapan, Pengusaha Muda Hendrik Buka Jalan Hidup Baru

Senin, 27 April 2026 - 12:15 WIB

Momen Wabup Asep Ismail Naik Motor di Tengah Aksi Buruh KBB, Soroti Tuntutan Kesejahteraan Pekerja

Senin, 27 April 2026 - 11:44 WIB

Wabup Bandung Barat Asep Ismail Sampaikan Pesan Mendagri di Hari Otda 2026, Soroti Kinerja Daerah

Jumat, 24 April 2026 - 23:10 WIB

Rumah Warga di Batujajar Bandung Barat Ambruk, Butuh Bantuan Pemerintah

Berita Terbaru