SEKITARKITA.id- Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Jawa Barat 2, Dr. H. Dadang M Naser, menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.
Kegiatan tersebut berlangsung di wisata edukasi pertanian Mencrang, Jl Raya Sinar Mukti, Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada 13 Mei 2025.
Dalam kesempatan itu, hadir puluhan masyarakat dari berbagai elemen termasuk tokoh masyarakat, Anggota DPRD KBB, Dinas Koperasi dan UMK KBB, serta Kepala Desa Batujajar Barat dan kolega.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penjelasannya, Dadang Naser menjelaskan mengenai nilai-nilai kebangsaan melalui empat pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
Menurutnya, segenap komponen stakeholders bangsa harus senantiasa menggelorakan rasa kebangsaan. Semangat dan paham kebangsaan, lanjut Dadang Naser, sebagai suatu terapi ideologis bagi upaya pembentukan tekad, sikap dan tindakan. Hal itu untuk menjamin tetap tegak dan lestarinya NKRI.
“Selain sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila juga menjadi sumber dari segala sumber hukum. Hal itu mengamanatkan Pancasila adalah inti terdalam yang menjadi sumber penyusunan semua produk hukum. Sehingga, semua peraturan perundang-undangan harus selaras, tunduk, dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Dadang Naser melanjutkan, sosialisasi empat pilar kebangsaan merupakan program pemerintah yang cukup penting. Hal itu karena berperan membangun kesadaran setiap warga negara untuk berbangsa dan memegang teguh ideologi negara.
“Sebagai wakil rakyat juga tidak boleh luput untuk mengedepankan aspirasi masyarakat,” ujarnya.
“Menanamkan nilai-nilai nasionalisme tidak bisa ditunda,” ujar Dr. Dadang Naser. “NKRI adalah harga mati, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika harus dihayati dalam tindakan nyata, bukan sekadar semboyan,” sambungnya.
Ia juga menyoroti filosofi Sabilulungan dari masyarakat Sunda, yaitu semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi dasar untuk membangun daerah dan bangsa secara kolektif.
Kolaborasi 5 Pentahelix: Solusi Ekonomi Berbasis Konstitusi
Dr. Dadang mengajak seluruh komponen masyarakat—akademisi, pelaku bisnis, komunitas, birokrasi, dan media—untuk terlibat dalam kolaborasi membangun ekonomi bangsa. Ia menekankan perlunya kolaborasi Pentahelix sebagai solusi terhadap tantangan ekonomi global.
Mengacu pada Pasal 33 UUD 1945, Dr. Dadang mengingatkan bahwa sistem ekonomi Indonesia harus berasaskan kekeluargaan dan dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan dikuasai oleh segelintir pihak.
“Tanah dan air dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” jelasnya.
Tantangan Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Dalam keterangan, Dr. Dadang menyoroti ironi yang terjadi di negeri yang sangat subur namun masih bergantung pada impor pangan seperti beras, anggur, dan jeruk.
“Indonesia adalah negara agraris, tapi masih banyak kebutuhan pokok yang diimpor. Ini harus menjadi koreksi nasional,” tegasnya.
Ia mendorong penguatan sektor pertanian, perikanan, dan koperasi lokal, khususnya Koperasi Merah Putih sebagai wujud nyata dari ekonomi kerakyatan berbasis UUD 1945.
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Dr. Dadang menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter melalui seni, budaya, dan sejarah di sekolah.
“Seni budaya harus masuk ke sekolah-sekolah, terutama SMK dan sekolah seni. Kita perlu membentuk generasi yang paham akar budaya dan memiliki integritas nasional,” paparnya.
Ia juga menyarankan agar kurikulum pendidikan Indonesia menggabungkan pelajaran-pelajaran penting seperti Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika sebagai dasar dari kemajuan ilmu pengetahuan serta penguatan identitas nasional.
Inovasi Daerah dan Wisata Edukasi
Selain itu, ia mendorong pengembangan wisata edukasi berbasis pertanian dan perikanan sebagai bentuk inovasi daerah.
Potensi lokal yang dikembangkan secara optimal akan membuka banyak peluang ekonomi di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Dr. H. Dadang Naser menutup dengan pesan bahwa membangun bangsa tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kebersamaan, gotong royong, dan semangat Sabilulungan untuk mengatasi tantangan bangsa.
“Kita harus kembali ke jati diri bangsa, memperkuat Pancasila, dan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi untuk Indonesia yang lebih maju dan sejahtera,” tandasnya.
Editor : Abdul Kholilulloh
Sumber Berita : Liputan








