Bandung Barat | SekitarKita.id,- Asep Gunawan (38) Warga kampung Cilimus, RT02/RW01, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat (KBB) satu diantara ratusan warga yang terdampak bencana longsor dan banjir bandang, pada Minggu (24/03/2024). malam.
Asep mengatakan, saat kejadian, sekitar pukul 20.22 WIB, ia tengah melantunkan ayat suci Alquran usai shalat sunnah tarawih, tiba-tiba suara gemuruh air dari atas rumah terdengar kencang.
Mendengar hal itu, ia langsung bergegas keluar memastikan sumber suara, kaget bukan kepalang, ternyata lumpur membawa material dan kayu melintas didepan mata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya hujan deras beberapa jam, kejadian pastinya pukul 23.20 WIB, pas pulang shalat dan lagi ngaji suara gemuruh kenceng diluar rumah saya keluar ternyata air bawa lumpur depan rumah,” kata Asep saat ditemui SekitarKita.id, Senin (25/03/2024).
Ia menjelaskan, lumpur disertai material kayu yang terbawa arus menutup sebagian rumah hampir kurang lebih 2,5 meter dan merendam perobotan rumah tangga dan elektronik.
“Lama kelamaan lumpur yang masuk kerumah setinggi dada orang dewasa (2 meter lebih), dan merendam sebagian perabotan rumah tangga, alat elektronik pada rusak,” ujarnya.
Saat ini, kata dia, tumpukan lumpur dan material mulai dibersihkan secara manual, dibantu petugas dan warga sekitar. Kendati itu, pasca longsor menerjang wilayah tersebut, pihaknya berharap ada perbaikan saluran air yang hancur lululantak.
“Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sudah melakukan assessment. Udah di data sama BPBD KBB dan pemerintah setempat dari semalam, kalau bantuan belum dapet kami masih bertahan dirumah untuk beres-beres, saya berharap ada perbaikan bantaran sungai minimal di bronjong, apalagi jarak rumah dengan sungai kecil itu cuman 2 meter,” ujarnya.
Sementara itu, Ida Faridah (43) warga Kampung Gintung RT 03/10, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor KBB mengatakan, saat kejadian sempat mendengar 3 kali suara dentuman.
“Pas kejadian pertama suara dentuman pukul 20.21 WIB, lalu kedua suara terdengar pukul 21.25 WIB, dan yang terakhir pukul 23.25 WIB, langsung saya keluar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat keluar rumah ternyata air sudah menggenang sebagian rumah dan jalan bercampur lumpur, Ida tak sempat menyelamatkan barang berharga hanya membawa ke tiga anaknya menuju tempat yang lebih aman.
“Boro-boro bawa barang, enggak kepikiran masalah itu yang aku pikirkan anak-anak selamat, dan langsung ke balai Desa Cibenda di sini banyak warga yang mengungsi,” ujarnya.
Ia menyebut, pihaknya terpaksa melaksanakan kegiatan bulan puasa Ramadhan 2024 ini di tempat pengungsian bersama ratusan warga lain, pasalnya, tempat tinggal yang dihuni Ida bersama 3 anaknya itu belum dipastikan aman.
“Kami belum berani pulang ke rumah, sewaktu-waktu ditakutkan hujan kembali turun dan longsor susulan terjadi, dan ini puasa perdana dilokasi pengungsian,” jelasnya.
Dilokasi yang sama, Pemerintah Daerah (Pemda) KBB menyalurkan bantuan logistik bagi para korban bencana longsor di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terjadi pada Minggu 24 Maret 2024 malam.
“Hari ini kita bisa sampai ke titik bencana longsor di Kampung Gintung RT03/10, Desa Cibenda,” kata Pj Bupati Bandung Barat, Arsan Latif saat ditemui di lokasi, Senin 25 Maret 2024.
Arsan mengakui, pihaknya telah melakukan berbagai upaya bersama Kapolres Cimahi dan Dandim 06/09. Termasuk, melakukan pencarian korban yang masih tertimbun.
“Berdasarkan informasi ada 9 warga yang belum ditemukan. Namun, langkah pertama yang pasti dilakukan kita akan selamatkan dulu pengungsi,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya pun bakal mempersiapkan tempat dan fasilitas bagi para korban. Terutama, memprioritaskan kebutuhan dasar agar bisa terpenuhi semua.
“Terpenting, kita berikan trauma healing untuk menghilangkan trauma para korban akibat bencana longsor yang terjadi,” ujarnya.
Menurutnya, pihaknya telah mengintruksikan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bergerak menyiapkan semua kebutuhan para korban.
“Semua OPD terkait sudah bergerak semua, seperti tenda, tempat tidur, dapur dan semua kebutuhan-kebutuhan kita penuhi,” tuturnya.
“Karena hampir 400 warga yang terdampak atau sekitar 35 kepala keluarga,” ucapnya.
Pihaknya pun meminta hasil asesmen dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar bisa memastikan kebijakan yang bakal dilakukan.
“Kita tunggu hasil asesmen dari BNPB apakah warga terdampak nantinya akan direlokasi atau tidak,” ujarnya.
“Kita bakal terus bekerja dan melakukan pemantauan di lokasi bencana,” tandasnya.
Penulis : Abdul Kholilulloh
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan khusus








