Saat Saya Tahu Pernikahan Heteroseksual Saya Ditakdirkan untuk Gagal

- Penulis

Jumat, 14 Juni 2024 - 23:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat Saya Tahu Pernikahan Heteroseksual Saya Ditakdirkan untuk Gagal

[ad_1]

Air mata mulai mengalir begitu ayah tiriku serta aku mulai berjalan menyusuri lorong tengah kapel. Gaun renda putih bersihku terasa gatal serta kencang di leherku. Aku sepertinya tidak percaya apakah kerah bajuku yang tinggi atau gumpalan yang terbentuk di tenggorokanku yang menghalangi pasokan udara.

Berjalan menyusuri karpet merah tua, samar-samar aku ingat perasaan bangga bahwa gaun putihku yaitu simbol sejati dari standing perawanku, sebuah pencapaian langka yang dilakukan oleh seorang wanita berusia dua puluh lima tahun. Pikiranku menjadi liar, serta jantungku berdebar kencang saat aku menggenggam lengan ayah tiriku minim lebih erat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Begitu air mataku mulai mengalir, tak ada yang dapat menghentikannya, serta tersebut membuatku malu. Aku bukan tipe orang yang menangis di depan teman-temanku, apalagi ratusan orang yang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan kami. Saat kami berjalan menyusuri lorong, saya lihat mantan tunangan saya, Jack, dalam perjalanan kerumunan serta bertanya-tanya bagaimana saya dapat lolos dari pernikahan sekali saja, hanya untuk menemukan diri saya mengenakan gaun pengantin, berjalan menuju masa depan yang sepertinya tidak saya inginkan.

Upacara pernikahan direncanakan dengan cermat serta meliputi banyak sekali musik, dua pendeta, serta sebagian besar teman saya. Mengucapkan sumpah yang kami tulis untuk satu sama lain menyakitkan secara fisik bagi saya. Sulit untuk berbicara dengan menggunakan air mataku, serta aku bertanya-tanya apakah semua orang bisa mengalami bahwa aku mengkhianati diriku sendiri dengan setiap kata-kataku.

Calon suami saya bersumpah untuk menjadi “Tuan. Percintaan.” Bahkan saat dia mengucapkan kata-kata tersebut, aku tahu kecil harapannya dia akan menepati sumpahnya. Dalam perjalanan-tengah janjiku kepadanya, aku menangis begitu keras sampai salah satu pendeta menukar tisu basahku dengan segumpal tisu baru, lalu memasukkan tisu basah tersebut ke dalam saku jasnya.

Di akhir kebaktian emosional kami di kapel kuno Universitas Puget Sound di pinggir kampus, kami melakukan tos sebelum berjalan bergandengan tangan menyusuri lorong diiringi suara musik resesi yang penuh kemenangan. Untuk sesaat, aku merasa lega semuanya sudah berakhir.

Tetapi saat kami berjalan melewati pintu kapel menuju serambi, kata-kata, “Apa yang baru saja kulakukan?” bergema di kepalaku. Ini bukan apa yang diharapkan seseorang setelah pernikahan mereka, serta saya khawatir saya akan mengatakannya dengan lantang.

Sepertinya tidak lihat ekspresi terkejut di wajah suami baruku, aku melakukan yang kualitas terbaik untuk menghilangkan pikiran tersebut dari benakku saat kami menandatangani surat nikah serta menuju ke resepsi.

Mengingat kembali hari tersebut hampir empat puluh tahun silam, saya bertanya-tanya apakah saya secara sepertinya tidak sadar mengetahui pernikahan saya akan gagal. Air mata saya yaitu bukti matinya impian saya untuk merasakan cinta sesama jenis yang saya impikan semasih lebih dari satu dekade.

Pernikahan sesama jenis baru dilegalkan semasih tiga puluh tahun ke depan, serta saya belum pernah bertemu dengan pasangan lesbian atau homosexual, jadi tidak ada lagi contoh kehidupan seperti apa yang saya dambakan. Yang saya tahu hanyalah bahwa saya sangat ingin bersamaan seorang wanita namun sepertinya tidak lihat jalan yang jelas untuk mewujudkannya.

Baca Juga:  5 Jenis Pujian yang Melelehkan Hati Pria

Saya sepertinya tidak bisa membayangkan melakukan sesuatu secara dengan cara yang berbeda dari yang saya lakukan. Meski demikian aku mengharapkan aku punya keberanian untuk menjadi wanita aneh yang terkubur jauh di dalam diriku, sejujurnya aku menyampaikan bahwa aku sepertinya tidak tahu caranya. Saya tahu saya menginginkan anak, serta satu-satunya langkah logis tampaknya yaitu pernikahan tradisional.

Hubunganku dengan Jack, tunangan pertamaku, sangat emosional. Meski aku percaya dia mencintaiku, aku merasa dikendalikan olehnya serta mendapati dia terus menerus kali melampaui batasanku, terutama secara fisik. Selagi pertunangan singkat kami, saya mulai merasakan migrain yang melemahkan, serta dalam hal apa pun saya membebaskan diri, memberikan kembali cincin berlian untuk memastikan dia tahu keputusan saya sudah ultimate.

Pria yang kelak menjadi suamiku merasa aman. Dia baik namun sepertinya tidak terikat serta sepertinya tidak emosional, membuatku merasa bebas dari ekspektasi untuk bertingkah seperti gadis yang sedang saling mencinta. Dia pria yang baik, serta kupikir kami dapat membesarkan beberapa anak bersama-sama tanpa harus segera terikat secara emosional, serta sebagai seorang lesbian yang tertutup, hal tersebut berhasil bagiku.

TERKAIT: Keluar Pada Usia 50 Secara Dramatis Menyembuhkan Sakit Kronis Saya

Rahasia

Bahkan ketika saya masih anak-anak berumur sepuluh atau sebelas tahun, saya tahu saya dengan cara yang berbeda dari teman-teman saya. Aku sepertinya tidak ingin Pangeran Tampan membuatku terpesona, serta aku merasa sepertinya tidak pada tempatnya ketika teman-temanku membicarakan pria yang mereka sukai. Saat remaja, saya mencuri majalah Playboy milik saudara laki-laki saya yang nyaris sepertinya tidak disembunyikan memeriksanya wanita telanjang di halaman mengkilapnya.

Di perguruan tinggi, ketertarikanku pada perempuan terus berlanjut, tapi di akhir tahun 70an, 'keluar' sepertinya tidak diterima, jadi aku mendatanya perasaanku untuk diriku sendiri. Selagi tahun terakhir kuliahku, aku terlibat dengan salah satu dari banyak sekali kelompok Kristen di kampus serta dengan senang hati mengabdikan hidupku kepada Tuhan. Pada titik tertentu, saya secara sadar membuat keputusan untuk menikah dengan pria Kristen yang baik.

Juga itulah bagaimana saya mendapati diri saya mengenakan gaun putih berenda di dalam Kapel kuno pada cepat atau lambat yang cerah di bulan Juni tahun 1984.

@alysonstoner

Saya pikir banyak sekali orang berasumsi bahwa orang-orang yang mendekonstruksi iman mereka mempunyai 100% pandangan negatif terhadap gereja setelahnya, serta secara realistis, banyak sekali dari kita hanya mencari tau pemahaman yang lebih terintegrasi serta luas dibandingkan dengan pandangan yang sebelumnya sempit. Pandangan yang menarik: kadang-kadang pada nyatanya yaitu keputusan *iman* untuk mengungkap pandangan dunia dengan begitu Anda bisa terlibat dengan Yang Ilahi secara lebih penuh. Berbagi beberapa percakapan mentah serta mendalam dengan @charlottedalessio di podcastnya. Episode sudah keluar sekarang! Teks alternatif: Alyson kumpul di sebuah ruangan di settee putih, mengenakan jumpsuit jean, tepat di seberang Charlotte kumpul di kursi, mengenakan denims serta kemeja kamuflase lengan panjang.

♬ suara asli – AlysonStoner

Kekristenan bertindak sebagai penyangga bagi kecenderungan saya terhadap sesama jenis. Persekutuan kampus kami menghargai kemurnian sebelum menikah, yang merupakan nilai baik yang harus segera dijunjung tinggi oleh gadis sepertiku. Saya ingat menyampaikan kepada calon suami saya bahwa saya bahkan sepertinya tidak akan mencium seorang pria hingga saya bertunangan, apalagi tetap berhubungan seks sebelum malam pernikahan saya. Ketika saya mengingat kembali pernikahan saya, mudah untuk memahami kurangnya emosi serta hubungan di antara kami.

Baca Juga:  3 Kebiasaan Sehari-hari Orang Dengan IQ Hubungan Tinggi | Steve Tucker

Bahkan pertunangan kami lebih merupakan perjanjian bisnis. Kami berdua menghadapi perubahan hidup: dia lulus kuliah, serta saya berencana menjadi misionaris. Kami membuat keputusan bahwa sebab dia serta tertarik dengan misi, masuk akal jika kami menuju ke arah tersebut bersama-sama.

Tidak ada lagi lamaran, tidak ada lagi momen lutut tertekuk yang romantis. Kami memutuskan untuk menikah, berbelanja cincin, menetapkan tanggal, merencanakan pernikahan, serta berangkat untuk antar-jemput misi jangka pendek beberapa minggu setelah bulan madu kami.

Saya bekerja untuk menjadi istri yang puas serta baik semasih bertahun-tahun. Kami berjuang untuk terhubung secara mendalam, kami berdua merupakan hasil dari latar belakang kami yang sepertinya tidak berfungsi. Kami sangat terlibat dalam gereja kami serta, dari luar ruangan, kami memberi kesan sedang melakukan masalah bersamaan. Tetapi kenyataannya, kami seperti dua tanda sejajar yang rupanya sepertinya tidak dapat saling melengkung.

TERKAIT: Apa Tersebut Disforia Gender & Bagaimana Pengaruhnya terhadap Orang yang — serta Bukan — Transgender?

Penderitaan

Di kemudian hari dalam pernikahan kami, setelah tiga anak serta pindah lintas negara ke Pacific Northwest, keadaan berubah dari netral menjadi tegang. Saya berjuang melawan sakit kronis yang parah serta terus menerus menderita migrain. Berhari-hari, saya sepertinya tidak dapat melakukan apa pun selain beristirahat di settee.

Dengan bantuan beberapa operasi serta protokol perawatan yang ketat, saya dapat dapatkan kekuatan serta mobilitas. Tetapi ketika saya pulih secara fisik, pernikahan saya hancur secara emosional. Suami saya yaitu orang yang jauh serta dingin, juga tidak ada dorongan dari saya yang membuat perbedaan.

Kami mencoba konseling pernikahan, serta hasilnya sangat buruk. Terapis memberi kami tugas setiap minggu, serta suami saya menolak melakukan bagiannya. Ketika saya putus asa, dia menatap mata saya serta menyampaikan bahwa dia sepertinya tidak akan pernah menjadi suami seperti yang saya inginkan serta saya harus segera 'melupakannya'.

Awalnya, aku berperan sebagai seorang martir, terus menerus berkata aku untuk membuat pilihan sengsara demi anak-anakku mempunyai rumah yang stabil. Kemudian, emosi saya menurun. Berat badan saya mulai turun secara sepertinya tidak bisa dijelaskan sampai tulang rusuk saya terlihat di bawah kulit. Depresi serta keputusasaan menyelimuti saya seperti mantel musim dingin dalam perjalanan badai salju.

Baca Juga:  Garis Anda Membutuhkan Konseling Pasangan | Debra Smouse

Selagi berbulan-bulan, saya berada di tempat yang gelap, serta dalam hal apa pun, saya membuat kemudahan untuk bunuh diri. Kali kedua saya mendapati diri saya tergeletak di lantai ruang lemari pakaian saya, sambil memegang sebotol penyembuh tidur, saya tahu terdapat sesuatu yang perlu diubah.

Dalam momen yang jelas, saya lihat bahwa saya mempunyai kekuatan untuk membebaskan diri dari pernikahan saya. Menyadari bahwa saya memegang pena yang akan menulis sisa kisah hidup saya sungguh mencerahkan. Juga kemudian, yang tidak masuk akal terjadi yang mengubah hidup saya secara dramatis. Saya mulai bekerja di sekelompok klinik terapi fisik, serta dalam prosesnya, saya bertemu dengan seorang wanita yang membuat saya terpesona.

Dia yaitu wanita impianku.

TERKAIT: Saya Mewujudkan Pasangan Impian Saya – Juga Pada akhirnya Meninggalkan Suami Saya Demi Dia

Ekstasi

Ketika saya bertemu calon istri saya, entah kenapa saya tertarik padanya melalui yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Setelah menyembunyikan seksualitas saya semasih empat dekade, saya sepertinya tidak siap menghadapi emosi tinggi yang saya alami.

Saya Tahu Pernikahan Heteroseksual Saya Ditakdirkan untuk Gagal Supamotionstock.com / Shutterstock

Sekaligus, hal tersebut membebaskan serta memabukkan. Untuk pertama kalinya, saya membiarkan diri saya membayangkan seperti apa kehidupan yang bahagia. Saya hanya ingin terjun ke dalam air hangat ketertarikan sesama jenis yang saya rasakan padanya. Saya sepertinya tidak ingin mencelupkan kaki saya ke dalam kolam tersebut; Saya ingin tenggelam.

Kami sudah bersamaan semasih sekitar lima belas tahun, serta tentu saja, tersebut yaitu tahun-tahun kualitas terbaik dalam hidup saya. Meski demikian mungkin saja sulit dipercaya, bersamaan dengan istri saya telah melampaui semua fantasi yang saya miliki. Kenyataan cinta kami telah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku.

Lihat ke belakang, saya sedih sebab saya menghabiskan dua puluh lima tahun dalam pernikahan yang sebagian besar sepertinya tidak memuaskan, serta saya percaya mantan suami saya menyesal. Tetapi saya sepertinya tidak akan menukarnya bahkan jika diberi kesempatan sebab saya memiliki hak istimewa untuk membesarkan tiga anak luar biasa yang diciptakan dalam persatuan kami yang bernasib buruk.

Hidup kita terdiri dari serangkaian keputusan serta pengalaman, beberapa di antaranya kita pilih serta yang lain dipaksakan kepada kita. Meski demikian saya sepertinya tidak yakin bahwa kita yaitu hasil dari pilihan-pilihan kita, saya bersyukur menjadi wanita seperti saya sebab pengalaman-pengalaman tersebut.

TERKAIT: Terbelah Antara Dua Dunia: Bagaimana Sepertinya Menjadi Seorang Lesbian Mormon

Kim Kelly Stamp (dia) yaitu seorang penulis serta pembicara yang menulis tentang keaslian, pensiun, hubungan, serta kehidupan di jalan.



[ad_2]

Sumber: yourtango



Berita Terkait

Saya Bertanya kepada Para Biarawati Selibat Tentang Cinta – Dan Apa yang Mereka Ajarkan kepada Saya Sangat Romantis
Di Usia Ini, Dengan jumlah besar Wanita Diam-diam Mulai Bertanya-tanya Apakah Mereka Menikah dengan Orang yang Tepat
Sebelum Anda Jatuh, Tanyakan padanya 10 Pertanyaan Sederhana Tentang Komitmen
Wanita yang Mendambakan Pernikahan Seumur Hidup Dengan Pria Idaman, Tanyakan Pada Diri Sendiri 4 Pertanyaan Ini Dulu | Teresa Maples-Zuvela
Seni Penerimaan: 10 Hal Sederhana yang Dilakukan Wanita Cerdas Agar Pasangannya Berubah
Andai Pria Tak Menghargai Wanita yang Diaku Cintai, Dia Akan Tunjukkan 11 Tanda Kecil Ini | Richard Drobnick
Pria yang Masih Memuja Istrinya Setelah Bertahun-Tahun Selalu Melakukan 11 Hal Biasa Ini Yang Berarti Segalanya
The Artwork Of Enchantment: 16 Faktor Tak Terlihat yang Menyatukan Dua Orang

Berita Terkait

Minggu, 9 November 2025 - 21:20 WIB

Saya Bertanya kepada Para Biarawati Selibat Tentang Cinta – Dan Apa yang Mereka Ajarkan kepada Saya Sangat Romantis

Jumat, 7 November 2025 - 21:18 WIB

Di Usia Ini, Dengan jumlah besar Wanita Diam-diam Mulai Bertanya-tanya Apakah Mereka Menikah dengan Orang yang Tepat

Rabu, 5 November 2025 - 21:16 WIB

Sebelum Anda Jatuh, Tanyakan padanya 10 Pertanyaan Sederhana Tentang Komitmen

Selasa, 4 November 2025 - 21:16 WIB

Wanita yang Mendambakan Pernikahan Seumur Hidup Dengan Pria Idaman, Tanyakan Pada Diri Sendiri 4 Pertanyaan Ini Dulu | Teresa Maples-Zuvela

Minggu, 2 November 2025 - 21:14 WIB

Seni Penerimaan: 10 Hal Sederhana yang Dilakukan Wanita Cerdas Agar Pasangannya Berubah

Berita Terbaru