SekitarKita.id – Lalu-lalang truk pengangkut tanah di RW 07, Kampung Ngamprah Landeuh, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memicu keresahan warga. Dugaan aktivitas pertambangan liar pun santer beredar di tengah masyarakat.
Namun, Ketua RW 07 Yusmery Azhary memberikan klarifikasi tegas. Menurutnya, apa yang terjadi di wilayah tersebut bukan kegiatan tambang ilegal, melainkan pengurugan lahan pribadi milik Haji Mustofa untuk pembangunan pondok pesantren.
“Saya luruskan, ini bukan tambang. Tanah yang dipindahkan adalah milik pribadi Pak Haji Mustofa, dan itu untuk pembangunan pesantren, bukan untuk dijual atau dikomersialkan,” tegas Yusmery saat diwawancarai media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sudah Disosialisasikan dan Didukung Tokoh Masyarakat
Yusmery menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah disampaikan terlebih dahulu kepada pihak RW dan para tokoh masyarakat satu minggu sebelum pelaksanaan.
Tak hanya itu, Haji Mustofa juga telah menyampaikan rencana untuk melakukan pengaspalan jalan sepanjang 200 meter yang dilalui truk sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
“Pak Haji bahkan akan hotmix jalan yang dilewati truk, sebagai bentuk perhatian dan niat baik untuk warga sekitar,” ujarnya.
Diketahui, Haji Mustofa bukan sosok baru dalam kegiatan sosial di RW 07. Ia diketahui telah mewakafkan tanah seluas 84 tumbak, termasuk untuk pemakaman umum dan balai RW, dengan nilai total mencapai lebih dari Rp 1,2 miliar.
Selain itu, ia juga turut membiayai pembangunan pagar, benteng, dan pengecoran halaman balai warga demi kenyamanan bersama.
“Semua pembangunan itu diperuntukkan untuk masyarakat. Tidak ada unsur bisnis sama sekali,” tambah Yusmery.
Tanah yang diangkut dari lokasi penggalian digunakan untuk meratakan lahan pesantren yang juga berada di atas tanah milik Haji Mustofa. Pembangunan ini ditujukan untuk kepentingan pendidikan dan kegiatan sosial keagamaan.
“Kami ingin masyarakat paham bahwa ini murni proyek sosial keagamaan, bukan aktivitas tambang apalagi ilegal,” tegas Ketua RW.
Yusmery berharap masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan dan bisa melihat niat baik di balik kegiatan tersebut.
“Kami harap masyarakat bisa melihat dari sisi manfaat jangka panjangnya. Pembangunan pesantren ini adalah untuk generasi penerus kita,” tutupnya.








